Si 'Nampan' Merana dan Tuannya

                Jemari buntal itu terus menari di atas tubuh persegi dan rampingku. Matanya melotot, tak mengedip sedikit pun, seakan takut kehilangan diriku. Beberapa kali ia mengayun tubuhku ke kanan, lalu ke kiri, membuatku terengah- engah. Kalau tubuhku mengeluarkan bunyi ramai, ia akan berteriak kegirangan, oke, lebih tepatnya kesetanan. Ingin rasanya aku kabur dari ruangan berantakan yang lebih pantas disebut pasar basah itu, pergi dari jeratan si anak buntal. Pakaian kotor dan sampah bekas makanan menyatu tak karuan di kamar kecilnya. Ayolah, anak itu masih punya sepasang tangan dan kaki yang masih berfungsi, tapi ia sama sekali tidak berniat untuk membereskan kamarnya.
                Segala yang ia lakukan kepadaku selalu membuatku sakit. Sebelum anak buntal itu membawaku, waktu aku masih berbaring di balik kaca bening bersama saudaraku yang lain, sepertinya semuanya baik- baik saja. Aku merasa aman di sana walau ratusan mata menatapku. Bayangkan saja! Selama hampir dua puluh empat jam ia tidak berhenti menyentuhku. Aku sampai lupa kapan terakhir kali aku istirahat. Setiap aku kelaparan dan ia memberiku makan dengan sengatan dari sedotan panjang berwarna hitam, jemarinya tetap tak lepas dari tubuhku. Tubuhku tidak dibalur lem, kan? Ditambah lagi, jari- jarinya itu loh! Bulat- bulat besar, kotor penuh coklat, bumbu- bumbu makanan, bahkan kotoran hidung. Ya Tuhan, rasanya aku ingin muntah!
                Pernah aku berpura- pura mati. Aku bersumpah tidak akan melakukannya lagi. Kalian tahu apa yang si buntal itu lakukan terhadapku? Ia memukul- mukul dan membanting tubuhku. Rasanya aku ingin benar- benar mati saja.
                “Antooo sholat magrib duluu!!!” seruan seorang wanita dari luar kamar membuat telingaku berdenging.
                “Iya, Bu!!!!” Yang ini memperparah dengungan di telingaku.
                Kenapa sih Tuhan tidak menciptakan aku dengan sepasang tangan? Satu tangan juga sepertinya cukup untuk menyumpal mulut besar si buntal.
                “Antooo!!”
                “Iyaaa!!”
                Meski diteriaki terus begitu, si buntal tidak juga angkat kaki dari ranjangnya. Jujur saja, ia tidak akan pergi dari ranjangnya kecuali kalau ingin ke dapur untuk mengambil makanan dan ke kamar mandi untuk buang air.
                Tiba- tiba kurasakan genggaman si buntal di tubuhku mengendur. Tubuhku jatuh ke atas ranjang lalu disusul tangan dan kepala besar si buntal yang jatuh dan menimpa tubuhku. Seketika aku merasa sesak. Ditekan jari- jarinya saja membuatku setengah mampus, apalagi ditimpa kepala dan tangan besarnya? Seseorang tolong aku!
                Aku semakin termegap- megap mencari oksigen semampuku. Sampai seorang wanita memasuki kamar dan mendekati tubuh si buntal.
                “Anto! Sholat magrib du—“ Ucapan wanita itu terhenti melihat si buntal yang terkapar di ranjangnya.
                “An...to?” Jemarinya menyentuh pelan tubuh gempal anak itu. Menyadari si buntal tidak bereaksi atas sentuhannya, wanita itu mulai histeris. Ia berlari ke ambang pintu dan berteriak seperti orang kesetanan. Mungkin memang orang- orang di tempat ini dirasuki setan.
                “Papa! Cepat ke sini, Pa! Pa! Anto, Pa!”
Beberapa saat kemudian seorang pria dengan tubuh sama gempalnya dengan si buntal datang dengan tergopoh- gopoh.
                “Kenapa, Bu?”
                “Anto, Pa!” Wanita itu menunjuk- nunjuk tubuh si buntal.
Melihat pemandangan di hadapannya, si pria membelalak. Tanpa berpikir panjang, segera digotongnya tubuh si buntal keluar kamar.
                Hah! Akhirnya aku bisa bernapas dengan normal. Kurilekskan tubuhku di atas ranjang dan perlahan cahaya tubuhku meredup lalu mati.

                Waktunya istirahat.

SELESAI


Tulisan ini diikutkan dalam tantangan menulis #NarasiSemesta oleh @KampusFiksi 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal