Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

[Review Novel] RAPUH: Ketika bohong yang justru dipercaya

Gambar
Penulis: Dodi Prananda Penerbit: Wahyu Media Tahun terbit: 2013 Jumlah halaman: 168 halaman    Ada kebohongan dan kejujuran yang senantiasa mengelilingi kita. Begitu indahnya sehingga kita tak tahu mana lagi batasan jelasnya. Antara diterima atau ditolak, semua abu-abu. Ada skenario di antara sandiwara. Semua yang kita lihat dengan mata kepala sendiri, justru tidak pernah mencapai realita sesungguhnya. Ada skenario dan ada sandiwara. Skandal. Aku rapuh untuk menyadari semuanya. Aku terlanjur masuk ke dalam permainan ini. Sekarang hanya tinggal aku, menyelamatkan diri atau menjadi aktor yang akan menyelesaikan skenario ini. Tentu, dengan lebih banyak intrik atau justru bohong yang dipercaya.   "Ada realita yang luput dalam keseharian kita dan tergambar jelas dalam Rapuh. Gaya bertutur tokoh utama membawa kita mendengar lebih jelas. Bukan hanya apa yang ada dalam pikiran-pikirannya, tapi sesuatu yang lebih jujur dari hati." -Robin Wijaya-     ...

AKU

Aku menangis agar aku tertawa Aku jatuh agar aku mampu bangkit kembali Aku sedih agar aku bisa menyambut bahagia esok hari Aku menerima gagal agar aku berhasil Aku mencecap pahit agar aku merasakan manis Aku berjalan mundur agar aku bisa maju Aku berhenti agar aku bisa memulai Aku diam agar aku bisa bergerak Aku pergi agar aku bisa pulang Aku mendengar agar aku mampu berbicara Aku terpejam agar aku mampu melihat Aku membenci agar aku bisa mencinta Aku melakukan sesuatu agar aku bisa melakukan sesuatu yang lain Ya, itu aku.

Secangkir Rindu Malam Ini

Kopi malam ini pahit, ya? Padahal aku sudah menambahkan susu secukupnya Layaknya rindu Aku menakarnya dengan baik, tapi rasanya tetap... pedih Aku merindu tanpa bisa merapalkannya Semuanya terselip rapi dalam bait- bait kata Ya, aku merindu dengan puisi Mencipta ketenangan untuk diriku sendiri Setidaknya agar rindu ini tak meluber Aku merindu tanpa mencari penawarnya Biarkan ia mengakar dan mencabik relung hati ini Sakit memang, tapi adakah hal pahit semanis rindu yang lain? Aku merindu tanpa menanti jawaban Kau tahu sendiri kan aku paling benci menunggu? Rindu ini tanpa tanda tanya yang mengiringinya Tanya apakah kau miliki rindu yang sama di sana Kau tahu pedihnya seperti apa? Seakan aku adalah kuncup kelopak yang mencoba mekar, tapi sebongkah batu meniban tubuhku Aku ingin berteriak Bibirku bergeming, tetap terkatup Kalau masalah rindu, ia akan bisu Biarkan hati yang berbisik Rindu ini, bagiannya Bait- bait ini ditulis ke...

Si 'Nampan' Merana dan Tuannya

                Jemari buntal itu terus menari di atas tubuh persegi dan rampingku. Matanya melotot, tak mengedip sedikit pun, seakan takut kehilangan diriku. Beberapa kali ia mengayun tubuhku ke kanan, lalu ke kiri, membuatku terengah- engah. Kalau tubuhku mengeluarkan bunyi ramai, ia akan berteriak kegirangan, oke, lebih tepatnya kesetanan. Ingin rasanya aku kabur dari ruangan berantakan yang lebih pantas disebut pasar basah itu, pergi dari jeratan si anak buntal. Pakaian kotor dan sampah bekas makanan menyatu tak karuan di kamar kecilnya. Ayolah, anak itu masih punya sepasang tangan dan kaki yang masih berfungsi, tapi ia sama sekali tidak berniat untuk membereskan kamarnya.                 Segala yang ia lakukan kepadaku selalu membuatku sakit. Sebelum anak buntal itu membawaku, waktu aku masih berbaring di balik kaca bening bersama saudaraku yang lain, sepertiny...

Ini Tentang Hidup

Gambar
Teringat pembicaraan dengan teman- teman beberapa bulan lalu. Waktu itu kami sedang berkumpul. Kami yang tertinggal. Kami yang terjebak dalam kegagalan. Kami yang masih berdiri di tempat yang sama, bahkan berjalan mundur, di saat yang lain sudah lebih dulu berlari. Awalnya kami menyesal atas kesalahan di masa lalu. Kenapa semuanya tidak kami lakukan dengan baik sejak awal? Ya, penyesalan selalu di akhir bukan? Lalu apa lantas kami sekadar menyesal tanpa melakukan apa- apa? Kami pun berpikir. Tidak, Tuhan sama sekali tidak memberi kami kegagalan. Tuhan memberikan hal yang jauh lebih indah. Tuhan memberi kami waktu. Kami memang tertinggal jauh. Jauh sekali. Tapi, Ia memberi kami hal yang tidak Ia berikan kepada yang lain. Di saat yang lain sibuk berlari dan menggapai, Ia memberi kami waktu lebih. Waktu untuk beristirahat, waktu untuk menyesal, waktu untuk berpikir, dan waktu untuk mengulang semuanya dari awal. Hingga pada saat yang lain mulai kelelahan, kami yang diberi waktu...

Dream.

"When a person really desires something, all the universe conspires to help that person to realize his dream." The Alchemist- Paulo Coelho

Pertanyaan di Kereta

Sesaat setelah petugas informasi mengumumkan kedatangan kereta, aku segera berdiri di bibir peron. Pandanganku melahap sekitar stasiun yang sepi. Hanya kutemukan seorang pria paruh baya, seorang ibu dan dua anaknya yang merengek minta cepat pulang, seorang remaja putri yang sibuk dengan ponselnya, dan dua orang remaja putra yang tampak seumuranku baru masuk peron dengan ransel besar di punggung masing- masing. Ada apa ini? Mungkin barusan ada angin puting beliung yang tiba- tiba menyapu seluruh warga Indonesia dan hanya menyisakan segelintir orang. Ya, mungkin. Kereta yang baru datang menyuguhkan satu pintu tepat di depanku. Dinginnya pendingin ruangan langsung menyergap saat aku memasuki kereta yang juga lengang. Diam- diam aku menyetujui teori puting beliungku tadi. Kurogoh tasku dan mengeluarkan koran harian yang kubeli tadi saat berangkat ke kampus. Mumpung sepi, aku menyelonjorkan kaki, lumayan untuk melepas lelah. "Boleh ikut baca?" seseorang menepuk bahuku. Aku me...

BABEL: Mengarungi Tiga Benua hanya dengan menonton film!

Gambar
Tes. Tes 1.2.3 Baru selesai semedi nih hehehe (alasan basi buat nggak nge- blog) Merasa nggak bertanggung jawab banget sama blog ini T_T Bingung sih mau isi apa ya *plak Sekarang mau review aja deh. Belum ada kan ya lembar review di blog amatir ini. Oke sip. Jadi, beberapa hari lalu aku abis nonton film keren banget! Banget pokoknya banget. Tiba- tiba langsung ada setruman gitu buat berbagi sama orang- orang. Langsung deh aku googling  tentang film ini. Dan... Guess what?! Di web- web rating  film seperti Imbd dll film ini berhasil mendapat Four stars, pokoknya paling kecil dapet tiga bintang deh. Film yang disutradai Alejandro Gonzales Inarritu  ini udah lama banget, sekitar tahun 2006. Yang unik, film ini menyorot empat tokoh dengan latar dan masalah berbeda, dua tokoh beda di Maroko, satu tokoh di Jepang, dan yang lainnya di Meksiko. Otomatis dalam film ini menggunakan bahasa yang berbeda- beda, bahasa Inggris, Jepang, Arab Maroko, dan Spanyol. Film ini berawa...

Heartquake (#FiksiLaguku part 2)

Gambar
"Satria jadian sama Jenna." Deg. Oksigen di sekelilingku seketika lenyap. "Lo nggak pa- pa, Met?" Tyas menatapku cemas. Aku menggurat senyum, menunjukkan aku baik- baik saja. Tapi siapa pun yang melihatnya, pasti tahu gadis pemilik senyum ini sedang patah hati. Aku mencintai Satria. Sementara Jenna adalah bank berjalan setiap kali aku ingin setor cerita tentang lelaki itu. Aku bertemu Satria, aku disenyumi Satria, kepada Jenna aku bercerita semuanya. Terik matahari siang ini menusuk. Sampai ke hati. Panasnya benar- benar menyelusup dada, membakar luka yang semakin berongga. Tanpa mampu kutahan, gelombang air mataku liar mendobrak dinding yang kubangun. Lelehannya membawa perih yang tertahan sedari tadi. Susah payah aku mengurut dadaku yang kosong tanpa udara. Kupercepat langkahku menyusuri gang kecil ini. Aku ingin cepat pulang. Inspired by No Air- Jordin Spark

Beda

Aku dan kamu itu berbeda. Bahkan di detik ini tampak jelas apa yang tidak kumiliki yang aku tahu itu menjadi sesuatu yang kamu cari. Kamu ke kanan. Aku ke kiri. Kamu genggam A. Kugenggam Z. Beda. Jauh. Lalu bagaimana aku dan kamu akan bertemu? Harapku kita bertemu. Tapi harapmu, siapa yang tahu? Aku bertanya, sudah pantaskah aku? Akankah suatu hari kutemukan titik temu untuk kita? Adakah persimpangan di depan sana?

Dengarkan Aku

"Ta, dengarkan aku!" "Apa?" "......" "Mau bicara tidak?" "Iya, mau." "Apa?" "......" "Sudahlah, aku harus pulang." "Jangan pergi, Ta." "Aku mau pulang. Banyak PR." "Tunggu." "Apa lagi?" "Dengarkan aku." "Telingaku dua tidak tertutup. Aku mendengarkan tapi kamu tidak juga bicara." "Jangan pergi dulu." "Aku kesal kamu tidak bicara." "Iya sekarang aku bicara." "Apa?" "......" "Aku tidak peduli." "Ta! Jangan pergi." "Aku pergi." "......" "Ta, aku mencintaimu."

Insomnia

#FiksiLaguku Telunjukku menyusuri sulur perak yang menghiasi permukaan radio lalu merambat ke tombol- tombolnya yang berjejer di bagian bawah. Aku terus bolak- balik tidur, bangun, tidur. Bimbang. Apakah harus kutekan tombol play untuk memutar sebongkah kaset yang aku tidak tahu apa isinya. Sebelum ke Rusia tahun lalu, Avan memberikan kaset itu padaku. Sampai sekarang aku belum memutarnya. Aku takut akan merindukannya, itu saja. Pukul satu dini hari. Kaset dalam rongga radio masih bergeming. Gila. Tidak seharusnya aku begini. Segera kurebahkan tubuh di kasur lalu menarik selimut. Mataku terpejam. Beberapa jenak terbuka kembali. Percuma. Kantuk belum mengunjungiku. Dering ponsel mengagetkanku. Kutekan tombol hijau di permukaannya. “Rania? Kau belum tidur?” Suara itu.  Aku sadar, +7 mengawali nomor sang penelepon. Aku merindukannya. Inspired by “Craig David- Insomnia”

Aku Bisa kan?

#FiksiFilmku      Mataku nyalang menatap layar sepuluh inci di hadapanku. Layar itu berubah gelap, membuatku harus mengusap permukaannya lagi sehingga ia kembali terang. Gelap lagi, kuusap, kembali terang. Terulang begitu seterusnya. Beberapa saat. Ya, aku butuh beberapa saat untuk memahami apa yang tertera di sana. Satu tahun usaha dan kerja kerasku. Ini hasil yang kudapatkan? Sungguh? Bulan satu tahun lalu... “Kalau tidak bisa ya tidak usah dipaksakan.” “Aku bisa, Ma.” “Tapi buktinya kamu nggak bisa. Nilai tryout kamu segitu.” Aku melengos. Tiba- tiba nasi campur ayam bakar di mulutku terasa hambar.Ingin rasanya pergi meninggalkan meja makan dengan atmosfer pekat ini, tapi Papa pasti akan marah. “Tryout itu cuman percobaan.” sanggahku. “Tapi itu menunjukkan kalau kedepannya kamu gimana.” “Aku bisa, Ma. Aku bisa.” aku berusaha menyelusupkan sugesti ke dalam benakku, mendengarkan ucapan Mama bisa membuat semangatku luruh. Aku memutar bola mata, ger...

Memori

Menyesap harum tanah yang tertumbuk curahan hujan Menagih memori yang sempat tertinggal di masa lalu.

Senyum Untuk Nina

Tuk. Tuk. Tuk.  Sepatu Nina terus beradu dengan tanah tempatnya berpijak. Sesekali cewek itu melirik jam tangannya. Sejak satu jam yang lalu ia berdiri di sana, menunggu Gias. Sore ini cowok itu berjanji untuk menjemputnya di tempat les. Tapi sampai sekarang ia belum juga tampak batang hidungnya.   Guratan jingga di langit mulai pekat. Suara guntur di ujung langit membuat bulu kuduk Nina berdiri. Sebentar lagi pasti hujan.  Benar saja. Tidak sampai lima menit setelah praduga Nina, jarum- jarum air mulai turun dari langit. Nina mendekatkan dirinya ke dinding bangunan tempatnya berdiri, menghindari hujan. Dingin yang mulai menusuk membuat cewek itu merapatkan cardigan yang ia kenakan. Gias... Lo kemana sih.   Malam dan hujan. Nina membenci keduanya. Bodohnya, ia tidak pernah membawa payung atau pun jas hujan setiap kali pergi ke suatu tempat. Karena ia tahu, cowok itu pasti akan menjemputnya.  Gelap semakin pekat dan hujan tak juga berhenti. Nina terus menerus ...

Boleh kan?

Aku melihatmu. Lagi. Kamu. Dengan membawa sekeranjang masa lalu. Dulu. Aku membenci caramu yang seperti itu. Tapi aku tahu. Aku membutuhkannya. Semua masa lalu itu. Aku akui merekalah yang membuatku bisa berdiri sampai saat ini. Bawakan aku semuanya. Sekarang. Aku akan menghargai caramu itu. Jadi aku bertanya padamu. Bolehkah aku menyimpanmu di sini? Di otakku. Di hatiku. Bersama masa lalu yang kamu bawakan padaku. Tak kan lagi kumemaksa untuk menghapus jejakmu di sana. Dan aku berharap, kamu pun membawakan masa depan untukku. Jadi, bolehkah aku mengingatmu? Boleh kan?