Air Mata Kedua Anna




Aku masih sibuk membalut sayap merpati dalam rengkuhan, sementara Anna bergeming di sampingku.
“Ann, bisa tolong ambilkan gunting di rak kedua?” Kucoba memecah diamnya.
Beberapa saat ia tetap diam sebelum akhirnya bibirnya terbuka, “Clo, bukankah ini jahat?”
Aku menoleh, tidak paham dengan ucapan gadis itu.
“Mengapa bocah-bocah itu tidak hanya mematahkan kedua sayap merpati itu, tetapi juga kedua kakinya? Bahkan, lebih baik mereka membunuhnya.” Anna menatap kosong si merpati. “Itu lebih baik dibanding ia harus terseok-seok menyeret tubuhnya dan berharap ada orang baik menolong.”
Aku menelan ludah. Gadis itu mulai lagi.
 “Kau berlebihan, Ann.” Kubaringkan merpati itu di meja operasi, lalu beranjak ke rak kedua.
Anna melanjutkan dengan suara lirih, “setidaknya ia tidak perlu merasakan sakit dan berhenti berharap.”
            Usai merekatkan perban yang membalut merpati, aku mendekati gadis itu.
            “Kau tahu Ann mengapa merpati itu meronta saat ia terluka?” Anna menggeleng.
“Ia ingin hidup. Memang ia kesakitan, tapi keinginannya untuk tetap hidup lebih besar.” Kubimbing ia untuk mengelus kepala si merpati. Jemari mungil Anna tampak kaku saat melakukannya.
“Tapi, Clo, aku tidak merasakan apa-apa dan tidak menangis saat Alice memukuliku. Yang aku pikirkan waktu itu, aku bencinya dan kuharap ia –atau setidaknya orang lain—membunuhku saja agar aku tidak bertemu dia lagi.” Kulihat sinar mata di wajah bulatnya meredup. Ada luka di sana. Dengan lembut, kuraih pundak Anna dan menariknya ke dalam pelukanku.
Anna spesial, itu yang selalu kupikirkan setiap kali ia melakukan hal ini. Luka di pojok hatinya terlalu besar dan kuyakin tidak bisa disembuhkan dalam waktu dekat.
*
Sore itu hujan deras mengguyur Canterbury. Setelah mendapat telepon dari Alice, aku langsung berlari menuju kantor polisi. Wanita itu menungguku di depan pintu bersama seorang polisi yang tampak sedang memaksanya masuk. Saat melihatku datang, Alice langsung menghambur ke arahku.
“Clo, tolong keluarkan aku dari sini. Aku benci anak itu, aku ingin segera pergi,” ujarnya terbata-bata.
Kulirik si kecil Anna yang duduk di pojok kursi dalam balutan selimut. Wajahnya lebam. “Kau gila, Alice.”
“Anak itu yang gila, Clo. Dia membunuh anjing tetanggaku tanpa belas kasih!” Alice hampir memekik. “Benar kata Jo, dia anak iblis. Seharusnya aku meninggalkannya sejak dulu bersama Jo.”
Alice menyebut nama suaminya dengan penuh penyesalan, tetapi mampu menghardik Anna seakan ia lupa gadis kecil itu keluar dari rahimnya.
            “Bawa anak itu. Klinik hewanmu sangat ramai, Clo, kukira itu cukup untuk membuat anak itu tetap hidup. Kumohon...”
Aku bergidik, heran mendapati Alice masih menginginkan Anna hidup setelah apa yang ia perbuat.
            Tak kunjung mendapat jawabanku, Alice kembali mengoceh, “kau ingin uang? Ada buku tabunganku di rumah, ambil saja semua. Atau biarkan saja anak itu di jalan sampai orang lain mengambilny—“
Tamparanku berhasil menutup mulutnya, “ini yang akan Mom lakukan saat melihatmu sekarang, Alice.”
Muak melihat kakak sulungku terus merengek, aku langsung menemui polisi yang bertugas dan menandatangi surat pembebasan Alice.
“Ayo kita pulang, Anna,” bisikku kepada Anna yang sudah berada dalam pelukanku. Aku segera keluar dari kantor polisi dan tidak menghiraukan Alice yang masih berdiri di depan pintu.
Dibandingkan Alice, Anna lebih membuatku heran. Gadis kecil itu tidak menangis sama sekali—percaya atau tidak, tak kutemukan jejak air mata di mata dan pipi tembamnya. Ia tetap diam. Bahkan, Anna tidak meringis saat lukanya kuobati. Sampai akhirnya kubaringkan ia di atas tempat tidur, bibirnya mulai terbuka.
“Anjing itu memintaku untuk membunuhnya, Clo,” ucapnya dengan suara khas anak kecil yang membuatku meleleh bersama hujan yang semakin deras.
*
Anna tumbuh menjadi anak yang sangat cerdas. Maksudku, adakah anak usia 8 tahun yang mampu menghafal sebagian besar obat di klinik hewan seperti Anna? Aku tak pernah menyuruh Anna untuk melakukannya. Aku hanya beberapa kali meminta tolong Anna mengambilkan obat di rak selama aku sedang mengoperasi atau memeriksa pasien. Hydroxyzine untuk obat alergi, thiabendazole untuk menghilangkan parasit, marbofloxacin sebagai antibiotik., dan masih banyak lagi yang gadis itu ingat.
Sejak insiden merpati tempo hari, Anna semakin tidak banyak bicara dari biasanya. Ia pergi dan pulang sekolah seperti biasa, tetapi tidak lagi memintaku mampir ke taman kota. Seperti sore ini, ia terus berjalan melewati taman kota dalam diam. Jemari mungilnya yang terselip dalam genggamanku membuatku percaya bahwa Anna hanya gadis kecil biasa. Walau kadang tatapannya tampak nyalang memerhatikan orang di sekitarnya, tetapi sekarang aku paham itulah cara ia belajar dan memahami sesuatu. Aku selalu menyayangkan Alice yang meninggalkan gadis itu.
“Kau tampak lelah, Clo,” ucapnya saat kami sampai di rumah.
Aku tersenyum sambil memijat tengkuk. Klinik memang sudah kututup sebelum aku menjemput Anna tadi, tetapi sekarang aku harus memberi makan hewan-hewan yang dirawat inap.
“Biar aku saja, “ katanya seakan tahu pikiranku.
Anna meletakkan tasnya di sofa kemudian asisten kecilku itu menuju klinik di samping rumah.
“Tidak berganti pakaian dahulu?” seruku, tetapi Anna tidak menggubrisnya. Aku menyeringai sebelum akhirnya masuk ke kamar untuk beristirahat.
*
Dor! Dor!
            “Clo, kumohon bangun! Buka pintunya!” Sayup-sayup kudengar seruan Anna di antara suara gedoran pintu.
Aku masih setengah sadar saat meninggalkan ranjang, tetapi mataku sontak membelalak ketika mendapati Anna di depan pintu kamar. Gadis itu terisak dengan seekor kucing yang terkulai lemah dalam pelukannya. Noda darah yang tampak masih segar menodai putih bajunya.
“Ya Tuhan, apa yang terjadi Anna?” Aku segera menuntunnya ke klinik.
Anna berucap di sela isakannya, “Maafkan aku, Clo... Harusnya aku mendengarkanmu.”
“Anak-anak nakal menyiramnya dengan air panas dan melemparnya ke jalan,” ucapnya. “Aku benci melihatnya. Kupukul kucing ini dengan tongkat besi agar ia tidak lagi kesakitan—“
dia tidak langsung mati, dia terus mengais sepatuku. Ya ampun, Clo, kucing ini menangis!” Pekikannya tertahan.
Segera kuraih kucing itu dan membaringkannya di meja operasi perlahan.
“Clo, aku masih bisa merasakan detak jantungnya. Kumohon, selamatkan dia.” Anna terus terisak.
“Baik, akan kuselamatkan. Duduklah di sini.” Kubawa ia ke kursi di pojok ruangan kemudian aku kembali ke meja operasi.
Tuhan menjawab permohonan Anna, kucing itu selamat. Mungkin karena ini adalah kali kedua Anna menangis setelah dulu saat ia dilahirkan. Dengan sedikit terisak, gadis itu memerhatikan si kucing yang tertidur pulas di kandangnya.
“Kau yakin ia baik-baik saja? Ia tak bergerak sama sekali.”
Aku mengangguk sambil membasuh tangan Anna dengan alkohol.
            “Clo, kau tahu apa yang kucing itu katakan saat aku memukulnya? ‘Terima kasih telah mempedulikanku, tapi kumohon biarkan aku hidup’ begitu katanya.” Anna terus mengoceh, lupa beberapa saat lalu ia menangis seakan dunia akan runtuh.
“Aku ingin menjadi dokter sepertimu, Clo, akan kubuat hewan-hewan itu tetap hidup bahkan saat mereka memintaku membunuhnya.” Ucapannya membuat tanganku yang sedari tadi membersihkan noda darah di bajunya berhenti.
Aku tak tahan lagi membendung air mata. Segera kutarik gadis itu masuk ke pelukanku. “Anything, Sweetheart.
Anna hanya gadis biasa, aku tahu itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal