Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2014

Memori

Menyesap harum tanah yang tertumbuk curahan hujan Menagih memori yang sempat tertinggal di masa lalu.

Senyum Untuk Nina

Tuk. Tuk. Tuk.  Sepatu Nina terus beradu dengan tanah tempatnya berpijak. Sesekali cewek itu melirik jam tangannya. Sejak satu jam yang lalu ia berdiri di sana, menunggu Gias. Sore ini cowok itu berjanji untuk menjemputnya di tempat les. Tapi sampai sekarang ia belum juga tampak batang hidungnya.   Guratan jingga di langit mulai pekat. Suara guntur di ujung langit membuat bulu kuduk Nina berdiri. Sebentar lagi pasti hujan.  Benar saja. Tidak sampai lima menit setelah praduga Nina, jarum- jarum air mulai turun dari langit. Nina mendekatkan dirinya ke dinding bangunan tempatnya berdiri, menghindari hujan. Dingin yang mulai menusuk membuat cewek itu merapatkan cardigan yang ia kenakan. Gias... Lo kemana sih.   Malam dan hujan. Nina membenci keduanya. Bodohnya, ia tidak pernah membawa payung atau pun jas hujan setiap kali pergi ke suatu tempat. Karena ia tahu, cowok itu pasti akan menjemputnya.  Gelap semakin pekat dan hujan tak juga berhenti. Nina terus menerus ...

Boleh kan?

Aku melihatmu. Lagi. Kamu. Dengan membawa sekeranjang masa lalu. Dulu. Aku membenci caramu yang seperti itu. Tapi aku tahu. Aku membutuhkannya. Semua masa lalu itu. Aku akui merekalah yang membuatku bisa berdiri sampai saat ini. Bawakan aku semuanya. Sekarang. Aku akan menghargai caramu itu. Jadi aku bertanya padamu. Bolehkah aku menyimpanmu di sini? Di otakku. Di hatiku. Bersama masa lalu yang kamu bawakan padaku. Tak kan lagi kumemaksa untuk menghapus jejakmu di sana. Dan aku berharap, kamu pun membawakan masa depan untukku. Jadi, bolehkah aku mengingatmu? Boleh kan?