Raungan Akar

 


Konon, ada sebuah pulau terpencil yang dikelilingi oleh pantai berpasir putih dan laut yang sangat jernih. Saat pagi dan siang hari, masyarakat sibuk mencari ikan dan panen rumput laut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun saat sore menjelang, mereka berbondong-bondong meninggalkan bibir pantai.

“Monster Pasir dan Penyihir Ombak akan naik ke bibir pantai pada sore hari dan akan melahap siapa saja yang ada di sana,” bisik Nenek Mai, salah satu tetua di pulau itu, kepada anak-anak di hadapannya.

Bisikan itu terngiang sejak masa nenek moyang terdahulu sehingga tak ada satu pun masyarakat yang berani mendekati bibir pantai sejak matahari turun dari singgasananya sampai fajar datang keesokan hari.

 

Di suatu hari, sinar matahari mulai meredup. Tanda agar masyarakat bergegas naik ke pulau. Segerombolan pria menarik pukatnya yang penuh dengan ikan menjauh dari bibir pantai. Anak-anak yang melihat kedatangan mereka langsung berlarian dan segera membantu untuk memunguti ikan yang nyangkut di sana. Para wanita paruh baya mendorong gerobak yang sudah penuh dengan rumput laut segar.


“Ayo cepat naik! Senja datang!” seorang wanita berteriak kepada kawannya yang masih berdiri di bibir pantai.

Yang dipanggil hanya menoleh sesaat untuk melambaikan tangan, “suamiku masih di sana! Berani sekali cari ikan jauh-jauh.” Ia menunjuk tiga titik kecil yang jauh dari bibir pantai, suami beserta 2 orang bujangnya.

Sang matahari mulai mundur perlahan dari singgasana dan menumpahkan cahaya senja pertamanya. Melihat perubahan warna langit, wanita itu kembali berseru.

“Cepat pulang, oi!”

Masih misuh-misuh menunggu suami dan anak-anaknya yang sedang berjalan menepi, wanita itu menyadari kilauan cahaya di sekelilingnya. Ia menoleh dan betapa terkejut wanita itu saat melihat kepingan berlian di antara serpihan pasir putih di sepanjang bibir pantai.

Dengan mata yang membelalak, ia berlari ke arah kawan-kawannya yang sudah lebih dulu naik ke pulau.

Oi! Oi! Banyak berlian di pantai!” serunya.

“Jangan gila.”

Tak kunjung mendapat tanggapan, ia memutar kepala salah satu kawannya dengan paksa.

Oi! Berlian!” Kawannya ikut berseru. Di matanya terpancar titik-titik kilau berlian yang ia tangkap.

Masyarakat yang lain ikut menoleh dan sama terkejutnya dengan wanita itu saat mendapati kepingan berlian di pulau mereka. Sontak, mereka membuang ikan dan rumput laut di gerobak dan berbondong-bondong ke bibir pantai. Jemari mereka secepat kilat memunguti berlian dari yang paling kecil sampai yang besar sekalipun lalu melemparnya ke gerobak. Sampai akhirnya mereka menyadari perubahan di sekeliling mereka.

Langit berubah gelap padahal senja belum usai. Tanah yang dipijaki mulai bergetak. Pasir pantai yang sudah bersih dari kepingan berlian kini berubah coklat dan perlahan membentuk bola-bola pasir yang bergulir ke laut.

Oi, ombak!” Seru salah seorang di antara mereka yang melihat ombak yang menggulung dan memelintir dari kejauhan. Suaranya menderu.

Masyarakat pulau kehabisan waktu.

Bola-bola pasir bergulir semakin cepat dan menghantam mereka satu-persatu. Lubang-lubang besar pun bermunculan di beberapa titik, membuat orang-orang yang berdiri di atasnya terjerembap. Ombak sudah berdiri menantang di hadapan mereka lalu menghempaskan tubuhnya sampai seluruh masyarakat di bibir pantai terpelanting ke sana ke mari.

Dalam sekejap, bibir pantai hampa. Beberapa saat kemudian, pohon-pohon besar tumbuh dari dalam pasir kemudian disusul dengan tangan-tangan manusia yang mencuat seakan meraung kehabisan napas. Awalnya, jemari mereka meraih-raih udara kosong sebelum akhirnya mengeras kaku seperti akar kayu. Sepanjang malam, pulau itu dipenuhi dengan raungan dari dalam pasir di bibir pantai yang tak kunjung reda.



Nenek Mai mengintip peristiwa nahas itu dari kejauhan. Di pangkuannya, anak-anak masih tertidur pulas dengan telinga yang tersumpal kain.

Makhluk tamak,” bisiknya lirih.

 ***


Writer's note:

Pertama kali menulis dongeng, mohon komentarnya ya!

Komentar