Lubang di Ujung Lorong Sepi
Malam itu, gerimis membasahi tubuhku yang baru pulang dari studio. Kupegang erat-erat kanvas besar dalam pelukanku agar gerimis tidak merusaknya. Aku harus menyelesaikan lukisan itu dan segera memberikannya kepada pemesan besok pagi. Untuk makhluk setengah arwah dan setengah manusia sepertiku, bekerja sebagai pelukis sudah cukup menunjang kebutuhan hidupku selama seribu tahun. Apalagi, orang-orang di zaman ini menyukai lukisan-lukisan kuno bergaya naturalisme sebagai koleksi mereka. Aku berbelok ke arah gang kecil menuju rumahku di ujung gang. Tepat saat kuinjakkan kaki di tangga teras, seorang pria ke luar dari rumah di sebelah bersamaan dengan suara ribut. “Kumohon, pergilah!” pekik seorang gadis yang tadi mendorong si pria dengan kasar. “Kamu yang membatalkan pernikahan kit...