Kamu dan Garis-Garis Senja di Langit Tidung
Tepat
setelah kapal bersandar di dermaga dan mesinnya dimatikan, aku segera turun.
Dari kejauhan, kulihat Lanang dengan wajah datarnya melambaikan tangan. Dibalik
wajah itu, aku tahu ia menyimpan rindu. Sama sepertiku. Alih-alih
menumpahkannya, aku lebih memilih menahan rindu itu
Kali
ini, ada yang lebih penting dari rindu.
“Aku
terkejut waktu kau bilang mau datang,” ujar Lanang memecah hening saat
menyusuri jalan menuju penginapan.
“Ya,
ada yang harus kuurus di balai.” Aku berusaha menutup pembicaraan.
“Kau
tidak menginap di rumahku saja? Rindi mau mendengar cerita-ceritamu lagi.” Pria
itu menyebutkan nama adik perempuannya.
“Aku
sudah dipesankan penginapan,” ucapku. Ya Tuhan, aku berbohong. Aku yakin
seratus persen kalau Lanang menyadarinya, tapi ia hanya manggut-manggut.
Sebelum
aku masuk ke penginapan, Lanang sempat menawarkan diri untuk menungguku, tapi
lagi-lagi aku menolak dan memintanya untuk bertemu di balai saja.
*
Matahari
benar-benar berada di atas kepalaku. Teriknya sedari tadi membuat peluhku
mengucur sebesar telur ikan. Di sisi lain, aku bersyukur Tidung hari ini sangat
lengang. Sebagai salah satu pulau yang menjadi tujuan wisata favorit, Tidung di
akhir pekan selalu disesaki wisatawan. Jadi, aku sengaja memilih untuk
berkunjung di hari senin.
Baru
saja aku memasuki sebuah pagar biru di sisi kiri jalan, Pak Erik yang sedang
duduk di teras kantor langsung menyambutku. Setengah tahun tak bertemu dengan
pembimbing skripsiku itu selama di Tidung membuatnya tampak lebih tua.
“Sehat,
Lina?” suara beratnya mengingatkanku pada Bapak di rumah.
Aku hanya
mengangguk lalu mengekor Pak Erik masuk ke kantor.
“Kenapa
tidak dipaketkan saja berkas ini atau dikirim dengan fax?” Pak Erik menyodorkan
satu bundel kertas kepadaku. “Kangen Lanang, ya?”
Aku
mengulum senyum.
“Atau
kangen saya?” Lelucon Pak Erik sukses memecah rasa galauku untuk sementara.
“Tuh, dia ada di ruang pembenihan.” Bisiknya sebelum pamit pergi.
Usai
mengecek tumpukan berkas yang tadi diberikan Pak Erik, aku menuju bagian
belakang kantor. Di antara bak-bak di ruang pembenihan, kulihat Lanang sedang
khusyuk mengatur selang-selang air. Kalau dilihat dari belakang begini,
punggung bidang pria itu selalu tampak menarik. Rasanya aku terlempar ke
masa-masa pertemuan pertamaku dengan Lanang. Semuanya tampak sama. Punggung
bidang itu, gejolak perasaanku, bak-bak biru di sekeliling kami, bahkan suara
gemericik air yang keluar dari selang masih terdengar seperti alunan musik
klasik. Hanya saja kali ini perasaan bersalahku terlalu besar hingga menahanku
untuk tidak memeluk pria itu atau sekadar menyelipkan jemariku di jemarinya.
“Lanang.”
Aku berusaha mengatur senyumku agar tidak terlalu sumringah.
Ia
menoleh. “Hai, sudah selesai berkasnya?”
Aku
bergumam, mengiyakan.
“Ingin
melakukan sesuatu?”
Aku
memutar otak, mencari beberapa hal yang bisa kulakukan untuk menghabiskan hari
ini sampai akhirnya aku memenuhi tujuanku sebenarnya datang ke pulau ini.
Tak
kunjung mendapat jawabanku, Lanang langsung menarikku ke luar dari ruang
pembenihan.
Lanang
selalu tahu sebagian besar hal yang aku mau. Dan kali ini, ia tahu aku hanya
ingin diam. Pria itu mengajakku duduk di puncak tertinggi Jembatan Cinta dengan
kaki-kaki kami menyembul dari batas jembatan dan terayun di udara. Di akhir
pekan, tempat ini selalu ramai oleh wisatawan yang ingin melompat ke laut.
“Ritual” itulah yang menjadi salah satu kegiatan khas di Tidung. Sementara di
hari kerja, hanya aku dan Lanang yang mau repot-repot naik ke Jembatan Cinta untuk
menikmati semilir angin dari sini. Tempat ini selalu menjadi lokasi terbaik
untuk melepas penat selama penelitianku dua tahun belakangan.
Garis-garis
jingga perlahan tampak di langit barat. Warnanya yang semakin jelas membuat
perasaanku semakin bergejolak. Memikirkan skenario-skenario yang harus aku
lakukan untuk mengakhiri semuanya di ujung senja ini membuat perutku mual.
“Aku
mulai kedinginan.” Aku segera bangkit sambil mengusap lenganku yang merinding.
Aku
tak berani menatap Lanang langsung, tapi ekor mataku menangkap gerak resah pria
itu. Kami sama-sama menyusuri jembatan yang menyuguhkan patahan episode dua
tahun kebersamaan kami. Setiap langkahku membuka reka ulang kisah-kisah yang
Lanang ceritakan setiap sore di jembatan ini. Tentang ia dan keluarganya,
terutama Rindi yang sangat cerewet. Tentang ia, seorang putra pulau,
yang bisa berkunjung ke banyak tempat di Indonesia dan belajar banyak hal di
sana. Pernah ada perusahaan di salah satu kota besar di pulau seberang
menawarinya pekerjaan, tetapi ia menolak.
“Entahlah,
aku hanya ingin tetap berada di tempat kelahiranku,” katanya dulu sewaktu
aku menanyakan alasannya menolak tawaran tersebut.
Patahan episode dalam benakku
semakin memberontak. Menyerbuku dengan barbar. Diam-diam, aku berharap di ujung
jembatan ini semua episode itu akan hilang bersama senja yang tenggelam.
“Kau ingat kapal yang terakhir kali aku
tunjukkan kepadamu?” Lagi-lagi ia berusaha membuka pembicaraan. “Kapal itu
sudah hampir sempurna—“
“Lanang,
kumohon berhenti berpura-pura bodoh.” Ucapan lirihku berhasil memotong ucapan
Lanang.
Tak
perlu diingatkan, aku pasti tak pernah lupa dengan kapal yang ia maksud. Ia
berjanji untuk menjadikanku orang pertama yang menginjak kapal itu dan kami
akan berkeliling dunia dengannya.
Lanang
terlalu sederhana untukku. Maksudku, aku suka itu. Ia memberitahuku tentang
semua perasaannya dengan cara yang sederhana. Begitu pun dengan caranya
membuatku merasa dicintai. Kesederhanaan pria itu membawaku untuk berani
merangkai mimpi bersamanya. Hal itu pula yang saat ini membuat rasa bersalahku
benar-benar terasa akan meledak. Pikiranku sudah tak keruan.
“Aku
akan menikah.” Aku memijat keningku yang berkedut. Kalimat itu akhirnya
terlomtar, tapi tak ada yang berubah dengan perasaanku.
Ekspresi
wajah pria di hadapanku tak menampakkan banyak hal, tapi aku tahu perasaannya
tak kalah keruan denganku. Lanang jelas memahami kalimat itu adalah salam
perpisahan dariku.
“Kenapa?”
Dari
banyak hal yang ingin ia tanyakan atau bahkan kata-kata kasar yang ingin ia
lontarkan, hanya satu kata itu yang dapat Lanang ucapkan. Dan, aku tak bisa
menjelaskan apa-apa.
“Lanang,
kau tahu bagaimana keluargaku.” Dalam keadaan seperti ini pun aku masih
menuntut pria itu untuk memahamiku.
Aku
mendongak, berusaha menahan air mata yang sudah terbendung sedari tadi. Kulihat
garis-garis jingga tampak sangat merah. Senja hari ini seakan mencemooh
kejahatanku.
“Katakan
padaku kau tak sungguh-sungguh akan melakukannya.” Getar dalam suara Lanang
sukses membuat pertahananku pecah. Air mataku meledak.
“Ya
Tuhan, Lina, kau bahkan menangis.” Takut-takut, pria itu mendekatiku. “Aku tahu
kau hanya ingin bersamaku.”
Dalam
hati, aku membenarkan ucapannya, tapi di sisi lain aku menolak.
“Maaf.”
Tak
ingin bertingkah lebih jahat, aku segera melangkah mundur.
Satu
langkah.
Dua
langkah.
Lalu
aku mengambil langkah seribu dan meninggalkan Lanang dalam bisu. Membawa pulang
semua patahan episode kebersamaanku dengan pria itu yang tak sempat hilang
bersama senja yang kini sudah tenggelam.
Note:
Putra pulau: orang yang lahir di Pulau Tidung
Note:
Putra pulau: orang yang lahir di Pulau Tidung

Yha. Lina-nya pandungan. Huhu
BalasHapushttps://rifalnurkholiq.blogspot.co.id/2018/05/ketemu-sama-kenalan-baru-yang.html?m=1