Kamu dan Garis-Garis Senja di Langit Tidung
Tepat setelah kapal bersandar di dermaga dan mesinnya dimatikan, aku segera turun. Dari kejauhan, kulihat Lanang dengan wajah datarnya melambaikan tangan. Dibalik wajah itu, aku tahu ia menyimpan rindu. Sama sepertiku. Alih-alih menumpahkannya, aku lebih memilih menahan rindu itu Kali ini, ada yang lebih penting dari rindu. “Aku terkejut waktu kau bilang mau datang,” ujar Lanang memecah hening saat menyusuri jalan menuju penginapan. “Ya, ada yang harus kuurus di balai.” Aku berusaha menutup pembicaraan. “Kau tidak menginap di rumahku saja? Rindi mau mendengar cerita-ceritamu lagi.” Pria itu menyebutkan nama adik perempuannya. “Aku sudah dipesankan penginapan,” ucapku. Ya Tuhan, aku berbohong. Aku yakin seratus persen kalau Lanang menyadarinya, tapi ia hanya manggut-manggut. Sebelum aku masuk ke penginapan, Lanang sempat menawarkan diri untuk menungguku, tapi lagi-lagi aku menolak dan memintanya untuk bertemu di balai saja. * Matahari benar-benar berada di ata...