Rote Journey Batch #2: Ya Tuhan, Aku Pesan Skripsi Paket Lengkap!

Dari banyaknya hari melelahkan yang terjadi selama hampir 24 tahun hidup, tambah satu lagi hari lain yang melelahkan. 13 Februari 2019, yaitu hari saat karya tulis (a.k.a skripsi) yang telah aku kerjakan selama lebih dari satu tahun dipertanggungjawabkan sekaligus penentuan kelulusan studi sarjanaku. Ditanya ‘deg-degan, nggak?’, nggak juga sih. Paling deg-degan itu saat menunggu teman giliran sebelumnya selesai, tapi setelah masuk ruang sidang, presentasi, dan tanya-jawab oleh dewan penguji, gugupnya mulai hilang. Nyatanya, sidang nggak semengerikan cerita teman-teman yang lain. Di sisi lain, kondisi badan yang sedang tidak fit sejak dua hari lalu malah bikin hari itu terasa lebih melelahkan. Sampai dewan penguji bilang, ‘kamu harus bertahan selama 1,5 jam ke depan. Jangan pingsan!’. Makasih loh, Bu. Aku butuh asupan makanan, sesungguhnyaL
Oke, kembali ke permasalahan skripsi. Bagi sebagian orang, skripsi adalah beban terbesar selama hidup dan sangat sulit untuk menanggungnya. Sebagian lainnya, menganggap skripsi tidak ada apa-apanya dibanding persoalan hidup lain yang lebih rumit. Nyatanya, skripsi adalah salah satu dari jutaan paket ujian hidup yang dihidangkan Tuhan untuk kita. Karena kita yang menyantapnya, kita yang harus memutuskan paket seperti apa yang akan kita pesan agar terasa lebih nikmat.
Pengerjaan skripsi adalah hal yang menurutku menarik. Selain karena aku suka menulis, aku mengerjakan skripsi dengan tema yang nekat aku usung sendiri. Bagaimana nggak nekat? Iya memang, temanya mengenai konservasi laut yang cukup aku kuasai walaupun masih butuh banyak yang dikaji. Embel-embelnya, ada unsur kearifan lokal masyarakat di Rote Ndao.
Pertama, sebagai orang yang menganggungkan kepastian, aku sangat menyukai ilmu alam (apalagi biologi) dan sangat membenci ilmu sosial. Buatku, ilmu sosial itu terlalu abstrak dan asddgflhflgjlkl (no komen, deh). Mengusung tentang kearifan lokal di masyarakat yang notabene didasari oleh ilmu sosial adalah salah satu kebodohan besar yang pernah aku lakukan. Ide ini aku dapat setelah mendengar presentasi di sebuah seminar yang diselenggarakan oleh salah satu lembaga pemerintah. Sewaktu menyimak pemaparan penelitian tentang kearifan lokal ini, pikiran aku langsung meliar dan sangat berharap bisa melanjutkan penelitian tersebut. Tahu ‘kan rasanya tiba-tiba dapat ide? Walaupun idenya agak gila, tapi saat itu kepala terasa sangat cemerlang dan dalam hati merapal, ‘pokoknya nggak mau tau. Gimanapun caranya, aku harus bisa menaklukkan ide gila ini!’
Di sisi lain, aku termasuk orang yang kepo abis dan bersedia melakukan banyak hal demi memenuhi hausnya rasa penasaranku. Saat penyusunan proposal skripsi, aku cukup kesulitan merancang latar belakang masalah yang nyatanya aku pun belum pernah melihat, mendengar, meraba, dan me- me- yang lain secara langsung. Aku hanya mengandalkan artikel penelitian yang kulihat di seminar, beberapa buku di perpustakaan, komunikasi dengan sebuah lembaga pemerintah yang mendampingi penerapan kearifan lokal yang sedang aku kaji, dan (siapapun itu yang menciptakan internet untuk pertama kali, terima kasih) artikel-artikel dalam jurnal daring. Tentunya, aku pun memanfaatkan imajinasi dalam kepala yang tak terbatas untuk menggambarkan permasalahan yang akan aku tuangkan dalam proposal. Sulit? Banget!
Kedua, lokasi penelitian yang aku usung adalah Rote Ndao. For your information, nama daerah itu teramat asing buatku ketika pertama kali mendengarnya. Jujur saja, aku nggak pernah dengar. Sesaat setelah menyimak presentasi di seminar yang aku ceritakan di atas, aku langsung mencari daerah tersebut. Oh ternyata, Rote Ndao terletak di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan merupakan kabupaten paling selatan Indonesia. Apa??! NTT?! Manusia cupu ini saja belum menaklukkan Pulau Jawa, sekarang malah nekat mau menyeberang ke NTT? Absolutely, crazy.
Bukan hal yang mudah untuk menyambangi Rote Ndao yang jaraknya ribuan kilometer dari Jakarta. Masalah paling nyata dan sulit adalah biaya. Akomodasi ke pulau tersebut dari perjalanan pergi, tinggal selama satu bulan, sampai kembali lagi ke Jakarta membutuhkan biaya yang tidak murah. Yaa, ekornya hanya enam angka nol, sih. Dibandingkan dengan drama penyusunan skripsi, masalah ini yang lebih bikin pusing tujuh keliling. Ya iya dong, kalau nggak ada uang, aku pun nggak akan bisa penelitian di sana. Cukup banyak instansi-instansi yang aku dan dua teman (yang berhasil aku hasut untuk melakukan penelitian di Rote Ndao) datangi, dari perusahaan, lembaga swadaya masyarakat, sampai lembaga pemerintah untuk mengajukan permohonan dana. Hasilnya? Yaa paling tiba-tiba kebangun di pagi hari dapat telepon atau surel yang isinya ‘mohon maaf kami belum dapat membantu Anda’. Paling parah, nggak dapat jawaban sama sekali.
Selama penantian kabar itu, aku terus berusaha menyelesaikan proposal skripsiku, mengadakan seminar proposal, bahkan memikirkan rencana lain kalau ternyata rencana ini gagal. Sempat berkali-kali hampir menyerah, tapi aku terus meyakinkan diriku kalau ini semua belum berakhir. Tentunya, peran terbesar dimiliki oleh dua teman seperjuanganku yang selalu sabar setiap kali aku nge-down. Sampai akhirnya kami terlalu lelah dengan penantian dan penolakan itu, kami pun memutuskan untuk berangkat ke Rote Ndao di pertengahan bulan September 2018 dengan biaya dari murninya kucuran keringat kami sendiri. Agak-agak berasa mimpi, sih. Nggak nyangka bisa terbang ke Rote Ndao dan tinggal di sana satu bulan lamanya dengan biaya sendiri.
Selama pengerjaan skripsi, Tuhan memberikan kemudahan yang lebih dari cukup dan kesulitan yang mendewasakan buatku. Misalnya, kehidupan di Rote Ndao yang dibantu oleh orang-orang yang tidak terduga dan dikelilingi masyarakat lokal yang ramah. Dibandingkan dengan teman-teman lain yang sedang atau sudah mengerjakan skripsi, aku pun merasa memiliki dosen pembimbing yang sangat kooperatif. Sewaktu aku mengajukan proposal skripsiku pun beliau-beliau tidak banyak bertanya apalagi merendahkan. Paling hanya bertanya, ‘kenapa jauh banget risetnya? Kamu punya saudara di sana?’, ‘itu kampung halaman kamu?’, ‘ada biayanya?’. Yang paling terakhir ini yang jawabnya dibumbui nyengir-nyengir malu. Walaupun di saat-saat tertentu aku pun merasa berat menghadapi dosen pembimbing kedua yang asdghfkjl, tapi aku akui beratnya nggak seberapa dengan perjuangan teman-teman lain dalam menghadapi dosennya. Hal yang paling sulit adalah menekan egoku sendiri setiap kali mendapat saran revisi dari dosen tersebut yang tidak sesuai dengan pendapatku. Masalah itu terjadi sepulangku dari Rote dan mulai menyusun bab selanjutnya. Bahkan, sempat pusing dan nangis karena kesal dengan ego yang batu banget. Melawan diri sendiri itu rasanya .... ah, sudahlah.
Usai drama jatuh-bangun selama pengerjaan skripsi, akhirnya aku dinyatakan lulus dengan perbaikan pada tanggal 13 Februari kemarin. Setelah pengumuman sidang, salah satu dosen menyampaikan apresiasi kepadaku dan dua teman lain atas usaha besar kami. Katanya, ‘usaha kalian satu tahun ke belakang sudah menyentuh langit-langit’ (auto dengak ke langit-langit kelas). Beliau inilah yang paling paham perjuangan kami saat mencari sponsor penelitian selama ini. Dahulu, beliau pun meyakinkan kepada kami kalau menambah masa kuliah satu semester lagi tidak masalah, hasil yang kami dapat pun akan lebih ‘wah’. Nothing to lose, katanya.
Tidak lupa, para dosen mendukung kami untuk melanjutkan penelitian kami untuk studi ke jenjang yang lebih tinggi. Saat itu pula aku menyadari, ‘ah, perjalananku tidak sampai di sini’. Masih banyak jalan yang harus aku tempuh untuk memenuhi ambisiku. Menjadi orang yang ambisius itu nggak salah ‘kan? Asalkan, selama memenuhi ambisi itu jangan sampai menjatuhkan orang lain yang tidak seharusnya dijatuhkan pun dengan cara yang picik.
Skripsi paket lengkapku penuh dengan drama dan pendewasaan diri. Mulai dari rasa lelah berkepanjangan, rasa syukur yang terus dirapalkan, sampai perasaan jatuh cintaku sama Rote Ndao yang masih terus tumbuh sampai sekarang. Buatku, Rote Ndao menyingkap kesombonganku yang selama ini memandang sebelah mata ilmu-ilmu sosial. Rote pun mendorongku untuk terus menggali lebih banyak tentang sosial dan budaya masyarakat lokal yang sekarang terasa sangat menarik buatku. Waktu 4,5 tahun di bangku kuliah adalah waktu yang cukup (dicukup-cukupi, deh) untuk aku bisa mengeksplorasi diriku dan lingkungan sekitar. Melakukan banyak hal, dari nongkrong-nongkrong nggak jelas bersama teman-teman sampai melakukan beberapa penelitian dan publikasi ilmiah.
Seperti biasa, Tuhan selalu tahu apa yang hamba-Nya butuhkan. Ia bisa menghidangkan paket-paket hidup kita dengan cara yang paling manis. Aku nggak pernah memesan skripsi yang mudah (ini tahu diri banget karena tema aku emang agak sulit), tapi Ia memudahkannya. Aku nggak pernah memesan orang-orang tak terduga yang membantuku selama skripsi, Ia yang memanggil dan mendekatkan mereka kepadaku. Aku pun nggak memesan egoku yang berkobar-kobar dan sangat menyulitkanku, tapi Ia memberikannya karena aku perlu belajar lebih rendah hati.
Sekali lagi, kita bisa memesan skripsi paket lengkap sesuai dengan kehendak kita, tapi selalu Tuhan yang menentukan paket seperti apa yang pantas buat kita nikmati. Kesulitan kita memang hanya kita yang punya, pun dengan kemudahan. Ada yang diberikan skripsi paket lengkap dengan lulus cepat 3,5 tahun. Ada yang diberikan skripsi paket lengkap dengan cepat mendapat pekerjaan impian. Ada yang diberikan skripsi paket lengkap dengan membantu orang tua di rumah. Bahkan, skripsi paket lengkap dengan drama ala-ala (if you know what i mean) itu juga hal terbaik yang diberikan Tuhan buat kamu, loh! Tinggal bagaimana cara kita mensyukurinya.
Woah, banyak juga tulisan ini. Bukannya cepat revisi, malah nulis di blog (wkwk). Ya, nggak apa-apalah ya. Semoga banyak menginspirasi orang-orang untuk bisa menanggung skripsinya dengan lebih senang hati. Sekian dari aku yang lemah ini (sambil batuk-batuk). Makasi ba’uk! Salam hangat dari manusia yang pernah menghirup sejuknya udara Rote Ndao yang agak panas dan berpasir selama satu bulanJ
Bahagia banget kan kita di tempat yang asing ini:)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal