Air Mata Kedua Anna
Aku masih sibuk membalut sayap merpati dalam rengkuhan, sementara Anna bergeming di sampingku. “Ann, bisa tolong ambilkan gunting di rak kedua?” Kucoba memecah diamnya. Beberapa saat ia tetap diam sebelum akhirnya bibirnya terbuka, “Clo, bukankah ini jahat?” Aku menoleh, tidak paham dengan ucapan gadis itu. “Mengapa bocah-bocah itu tidak hanya mematahkan kedua sayap merpati itu, tetapi juga kedua kakinya? Bahkan, lebih baik mereka membunuhnya.” Anna menatap kosong si merpati. “Itu lebih baik dibanding ia harus terseok-seok menyeret tubuhnya dan berharap ada orang baik menolong.” Aku menelan ludah. Gadis itu mulai lagi. “Kau berlebihan, Ann.” Kubaringkan merpati itu di meja operasi, lalu beranjak ke rak kedua. Anna melanjutkan dengan suara lirih, “setidaknya ia tidak perlu merasakan sakit dan berhenti berharap.” Usai merekatkan perban yang membalut merpati, aku mendekati gadis i...