Lubang di Ujung Lorong Sepi


Malam itu, gerimis membasahi tubuhku yang baru pulang dari studio. Kupegang erat-erat kanvas besar dalam pelukanku agar gerimis tidak merusaknya. Aku harus menyelesaikan lukisan itu dan segera memberikannya kepada pemesan besok pagi. Untuk makhluk setengah arwah dan setengah manusia sepertiku, bekerja sebagai pelukis sudah cukup menunjang kebutuhan hidupku selama seribu tahun. Apalagi, orang-orang di zaman ini menyukai lukisan-lukisan kuno bergaya naturalisme sebagai koleksi mereka.

            Aku berbelok ke arah gang kecil menuju rumahku di ujung gang. Tepat saat kuinjakkan kaki di tangga teras, seorang pria ke luar dari rumah di sebelah bersamaan dengan suara ribut.

            “Kumohon, pergilah!” pekik seorang gadis yang tadi mendorong si pria dengan kasar.

            “Kamu yang membatalkan pernikahan kita!”  Pria itu tidak mau kalah.

Si gadis tampak geram. Ia melepas sepatu ketsnya lalu melemparnya tepat ke bahu pria itu.

“Sinting,” desisnya. “Dulu sudah kukatakan, jangan lakukan apa-apa kalau kamu tak sanggup bertanggung jawab atas perasaanku!”

Sebuah lampu sorot milik toko di seberang jalan menembakkan cahaya merahnya ke wajah si gadis. Kulihat setetes air mata mengalir di sana, tampak seperti tetesan darah. Detik itu, dadaku terasa sesak. Semakin lama, rasanya seperti seseorang menyulut obor di dadaku. Perih dan panas. Aku masih berusaha menggapai pintu sebelum akhirnya aku benar-benar tumbang bersama rasa sakit yang semakin parah. Hal terakhir yang kulihat adalah sepasang mata sehijau zamrud yang menatapku cemas.

**

Suara denting cangkir membawaku kembali ke alam sadar. Kulihat dinding di hadapanku berwarna merah muda lembut dengan ukiran awan biru. Ini jelas-jelas bukan rumahku. Dengan susah payah, aku mencoba bangkit.

“Sudah bangun?” Sebuah cangkir dengan uap yang masih mengepul muncul di hadapanku bersama pemiliknya, gadis dengan mata sehijau zamrud. Aroma kamomil bercampur madu mendobrak indra penciumanku.

“Kau punya anemia?” Gadis itu duduk di salah satu sofa. “ Minumlah, madu akan cukup membantu.”

Sebenarnya aku ingin menyanggah soal anemia itu, tetapi tanganku sudah meraih cangkir dari genggamannya. Aku menyesap minuman itu dalam hening. Kulirik jam di dinding, pukul sebelas malam. Tiba-tiba aku teringat kanvas yang tadi kubawa pulang. Aku segera meletakkan cangkir di tanganku dan beranjak dari sofa.

“Kanvasmu di sana.” Si gadis menunjuk easel di pojok ruangan. Kanvasku yang pembungkusnya sudah koyak terduduk di sana.

“Lukisanmu unik,” katanya sambil menghampiri lukisanku. “Maksudku, gayanya terlalu tua untuk pelukis seusiamu.”

Dia saja yang tidak tahu berapa usiaku.

“Dan catnya...” Ia mengusap ujung jemarinya ke kanvasku. “Cat apa yang kau pakai?”

Alih-alih menjawab, aku sibuk menelisik sudut-sudut rumah Laura.

Di belakang easel, kulihat kanvas-kanvas yang tersusun rapi. Gayanya sangat ekspresif. Menyiratkan aura sendu dari pelukisnya. Setiap menyusuri lekuk-lekuk lukisannya, rasa perih terasa menjalar di sekujur tubuhku. Bergeser ke sebelah lukisan bergaya ekspresif itu, ada tumpukan kanvas lain yang ukurannya lebih kecil. Beberapa tergambar sketsa hewan dan buah-buahan dengan tulisan “terima kasih, Bu Laura”.

“Maaf untuk yang tadi,” ucapnya memecah sepi. “Tukang selingkuh itu tiba-tiba menemukan rumah baruku dan membuat keributan di sini.”

“Aku menemukannya bersama wanita lain. Ya Tuhan, aku merasa jijik setiap kali mengingatnya.” Laura menambahkan.

Aku hanya menyimak dalam diam. Gadis di sampingku itu tampak seperti orang baik-baik, tetapi ia cukup mahir dalam memaki.

“Ah maaf sudah membuatmu tidak nyaman karena mendengar masalah pribadiku—“

“Aku juga punya masalah pribadi,” potongku. “Kau tahu? Usiaku lebih dari 1000 tahun.”

Laura sontak menatapku dengan mata hijau zamrudnya. Ia tampak bingung.

**

Aku teringat hukuman Dewa sebelum ia mengirimku kembali ke dunia ini, “akan ada seseorang yang bisa membuatmu merasakan sakit yang teramat dahsyat dengan air matanya”. Perih yang kurasakan pertama kali saat kulihat air mata Laura menyadarkanku bahwa gadis itulah yang dimaksud. Sejak malam itu, tangisan Laura yang terdengar dari balik dinding rumah selalu menggema dan mencabik dadaku.

Seperti hari ini, usai menemaninya bertemu keluarga.

“Aku takut dimarahi Mama karena pernikahanku. Kalau datang bersama orang lain, kurasa ia tak akan melakukannya,” ucapnya tadi pagi saat memintaku menemaninya.

Pertemuan keluarga yang kudatangi hanya sebuah acara makan malam sederhana. Meja bundar di hadapanku dikelilingi oleh satu orang wanita paruh baya, satu orang wanita yang tampak tiga dekade lebih tua dari wanita pertama, Laura, dan gadis terakhir mungkin dua tahun lebih muda dari Laura. Aku satu-satunya pria di meja ini. Makan malam berlangsung sunyi. Atmosfer terasa semakin buruk dengan suasana redup yang disajikan lampu kristal yang menggantung di atas meja.

Tiba-tiba wanita paruh baya yang duduk di seberangku meletakkan sendok dan garpunya. Ia berhenti melahap steiknya.

“Nina, tolong isikan gelasku,” ucapnya hampir berbisik.

Nina, gadis yang lebih muda dua tahun dari Laura, sempat melirik kakaknya sebentar sebelum akhirnya menuangkan wine ke gelas Ibunya. Selang beberapa detik setelah gelas penuh, wine itu sudah melayang ke wajah Laura. Aku terlonjak.

“Sudah kubilang, jangan pernah datang lagi ke sini. Rencana pernikahanmu kemarin itu yang terakhir.”

Kulihat jemari Laura bergetar di bawah meja. “Mama yang mengundangku—“

“Seharusnya kau tahu diri!” Nada bicara wanita di hadapanku mulai meninggi.

Laura memejamkan mata. Dadaku mulai terasa sesak.

“Ma, kumohon.” Laura tampak terengah. “Ada orang lain di sini.”

Nina memeluk lengan ibunya, berusaha menahan wanita itu semakin naik darah. Ia mengisyaratkan agar Laura segera ke luar rumah. Memahami maksudnya, aku segera menggenggam jemari Laura dan menariknya ke luar.

Hawa dingin malam ini benar-benar menusuk. Aku merapatkan jaket sambil melirik gadis di sampingku. Ia tidak bicara apa-apa sejak tadi, bahkan sampai aku mengucapkan salam perpisahan dan berbelok ke beranda rumahku. Alih-alih menuju rumahnya, Laura terus berjalan ke ujung gang. Sosoknya hilang ditelan gelap, tetapi suara tangisnya mulai terdengar. Rasa terbakar perlahan menjalari tubuhku. Dengan langkah yang sedikit terseok, aku menghampiri Laura. Ia duduk bersandar di sebuah pagar kayu. Wajahnya tenggelam di antara kedua lututnya.

“Laura.”

Gadis itu menengadah. Mata hijaunya tampak merah dan basah.

“Sakit,” ucapnya lirih sambil menepuk-nepuk pelan dada.

Aku ikut duduk di sampingnya kemudian kutenggelamkan wajahnya ke dalam rengkuhanku. Dalam posisi seperti ini, rasa sakit yang dirasakan Laura seakan langsung menjalar ke tubuhku.

“Mama ingin pernikahan yang sempurna untuk anaknya, agar tidak seperti dirinya.” Laura terisak. “Nyatanya, perceraian Mama menjadi luka untukku dan Nina.”

“Kau tahu? Aku benci ditinggalkan.” Wajah Laura semakin tenggelam, tetapi tangisnya perlahan reda. Ia tampak kelelahan.

“Laura, lihat kemari.” Dengan lembut, kuangkat kepalanya sampai ia memandangku.

Aku mengayunkan jari telunjukku hingga mengeluarkan sulur-sulur berwarna merah. Sulur itu merambat di udara dan membentuk seekor kupu-kupu yang berpendar. Laura sempat menoleh ke arahku sejenak, tetapi kupu-kupu itu lebih menarik perhatiannya. Kupu-kupu itu mengepakkan sayapnya beberapa saat sampai akhirnya ia terbang menembus kening Laura. Dalam sekejap, gadis itu terlelap.

Ia butuh istirahat.

**

Ada sebuah lubang di ujung lorong gang yang selalu mengusikku setiap kali aku membuang sampah ke tempat pembuangan di ujung gang. Lubang itu berada di pojok permukaan pagar setinggi sepuluh kaki yang terbuat dari pohon ek. Pagar itu tampak kokoh tanpa goresan dan warnanya coklat tua tanpa pudar. Satu-satunya hal yang membuat pagar itu tampak tidak baik-baik saja adalah si lubang.

“Di balik pagar itu, dulunya lokasi proyek, tapi tahun lalu dihentikan karena bangkrut,” ujar pria paruh baya yang tinggal di seberang rumahku.

Aku hanya manggut-manggut.

Pagi ini, aku memberanikan diri untuk mengintip ke dalam lubang. Aku hanya melihat dinding-dinding semen dilapisi plastik besar. Kukeluarkan sulur-sulur emas dari jemariku dan mengarahkannya ke dalam lubang. Sulur itu merambat ke pagar kayu kemudian membentuk lingkaran besar. Aku melangkah ke dalam lingkaran itu. Saat aku membuka mata, aku sudah berada di balik pagar. Dinding-dinding semen semakin tampak jelas, menjulang tinggi dan membentuk bangunan yang cukup besar. Tiang besi berkarat pun masih menyangga beberapa titik bangunan itu. Sebagian plastik besar yang menutupinya sudah koyak. Entah bangunan apa yang akan dibuat.

Tiba-tiba terbersit sebuah ide di kepalaku. Aku segera keluar dari pagar itu lalu menuju rumah Laura. Baru saja tanganku terangkat untuk menggedor pintu, Laura muncul di sampingku lengkap dengan baju olahraga dan handuk yang tersampir di lehernya.

“Ada ap—“

Belum sempat gadis itu bertanya, aku sudah menariknya menuju bangunan baru yang tadi kutemui. Laura tak banyak bertanya soal bagaimana ia tiba-tiba bisa menembus pagar kayu hingga akhirnya berdiri di sini. Bangunan besar di hadapannya membuat gadis itu tercengang. Rasa takjubnya semakin menjadi saat aku meraih tangannya dengan sulur-sulur berwarna-warni ke luar dari jemariku.

“Kau ini apa?”

Aku tidak menjawab. Kuarahkan tangan kami ke salah satu sisi dinding bangunan.

“Apa yang ingin kau lukis?”

“Hmm... Isis?”

Aku pun menuntun jemarinya melukis dewi Mesir Kuno itu. Laura mengusap jemarinya di atas lukisan yang baru selesai kami buat.

“Inikah cat yang kau gunakan?”

Aku menyengir. Ia tidak tampak heran atau takut sama sekali. Laura langsung meraih kembali jemariku dan menarikku ke sisi lain dinding. Ia mulai melukis hal lain dengan sulur-sulur yang keluar dari jemariku.

“Ya Tuhan, ini menyenangkan!” Laura memekik. “Aku tak pernah merasa sebahagia ini.”

Aku tertawa mendengar ucapannya yang hiperbolis.

“Ini aneh,” bisiknya. “Aku selalu merasa nyaman setiap kali berbicara denganmu.”

“Sedari tadi aku memikirkan ini.” Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas lukisan sayap yang tadi ia buat sementara aku sibuk melukis hal lain agak jauh darinya. “Mungkin kau malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjadi temanku berbicara. Jadi, aku tak merasa keberatan setiap berbicara denganmu, sekalipun kau laki-laki.”

“Anggap saja begitu.”

“Lalu, kau akan terus bersamaku?”

Aku menoleh ke arahnya dan saat itu juga Laura sedang menatapku.

“Kemarilah.” Aku menepuk tanah di sampingku.

Laura menurut.

Ia tampak terbelalak saat melihat wajahnya terlukis di atas tanah tempatnya berdiri.

“Indah sekali!” Laura tampak girang, lupa dengan pertanyaannya yang tak kunjung mendapat jawaban.

**

Aku tidak tahu kalau pagi itu adalah pagi terakhirku bersama Laura.



Aku terbangun di tempat yang serba putih. Pendar cahaya di setiap sudut tempat ini menyilaukan pandanganku. Aku tahu tempat ini. Tempat terakhirku sebelum aku kembali turun ke bumi, tempat yang menjadi saksi kutukan Dewa untukku. Tiba-tiba dinding putih di hadapanku berpendar. Di sana tampak sosok Laura yang berdiri di depan rumahku sambil menggedor pintu. Lama tidak mendapat sambutanku, ia pun putus asa. Saat ia berbalik, aku bisa melihat wajahnya yang sembap. Air matanya telah mengering, tapi aku tahu ia masih merintih. Aku tak pernah melihat Laura menangis separah itu. Anehnya, aku tidak lagi merasakan sesak dan terbakar di dadaku. Kakiku melangkah mendekati layar besar di hadapanku. Sosok Laura tampak nyata, tapi tanganku yang terjulur hanya menggapai udara kosong.

Gadis itu beranjak ke pagar kayu di ujung lorong. Ia masuk ke balik pagar melalui celah yang kemarin kami buat. Dengan gontai, ia menuju lukisan sayap malaikat di tengah bangunan dan berbaring di sana. Ia tampak seperti malaikat sungguhan dengan sepasang sayap di kedua sisi tubuhnya. Beberapa saat, ia menatap langit di atasnya. Ia memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya bangkit dan berjalan menyusuri anak tangga di dalam bangunan.

Tidak, Laura, kumohon.

Semakin tinggi anak tangga yang Laura naiki, aku semakin panik. Seperti orang kesetanan, aku menggapai-gapai bayangan gadis itu yang semakin lama semakin pudar. Sosoknya semakin hilang saat ia berada di bagian paling atas bangunan tanpa atap itu. Detik selanjutnya, tubuh rapuh gadis itu meluncur ke  bawah. Hal terakhir yang kulihat, tubuhnya yang bersimbah darah terbaring di atas lukisan sayap malaikat sampai akhirnya layar besar di hadapanku menghilang.



Laura benci ditinggalkan, mestinya aku ingat itu. Dan yang kulakukan pada akhirnya hanya membuat lukanya semakin menganga.



Seharusnya aku tak pernah membuatnya bahagia.


___________________

Catatan penulis:
Cerita ini terinspirasi dari drama korea Black Knight dan Another Oh Hae Young.
Maaf kalau ceritanya tidak memuaskan XD
Berbeda dari cerita-cerita sebelumnya di blog ini, cerita kali ini lebih berbau fantasi. Walau agak maksa sih wkwk
Sejujurnya, dulu waktu kecil sering banget menulis genre fantasi, tapi sekarang mencoba lagi rasanya beda. Mungkin faktor usia._. yaa anak kecil lebih liar berimajinasi. Setiap kali mengetik kata demi kata cerita ini, selalu terpikir "ah ini gak realistis dan aku harus mendeskripsikannya agar terlihat nyata" dan itu susah:(
Sampai akhirnya cerita berakhir dengan akhir yang sangat maksa. I'm trying hard.

Terima kasih sudah bertahan sampai akhir cerita:)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal