Tuk. Tuk. Tuk. Sepatu Nina terus beradu dengan tanah tempatnya berpijak. Sesekali cewek itu melirik jam tangannya. Sejak satu jam yang lalu ia berdiri di sana, menunggu Gias. Sore ini cowok itu berjanji untuk menjemputnya di tempat les. Tapi sampai sekarang ia belum juga tampak batang hidungnya. Guratan jingga di langit mulai pekat. Suara guntur di ujung langit membuat bulu kuduk Nina berdiri. Sebentar lagi pasti hujan. Benar saja. Tidak sampai lima menit setelah praduga Nina, jarum- jarum air mulai turun dari langit. Nina mendekatkan dirinya ke dinding bangunan tempatnya berdiri, menghindari hujan. Dingin yang mulai menusuk membuat cewek itu merapatkan cardigan yang ia kenakan. Gias... Lo kemana sih. Malam dan hujan. Nina membenci keduanya. Bodohnya, ia tidak pernah membawa payung atau pun jas hujan setiap kali pergi ke suatu tempat. Karena ia tahu, cowok itu pasti akan menjemputnya. Gelap semakin pekat dan hujan tak juga berhenti. Nina terus menerus ...