Mencintai dengan Normal
Aku pernah patah hati.
Kenang dan luka yang meradang
selalu memukul telak jiwaku setiap mengingatnya.
Bukan, bukan karena terlalu manis.
Hanya saja, kalau dipikir-pikir,
aku tak berhak atas perih ini.
Sebab, benar-benar tak ada yang
istimewa dari hari-hari yang telah lalu.
Semua karena rasa yang terlalu
menggebu dan tak terbendung sehingga membuatku mendamba hari yang jelas-jelas
tak akan pernah dapat kurengkuh.
Lalu suatu hari, aku memutuskan.
Aku akan mencintai dengan normal.
Merasa dengan jeruji yang
mengekang setiap sisi hati.
Agar semua tetap pada posisinya
dan tak melewati garis-garis batas rasa.
Bukankah semuanya akan lebih baik
jika berada dalam genggaman kita?
Aku pun memulai hari-hari baru
dengan kenormalan yang kuagungkan itu.
Awalnya, semua terasa baik-baik
saja.
Nyatanya, jeruji yang kutanam
hanya membuat rasa semakin menghentak.
Cinta yang normal? Persetan!
Bagaimana bisa mencintai dengan normal kalau ia sendiri tercipta dari bongkahan gairah yang luar biasa?
Kenormalan dalam cinta hanya
manifestasi dari egoisme. Bahwa kita, manusia, hanya mau merampas manisnya
cinta dan tak akan mampu menerima patah hati.
Komentar
Posting Komentar