“Sumbangan” Tumpukan Surel Sampai ke Terumbu Karang
Di
abad yang serba instan seperti sekarang ini, surel merupakan sarana yang sangat
memudahkan komunikasi antarmanusia. Bertukar informasi, mengirim pesan, bahkan
semakin mudah dengan fitur pengiriman berkas dalam bentuk foto, dokumen, video,
dan lainnya secara daring. Walaupun banyak media sosial lain yang lebih
menarik, eksistensi surel dalam kehidupan sosial manusia tidak pernah memudar. Nyatanya,
tumpukan surel yang berlebihan dalam suatu akun dapat mengancam kehidupan
terumbu karang yang terhampar jauh di laut sana loh! Kok bisa?
Informasi
yang dikutip dari situs Daily Mail menyatakan bahwa satu surel dengan kapasitas
standar diperkirakan dapat menyumbang empat gram karbon ke atmosfer. Produksi karbon tersebut tidak sebatas saat
seseorang mengirim dan mendapatkan surel saja, tetapi juga saat surel itu terus
tersimpan di dalam akunnya. Hal ini disebabkan oleh perangkat di pusat
pengolahan data surel yang terus beroperasi untuk memproses surel-surel
tersebut. Sementara, seseorang dapat mengirim dan mendapatkan rata-rata
sebanyak 125 surel dalam sehari. Bayangkan jika jumlah ini dimiliki oleh seribu
orang dalam satu bulan, produksi karbon dapat mencapai 15 ton. Angka tersebut lebih
tinggi dari rata-rata produksi karbon dari penggunaan satu mobil ukuran sedang
selama dua tahun sebesar 12 ton.
Karbon
yang diproduksi akan terakumulasi di atmosfer dan menyebabkan perubahan suhu
bumi yang ekstrem. Kondisi tersebut memicu serangkaian peristiwa perubahan
iklim, dimulai dari perubahan pola musim yang tidak menentu, banjir bandang,
peningkatan tinggi permukaan laut, pemanasan serta pengasaman air laut, dan
lainnya. Peningkatan suhu bumi terjadi
sejak pertengahan tahun 1970-an dengan suhu terhangat bumi pada tahun 1981.
Tidak sampai di situ, laporan menunjukkan bahwa tahun 2001-2010 merupakan
dekade dengan suhu terpanas.
Data yang bersumber dari pengukuran bulan Oktober 2018 yang
dilakukan oleh NOAA (National Oceanic
Atmospheric Administration) menerangkan bahwa akumulasi karbon dioksida
mencapai 409 ppm (parts per million).
Angka tersebut memiliki selisih 19 ppm dari angka tahun 2010. Laut telah
menyerap banyak panas dari peristiwa ini, dengan lautan setinggi 700 meter
(sekitar 2.300 kaki) menunjukkan pemanasan lebih dari 0,4 derajat Fahrenheit
sejak tahun 1969. Apa hubungannya dengan terumbu karang?
Kurang
dari sepersepuluh bagian dari satu persen lautan di bumi adalah hamparan
terumbu karang. Namun, terumbu karang dapat memberikan tempat tinggal bagi 25
persen spesies yang hidup di laut. Terumbu karang merupakan ekosistem yang
paling produktif dari segi hayati di bumi. Ekosistem ini dapat menghasilkan
setengah dari oksigen di bumi dan menyerap hampir sepertiga dari karbon
dioksida yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil. Area terumbu karang
dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai sumber penghasilan nelayan, situs
pariwisata, dan pengembangan kosmetik serta obat-obatan.
Salah
satu kawasan terumbu karang di Asia Tenggara dan Pasifik Barat adalah Segitiga
Terumbu Karang (Coral Triangle). Kawasan
ini memiliki 29 persen luas terumbu karang dunia, yaitu sebesar 73.000 km2.
Kabar baiknya, Indonesia merupakan negara yang memiliki area terumbu karang
paling luas dibanding tujuh negara lain di kawasan Segitiga Terumbu Karang. Kabar
buruknya, 93% terumbu karang di Indonesia mengalami ancaman tingkat sedang
sampai tingkat tinggi berdasarkan data tahun 2007.
Komunitas
karang yang merupakan penyusun utama dari ekosistem terumbu karang hanya dapat
berkembang baik pada kondisi air laut dengan tingkat keasaman, suhu, dan laju
arus yang optimal. Sekitar 30 persen karbon dioksida yang terakumulasi dari
aktivitas manusia akan larut di laut dan mengubah susunan senyawa air laut.
Perubahan ini berimbas pada pertumbuhan karang yang terhambat. Selain itu, tingginya
suhu air laut dapat menyebabkan peristiwa pemutihan karang. Struktur kerangka
karang lambat laun akan keropos, karang menjadi mudah terserang penyakit, dan
akhirnya mengalami kematian.
Peristiwa
meningkatnya arus laut juga dapat terjadi akibat perubahan iklim. Hal tersebut
berdampak pada perubahan suhu dan konektivitas arus di laut. Selanjutnya, laju
arus yang meningkat mengurangi peluang karang untuk mendapatkan makanannya
karena laju makanan yang terlalu cepat dan karang pun akan mati. Kematian
karang berdampak pada produktivitas flora dan fauna yang tinggal di area
terumbu karang. Masih banyak efek domino dapat terjadi dari serangkaian
peristiwa yang dipicu oleh perubahan iklim. Tentunya, kejadian ini tidak hanya
berimbas pada komunitas karang, tetapi juga komunitas-komunitas lain yang hidup
di area terumbu karang.
Apabila
produksi karbon di atmoster berada pada angka yang tetap hingga tahun 2030, 90
persen terumbu karang di dunia diperkirakan akan terancam karena peningkatan
suhu air laut dan kegiatan manusia. Apabila hal ini terjadi, apakah terbayang
beberapa tahun ke depan hanya sepuluh persen terumbu karang yang masih tersisa
di bumi? Kehilangan angka sebesar ini tentunya juga menimbulkan banyak
kerugian, seperti hilangnya keanekaragaman hayati, pendapatan negara yang
berasal dari terumbu karang menjadi berkurang, dan masyarakat pesisir tidak
dapat lagi bergantung pada ekosistem tersebut.
Kembali
ke perkara surel, mungkin kebanyakan orang menganggap penggunaan surel tidak
memiliki dampak besar bagi kerusakan terumbu karang. Nyatanya, produksi karbon
dari penggunaan surel hanya sebagian yang sangat kecil dari akumulasi karbon di
atmosfer. Karbon tersebut juga belum tentu termasuk ke persentase karbon yang
diserap oleh laut sehingga menyebabkan masalah bagi keberlanjutan ekosistem
terumbu karang. Jika pemikiran-pemikiran ini tetap dimiliki semua manusia,
bukankah perkiraan berkurangnya terumbu karang di tahun 2030 benar-benar akan
terjadi?
Sebenarnya,
tidak menggunakan surel bukanlah solusi yang paling tepat dalam permasalahan
ini. Banyaknya kemudahan dalam berkomunikasi yang didapat dari penggunaan surel
pun tidak menyebabkan manusia serta-merta berpaling. Di samping itu, surel
menjadi sarana alternatif dalam menanggulangi masalah penebangan pohon karena
dapat mengurangi penggunaan kertas untuk dokumen-dokumen cetak. Lantas,
bagaimana jalan ke luar bagi perkara surel ini?
Surel
tetap baik untuk digunakan dengan meninjau dari segi kebermanfaatan dan
efisiensinya, selama belum ada sarana lain yang lebih ramah lingkungan. Dalam
setiap penggunaan, produksi karbon tetap bisa ditekan, sekecil apapun itu.
Caranya dengan menghentikan surel berupa notifikasi media sosial atau iklan
promosi yang kurang bermanfaat. Banyak orang yang secara sengaja atau tidak
sengaja berlangganan dua jenis layanan surel tersebut. Bahkan, surel jenis ini
bisa lebih banyak jumlahnya dibanding surel yang sifatnya penting. Oleh karena
itu, surel-surel tersebut lebih baik dihentikan. Apabila benar-benar dibutuhkan,
tidak masalah untuk tetap berlangganan, tetapi langsung menghapus setelah
membacanya. Selain itu, pembersihan akun dari surel yang sudah tidak diperlukan,
surel spam, dan surel pada folder bin juga diperlukan untuk menghindari
penumpukan.
Di
samping surel, sebenarnya masih banyak hal lain dalam kehidupan sehari-hari
yang perlu diperhatikan. Nyatanya, semua kegiatan yang dilakukan manusia pasti
berdampak bagi lingkungan, sekecil apapun itu. Setiap orang harus lebih
perhitungan dalam melakukan kegiatan sehari-harinya untuk menghindari produksi
karbon yang berlebihan. Aplikasi untuk menghitung carbon footprints seseorang dalam keseharian sudah banyak
disediakan oleh beberapa instansi, misalnya WWF (World Wide Fund for Nature) di footprint.wwf.org.uk,
Resurgence di resurgence.org, dan
khusus untuk standar Indonesia di iesr.or.id
yang dikelola oleh IESR (Institute for
Essential Service Reform). Pengetahuan tentang jumlah karbon yang
diproduksi setiap orang dibutuhkan untuk dapat mengambil langkah yang benar dalam
menjalani hidup sekaligus menjaga lingkungan. Prinsipnya, “ada harga yang harus dibayar untuk setiap hal yang kita lakukan, pun
yang berkaitan dengan lingkungan”. Selamat memulai hidup ramah lingkungan!

Komentar
Posting Komentar