Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu
Setiap
menonton drama korea, aku selalu melihat satu masalah pelik yang muncul di
setiap drama dan menjadi akar permasalahan cerita. Ya, komunikasi. Banyak hal
akan menjadi berantakan jika komunikasi terputus satu sama lain, tidak saling
bicara, saling memendam kata, dan sebagainya. Nyatanya, masalah komunikasi tak hanya booming di antara pemeran
drama korea dan cerita fiksi, tetapi juga oleh kita-kita di dunia sungguhan.
Seperti masalah di organisasi yang selalu mencantumkan poin “miskomunikasi
antarpengurus” di setiap laporan pertanggungjawaban.
Dan itu sering
terjadi padaku.
Kira-kira sepekan
lalu, aku bertemu dengan seorang sahabat. Jika waktu senggang, kami memang
beberapa kali bertemu bahkan menginap di kosan atau rumahnya lalu menghabiskan
waktu semalaman untuk pillow talk, tentang suka-duka kuliah, pekerjaan,
dan lainnya. Dia sempat protes
kalau setiap aku menemuinya, aku pasti juga ada urusan lain. Misalnya, aku menginap di
kosannya beberapa tahun lalu karena esoknya aku harus ikut seminar yang lokasinya
dekat dari sana. Namun bagiku, menyempatkan pertemuan di tengah-tengah kesibukan
akan menjadi hal yang berbeda dibanding dengan pertemuan yang dirancang dari
lama. Lebih … penuh kejutan?
Ada satu topik
yang tak pernah kami bahas selama pillow talk, tentang luka. Di suatu episode
di masa lalu, kami pernah mengalami satu kejadian traumatis. Kami sama-sama
tahu kalau kami terluka, tapi tak pernah tahu kalau luka yang dialami serupa bahkan
lebih basah karena memang tidak pernah dikomunikasikan.
Malam itu, kami
membahasnya. Ia yang pertama dan aku tak percaya kami benar-benar membahasnya.
Selama ini, kami berkomunikasi seperti biasa tanpa merasa ada yang salah.
Setelah perbincangan malam itu, aku paham kalau lukaku tak hanya punyaku. Kami sama-sama
tahu tentang luka kami, tapi nyatanya tidak tahu. Bagaimana membahasakannya?
Kami tahu, tetapi kami tak peduli. Kami sibuk dengan luka masing-masing sampai
tidak menghiraukan yang lain.
Luka yang kupunya
adalah luka yang ia miliki, pun sebaliknya.
Malam itu, dengan
lampu kamar yang dimatikan, aku meminta maaf kepadanya sambil menahan suara
tangis walau air mataku sudah benar-benar deras.
Malam itu, satu
luka yang bertahun-tahun aku simpan, akhirnya bisa mengering.
Ah, ya. Semanis
ini komunikasi. Karena memang tujuan komunikasi adalah menciptakan pemahaman
dan persepsi yang sama antarmanusia. Kalau kita merasa sudah banyak bersosialisasi
dengan orang pun komunikasi sana-sani dengan ponsel, tetapi tidak membangun
satu persepsi, buang saja ponselnya.
Kita lupa
bahwa di samping manusia adalah makhluk yang suka bersosialisasi, ia juga
makhluk egois.
Manusia tak akan bicara kalau itu memberinya nol keuntungan. Komunikasi hanya menjadi ajang untuk bermimikri menjadi lintah kepada orang lain.
Jadi, saranku untuk kamu yang masih bungkam…
Jadi, saranku untuk kamu yang masih bungkam…
Jika diperlukan dan jika keadaan benar-benar memungkinkan,
sempatkanlah untuk berkomunikasi dengan orang yang kau kira punya masalah yang saling bersinggungan denganmu. Kamu tak berhak terluka atas masalah yang terus berulang karena tidak
pernah diselesaikan.
Untuk kamu yang
tetap saja tak bicara… Bicaralah.

Komentar
Posting Komentar