Postingan

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Two years have passed since my smile turned into an asymmetrical curve. Bell's palsy, they called it. A disease that stole my facial expressions. At first, I was determined to heal. I tried everything, from physical therapy to alternative medicine. But as time went by, hope began to fade. Every time I looked in the mirror, my heart ached. The face that used to be full of life now seemed different. Old photos of my perfect smile caused me pain. I wondered why it had to be me. Why did my smile have to disappear? Anxiety and despair started to consume me. Until one day, a thought struck me. I was stuck in a never-ending comparison. I kept comparing my current self with my past self. I forgot that every human is a process. We change, we grow, and we learn from every experience. Yes, my smile may not be perfect anymore, but I still have so much to be grateful for. I can still laugh, even if it's in a different way. I can still feel happiness, even though sometimes I have to work har...

Mencintai dengan Normal

  Aku pernah patah hati. Kenang dan luka yang meradang selalu memukul telak jiwaku setiap mengingatnya. Bukan, bukan karena terlalu manis. Hanya saja, kalau dipikir-pikir, aku tak berhak atas perih ini. Sebab, benar-benar tak ada yang istimewa dari hari-hari yang telah lalu. Semua karena rasa yang terlalu menggebu dan tak terbendung sehingga membuatku mendamba hari yang jelas-jelas tak akan pernah dapat kurengkuh.   Lalu suatu hari, aku memutuskan. Aku akan mencintai dengan normal. Merasa dengan jeruji yang mengekang setiap sisi hati. Agar semua tetap pada posisinya dan tak melewati garis-garis batas rasa. Bukankah semuanya akan lebih baik jika berada dalam genggaman kita?   Aku pun memulai hari-hari baru dengan kenormalan yang kuagungkan itu. Awalnya, semua terasa baik-baik saja. Nyatanya, jeruji yang kutanam hanya membuat rasa semakin menghentak.   Cinta yang normal? Persetan! Bagaimana bisa mencintai dengan normal kalau ia sendi...

Raungan Akar

Gambar
  Konon, ada sebuah pulau terpencil yang dikelilingi oleh pantai berpasir putih dan laut yang sangat jernih. Saat pagi dan siang hari, masyarakat sibuk mencari ikan dan panen rumput laut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun saat sore menjelang, mereka berbondong-bondong meninggalkan bibir pantai. “Monster Pasir dan Penyihir Ombak akan naik ke bibir pantai pada sore hari dan akan melahap siapa saja yang ada di sana,” bisik Nenek Mai, salah satu tetua di pulau itu, kepada anak-anak di hadapannya. Bisikan itu terngiang sejak masa nenek moyang terdahulu sehingga tak ada satu pun masyarakat yang berani mendekati bibir pantai sejak matahari turun dari singgasananya sampai fajar datang keesokan hari.   Di suatu hari, sinar matahari mulai meredup. Tanda agar masyarakat bergegas naik ke pulau. Segerombolan pria menarik pukatnya yang penuh dengan ikan menjauh dari bibir pantai. Anak-anak yang melihat kedatangan mereka langsung berlarian dan segera membantu untuk memungu...

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Gambar
Setiap menonton drama korea, aku selalu melihat satu masalah pelik yang muncul di setiap drama dan menjadi akar permasalahan cerita. Ya, komunikasi . Banyak hal akan menjadi berantakan jika komunikasi terputus satu sama lain, tidak saling bicara, saling memendam kata, dan sebagainya. Nyatanya, masalah komunikasi   tak hanya booming di antara pemeran drama korea dan cerita fiksi, tetapi juga oleh kita-kita di dunia sungguhan. Seperti masalah di organisasi yang selalu mencantumkan poin “miskomunikasi antarpengurus” di setiap laporan pertanggungjawaban. Dan itu sering terjadi padaku. Kira-kira sepekan lalu, aku bertemu dengan seorang sahabat. Jika waktu senggang, kami memang beberapa kali bertemu bahkan menginap di kosan atau rumahnya lalu menghabiskan waktu semalaman untuk pillow talk, tentang suka-duka kuliah, pekerjaan, dan lainnya. Dia sempat   protes kalau setiap aku menemuinya, aku pasti juga ada urusan lain. Misalnya, aku menginap di kosannya beberapa ta...

Utinam Ne Illum Numquam Conspexissem

Gambar
Ethan melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Biasanya, ia akan menikmati aroma desinfektan yang menyeruak di sepanjang lorong, tapi kali ini aroma itu terasa menyesakkan. Ia menggenggam selembar map coklat yang masih mulus, hasil pemeriksaan salah satu pasiennya baru saja keluar. Langkahnya terhenti di depan kamar 504. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, Ethan bisa mendengar sayup-sayup desahan ventilator di samping ranjang tempat Piper terbaring. Menyadari kehadiran Ethan, Mr.Coleman langsung menghampirinya dengan wajah khawatir. Beberapa detik keduanya terdiam di bangku panjang di depan kamar, sampai akhirnya Ethan berani merapalkan diagnosisnya. “Terapi pekan lalu belum memberikan hasil yang signifikan. Inflamasinya sudah mulai mereda, putrimu akan baik-baik saja.” “Seharusnya aku tak membiarkannya ke luar rumah.” Mr.Coleman mengusap wajahnya gusar. Ethan mengusap punggung pria paruh baya itu, menenangkannya. Melihat seluruh rambut pria di sampingnya yang hampir ...

Rote Journey Batch #2: Ya Tuhan, Aku Pesan Skripsi Paket Lengkap!

Gambar
Dari banyaknya hari melelahkan yang terjadi selama hampir 24 tahun hidup, tambah satu lagi hari lain yang melelahkan. 13 Februari 2019, yaitu hari saat karya tulis (a.k.a skripsi) yang telah aku kerjakan selama lebih dari satu tahun dipertanggungjawabkan sekaligus penentuan kelulusan studi sarjanaku. Ditanya ‘deg-degan, nggak?’, nggak juga sih. Paling deg-degan itu saat menunggu teman giliran sebelumnya selesai, tapi setelah masuk ruang sidang, presentasi, dan tanya-jawab oleh dewan penguji, gugupnya mulai hilang. Nyatanya, sidang nggak semengerikan cerita teman-teman yang lain. Di sisi lain, kondisi badan yang sedang tidak fit sejak dua hari lalu malah bikin hari itu terasa lebih melelahkan. Sampai dewan penguji bilang, ‘kamu harus bertahan selama 1,5 jam ke depan. Jangan pingsan!’. Makasih loh, Bu. Aku butuh asupan makanan, sesungguhnya L Oke, kembali ke permasalahan skripsi. Bagi sebagian orang, skripsi adalah beban terbesar selama hidup dan sangat sulit untuk menanggungnya. Seba...

“Sumbangan” Tumpukan Surel Sampai ke Terumbu Karang

Gambar
Di abad yang serba instan seperti sekarang ini, surel merupakan sarana yang sangat memudahkan komunikasi antarmanusia. Bertukar informasi, mengirim pesan, bahkan semakin mudah dengan fitur pengiriman berkas dalam bentuk foto, dokumen, video, dan lainnya secara daring. Walaupun banyak media sosial lain yang lebih menarik, eksistensi surel dalam kehidupan sosial manusia tidak pernah memudar. Nyatanya, tumpukan surel yang berlebihan dalam suatu akun dapat mengancam kehidupan terumbu karang yang terhampar jauh di laut sana loh! Kok bisa? Informasi yang dikutip dari situs Daily Mail menyatakan bahwa satu surel dengan kapasitas standar diperkirakan dapat menyumbang empat gram karbon ke atmosfer.   Produksi karbon tersebut tidak sebatas saat seseorang mengirim dan mendapatkan surel saja, tetapi juga saat surel itu terus tersimpan di dalam akunnya. Hal ini disebabkan oleh perangkat di pusat pengolahan data surel yang terus beroperasi untuk memproses surel-surel tersebut. Sementara, ses...