Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

“Sumbangan” Tumpukan Surel Sampai ke Terumbu Karang

Gambar
Di abad yang serba instan seperti sekarang ini, surel merupakan sarana yang sangat memudahkan komunikasi antarmanusia. Bertukar informasi, mengirim pesan, bahkan semakin mudah dengan fitur pengiriman berkas dalam bentuk foto, dokumen, video, dan lainnya secara daring. Walaupun banyak media sosial lain yang lebih menarik, eksistensi surel dalam kehidupan sosial manusia tidak pernah memudar. Nyatanya, tumpukan surel yang berlebihan dalam suatu akun dapat mengancam kehidupan terumbu karang yang terhampar jauh di laut sana loh! Kok bisa? Informasi yang dikutip dari situs Daily Mail menyatakan bahwa satu surel dengan kapasitas standar diperkirakan dapat menyumbang empat gram karbon ke atmosfer.   Produksi karbon tersebut tidak sebatas saat seseorang mengirim dan mendapatkan surel saja, tetapi juga saat surel itu terus tersimpan di dalam akunnya. Hal ini disebabkan oleh perangkat di pusat pengolahan data surel yang terus beroperasi untuk memproses surel-surel tersebut. Sementara, ses...

Rote Journey Batch #1: Le Destin

Gambar
Pernah nggak sih kamu sedang melalui sebuah jalan yang tidak kamu kenal, tetapi di setiap persimpangan kamu bakal dipertemukan oleh orang-orang yang sangat membantumu? Orang-orang yang tepat. Rasanya akan seperti ketidaksengajaan. Nyatanya, orang-orang tersebut sudah termaktub dalam takdir perjalananmu (cie). Awal perjalanan ini hanya sebuah obrolan antarmahasiswa yang sedang menunggu kedatangan dosen di kelas. Yaa biasalah, kita bukan orang-orang ambis (eh) yang bakal betah di depan buku tebal ataupun laporan. Menginjak akhir semester, topik mengenai skripsi semakin mendengung di telinga. Mulai dari bingung mau pakai variabel apa, agak greget gara-gara masih cupu tentang statistika, sampai milih-milih dosen pembimbing. Sebagai penganut program studi pendidikan tingkat S1, hanya dua subjek penelitian yang biasa digunakan oleh mahasiswa di universitas ini. Siswa dan masyarakat. Entah dapat ilham dari mana, aku nekat memilih subjek masyarakat di sebuah pulau di ujung selatan Indonesi...

Kamu dan Garis-Garis Senja di Langit Tidung

Gambar
Tepat setelah kapal bersandar di dermaga dan mesinnya dimatikan, aku segera turun. Dari kejauhan, kulihat Lanang dengan wajah datarnya melambaikan tangan. Dibalik wajah itu, aku tahu ia menyimpan rindu. Sama sepertiku. Alih-alih menumpahkannya, aku lebih memilih menahan rindu itu Kali ini, ada yang lebih penting dari rindu. “Aku terkejut waktu kau bilang mau datang,” ujar Lanang memecah hening saat menyusuri jalan menuju penginapan. “Ya, ada yang harus kuurus di balai.” Aku berusaha menutup pembicaraan. “Kau tidak menginap di rumahku saja? Rindi mau mendengar cerita-ceritamu lagi.” Pria itu menyebutkan nama adik perempuannya. “Aku sudah dipesankan penginapan,” ucapku. Ya Tuhan, aku berbohong. Aku yakin seratus persen kalau Lanang menyadarinya, tapi ia hanya manggut-manggut. Sebelum aku masuk ke penginapan, Lanang sempat menawarkan diri untuk menungguku, tapi lagi-lagi aku menolak dan memintanya untuk bertemu di balai saja. * Matahari benar-benar berada di ata...

Surat Balasan Untuk Sahabat

Gambar
Kamu sedih kenapa? Nih biar nggak sedih. Lalu, gadis di seberang sana mengirimkan foto wajahnya, lengkap dengan riasan bedak dan lipstik tebal merona. Gaya kerudungnya pun sudah ala selebriti hijab. Aku menyeringai. That little star has grown up so fast. Seingatku, dulu ia hanya gadis mungil yang pintar merengek.  Kami lahir di tahun yang sama, tetapi berbeda 8 bulan. Aku November, dia Februari. Jarak 8 bulan ini selalu menjadi dalihnya untuk mendapatkan perlakuan santun dariku setiap kali aku jahil.             “Ingat! Aku ini lebih tua darimu. Jangan songong dong.” Ia merengut, membuat pipi tembamnya tampak seperti bakpao. Aku hanya menyeringai dan hari-hari berikutnya ia tetap menjadi sasaran kejahilanku. * Waktu itu aku masih duduk di bangku SMA. Masa ketika aku bisa merasa bahagia seakan dunia benar-benar ada dalam genggamanku dan merasa sedih seperti dunia di hadapanku run...

Lubang di Ujung Lorong Sepi

Gambar
Malam itu, gerimis membasahi tubuhku yang baru pulang dari studio. Kupegang erat-erat kanvas besar dalam pelukanku agar gerimis tidak merusaknya. Aku harus menyelesaikan lukisan itu dan segera memberikannya kepada pemesan besok pagi. Untuk makhluk setengah arwah dan setengah manusia sepertiku, bekerja sebagai pelukis sudah cukup menunjang kebutuhan hidupku selama seribu tahun. Apalagi, orang-orang di zaman ini menyukai lukisan-lukisan kuno bergaya naturalisme sebagai koleksi mereka.             Aku berbelok ke arah gang kecil menuju rumahku di ujung gang. Tepat saat kuinjakkan kaki di tangga teras, seorang pria ke luar dari rumah di sebelah bersamaan dengan suara ribut.             “Kumohon, pergilah!” pekik seorang gadis yang tadi mendorong si pria dengan kasar.             “Kamu yang membatalkan pernikahan kit...