Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2014

AKU

Aku menangis agar aku tertawa Aku jatuh agar aku mampu bangkit kembali Aku sedih agar aku bisa menyambut bahagia esok hari Aku menerima gagal agar aku berhasil Aku mencecap pahit agar aku merasakan manis Aku berjalan mundur agar aku bisa maju Aku berhenti agar aku bisa memulai Aku diam agar aku bisa bergerak Aku pergi agar aku bisa pulang Aku mendengar agar aku mampu berbicara Aku terpejam agar aku mampu melihat Aku membenci agar aku bisa mencinta Aku melakukan sesuatu agar aku bisa melakukan sesuatu yang lain Ya, itu aku.

Secangkir Rindu Malam Ini

Kopi malam ini pahit, ya? Padahal aku sudah menambahkan susu secukupnya Layaknya rindu Aku menakarnya dengan baik, tapi rasanya tetap... pedih Aku merindu tanpa bisa merapalkannya Semuanya terselip rapi dalam bait- bait kata Ya, aku merindu dengan puisi Mencipta ketenangan untuk diriku sendiri Setidaknya agar rindu ini tak meluber Aku merindu tanpa mencari penawarnya Biarkan ia mengakar dan mencabik relung hati ini Sakit memang, tapi adakah hal pahit semanis rindu yang lain? Aku merindu tanpa menanti jawaban Kau tahu sendiri kan aku paling benci menunggu? Rindu ini tanpa tanda tanya yang mengiringinya Tanya apakah kau miliki rindu yang sama di sana Kau tahu pedihnya seperti apa? Seakan aku adalah kuncup kelopak yang mencoba mekar, tapi sebongkah batu meniban tubuhku Aku ingin berteriak Bibirku bergeming, tetap terkatup Kalau masalah rindu, ia akan bisu Biarkan hati yang berbisik Rindu ini, bagiannya Bait- bait ini ditulis ke...

Si 'Nampan' Merana dan Tuannya

                Jemari buntal itu terus menari di atas tubuh persegi dan rampingku. Matanya melotot, tak mengedip sedikit pun, seakan takut kehilangan diriku. Beberapa kali ia mengayun tubuhku ke kanan, lalu ke kiri, membuatku terengah- engah. Kalau tubuhku mengeluarkan bunyi ramai, ia akan berteriak kegirangan, oke, lebih tepatnya kesetanan. Ingin rasanya aku kabur dari ruangan berantakan yang lebih pantas disebut pasar basah itu, pergi dari jeratan si anak buntal. Pakaian kotor dan sampah bekas makanan menyatu tak karuan di kamar kecilnya. Ayolah, anak itu masih punya sepasang tangan dan kaki yang masih berfungsi, tapi ia sama sekali tidak berniat untuk membereskan kamarnya.                 Segala yang ia lakukan kepadaku selalu membuatku sakit. Sebelum anak buntal itu membawaku, waktu aku masih berbaring di balik kaca bening bersama saudaraku yang lain, sepertiny...

Ini Tentang Hidup

Gambar
Teringat pembicaraan dengan teman- teman beberapa bulan lalu. Waktu itu kami sedang berkumpul. Kami yang tertinggal. Kami yang terjebak dalam kegagalan. Kami yang masih berdiri di tempat yang sama, bahkan berjalan mundur, di saat yang lain sudah lebih dulu berlari. Awalnya kami menyesal atas kesalahan di masa lalu. Kenapa semuanya tidak kami lakukan dengan baik sejak awal? Ya, penyesalan selalu di akhir bukan? Lalu apa lantas kami sekadar menyesal tanpa melakukan apa- apa? Kami pun berpikir. Tidak, Tuhan sama sekali tidak memberi kami kegagalan. Tuhan memberikan hal yang jauh lebih indah. Tuhan memberi kami waktu. Kami memang tertinggal jauh. Jauh sekali. Tapi, Ia memberi kami hal yang tidak Ia berikan kepada yang lain. Di saat yang lain sibuk berlari dan menggapai, Ia memberi kami waktu lebih. Waktu untuk beristirahat, waktu untuk menyesal, waktu untuk berpikir, dan waktu untuk mengulang semuanya dari awal. Hingga pada saat yang lain mulai kelelahan, kami yang diberi waktu...

Dream.

"When a person really desires something, all the universe conspires to help that person to realize his dream." The Alchemist- Paulo Coelho