Two years have passed since my smile turned into an asymmetrical curve. Bell's palsy, they called it. A disease that stole my facial expressions. At first, I was determined to heal. I tried everything, from physical therapy to alternative medicine. But as time went by, hope began to fade. Every time I looked in the mirror, my heart ached. The face that used to be full of life now seemed different. Old photos of my perfect smile caused me pain. I wondered why it had to be me. Why did my smile have to disappear? Anxiety and despair started to consume me. Until one day, a thought struck me. I was stuck in a never-ending comparison. I kept comparing my current self with my past self. I forgot that every human is a process. We change, we grow, and we learn from every experience. Yes, my smile may not be perfect anymore, but I still have so much to be grateful for. I can still laugh, even if it's in a different way. I can still feel happiness, even though sometimes I have to work har...
Setiap menonton drama korea, aku selalu melihat satu masalah pelik yang muncul di setiap drama dan menjadi akar permasalahan cerita. Ya, komunikasi . Banyak hal akan menjadi berantakan jika komunikasi terputus satu sama lain, tidak saling bicara, saling memendam kata, dan sebagainya. Nyatanya, masalah komunikasi tak hanya booming di antara pemeran drama korea dan cerita fiksi, tetapi juga oleh kita-kita di dunia sungguhan. Seperti masalah di organisasi yang selalu mencantumkan poin “miskomunikasi antarpengurus” di setiap laporan pertanggungjawaban. Dan itu sering terjadi padaku. Kira-kira sepekan lalu, aku bertemu dengan seorang sahabat. Jika waktu senggang, kami memang beberapa kali bertemu bahkan menginap di kosan atau rumahnya lalu menghabiskan waktu semalaman untuk pillow talk, tentang suka-duka kuliah, pekerjaan, dan lainnya. Dia sempat protes kalau setiap aku menemuinya, aku pasti juga ada urusan lain. Misalnya, aku menginap di kosannya beberapa ta...
Aku pernah patah hati. Kenang dan luka yang meradang selalu memukul telak jiwaku setiap mengingatnya. Bukan, bukan karena terlalu manis. Hanya saja, kalau dipikir-pikir, aku tak berhak atas perih ini. Sebab, benar-benar tak ada yang istimewa dari hari-hari yang telah lalu. Semua karena rasa yang terlalu menggebu dan tak terbendung sehingga membuatku mendamba hari yang jelas-jelas tak akan pernah dapat kurengkuh. Lalu suatu hari, aku memutuskan. Aku akan mencintai dengan normal. Merasa dengan jeruji yang mengekang setiap sisi hati. Agar semua tetap pada posisinya dan tak melewati garis-garis batas rasa. Bukankah semuanya akan lebih baik jika berada dalam genggaman kita? Aku pun memulai hari-hari baru dengan kenormalan yang kuagungkan itu. Awalnya, semua terasa baik-baik saja. Nyatanya, jeruji yang kutanam hanya membuat rasa semakin menghentak. Cinta yang normal? Persetan! Bagaimana bisa mencintai dengan normal kalau ia sendi...
Komentar
Posting Komentar