Utinam Ne Illum Numquam Conspexissem


Ethan melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Biasanya, ia akan menikmati aroma desinfektan yang menyeruak di sepanjang lorong, tapi kali ini aroma itu terasa menyesakkan. Ia menggenggam selembar map coklat yang masih mulus, hasil pemeriksaan salah satu pasiennya baru saja keluar.
Langkahnya terhenti di depan kamar 504. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, Ethan bisa mendengar sayup-sayup desahan ventilator di samping ranjang tempat Piper terbaring. Menyadari kehadiran Ethan, Mr.Coleman langsung menghampirinya dengan wajah khawatir. Beberapa detik keduanya terdiam di bangku panjang di depan kamar, sampai akhirnya Ethan berani merapalkan diagnosisnya.
“Terapi pekan lalu belum memberikan hasil yang signifikan. Inflamasinya sudah mulai mereda, putrimu akan baik-baik saja.”
“Seharusnya aku tak membiarkannya ke luar rumah.” Mr.Coleman mengusap wajahnya gusar.
Ethan mengusap punggung pria paruh baya itu, menenangkannya. Melihat seluruh rambut pria di sampingnya yang hampir memutih seluruhnya, Ethan bisa menebak rentang perbedaan usia Mr.Coleman dan putrinya. Ia membayangkan betapa luar biasa perjuangan Mr.Coleman untuk memiliki anak pertama semuda Piper. Dan perjuangan itu dibayar dengan kondisi Piper yang lebih luar biasa seperti ini.
Ethan masih ingat dengan jelas diagnosis pertama yang ia berikan untuk Piper setahun lalu. Waktu itu ranjang dorong yang ditiduri Piper memasuki ruang UGD. Wajah gadis itu biru kemerahan dan suara napasnya berderik. Usai serangkaian pemeriksaan, Ethan hanya bisa tertawa miris melihat hasilnya. Sinting.
Ada beberapa jenis hormon yang bekerja di tubuh Piper saat ia menginjak pubertas, salah satunya testosteron. Ada yang salah dari gen testosteron Piper sehingga mengekspresikan senyawa  yang berbeda. Senyawa ini dianggap asing oleh tubuhnya dan menyebabkan reaksi alergi yang hebat. Reaksi ini akan muncul di waktu-waktu testosteron diproduksi dalam kadar di atas batas normal, seperti saat Piper berinteraksi dengan lawan jenis yang melibatkan hal-hal seperti nafsu dan perasaan. Flirting... Having sex...
Dokter dari seluruh penjuru dunia pun akan mencemooh diagnosis yang kacau ini.
*

Ada sebuah taman di atap gedung A rumah sakit tempat pasien dan keluarganya menghirup udara segar di sore hari. Taman ini menyediakan beberapa bangku panjang serta pemandangan air mancur di pusat taman yang dikelilingi petak-petak berbagai jenis bunga. Usai musim dingin yang panjang menerpa Bellevue bulan lalu, awal April ini adalah waktu untuk kuncup bunga-bunga itu kembali mekar.
Kamar 504 berada di gedung sebelahnya dengan jendela kamar langsung menghadap taman tersebut. Alih-alih pergi ke taman itu, Piper hanya sesekali mengintip ke taman melalui celah jendela kamarnya, seperti sore ini.
Ethan berdiri beberapa saat di ambang pintu sebelum akhirnya menghampiri Piper yang sedang duduk di ranjang sambil menatap ke arah taman.
“Jangan,” bisik gadis itu saat Ethan baru akan membukan jendela kamarnya. “Katamu aku tidak boleh bernafsu. Aku akan bereaksi saat melihat pasangan yang duduk-duduk di taman itu,” lanjutnya dengan nada bercanda, tapi Ethan tahu ia serius.
Ethan menghela napas dan tetap membukakan jendela kamar Piper.
“Penyakitmu tidak semudah itu datang seperti batuk atau flu, Miss Coleman.”
Ethan duduk di samping gadis itu.
“Tetapi akan lebih baik kalau aku hanya batuk dan flu berbulan-bulan.” Piper bergumam.
Sudah tiga hari sejak ventilator yang membantu pernapasan Piper saat penyakitnya kambuh pekan lalu, tapi Ethan masih melihat ruam di leher dan punggung tangan gadis itu. Wajah putihnya masih tampak pucat.
“Bunga itu dari Aidan,” Piper menunjuk satu vas bunga iris di pinggir jendela. Ia tersenyum getir sebelum melanjutkan, “Di sekolah, ia kecanduan pelajaran mitologi kuno! Dia suka Iris.”
Ethan mengerutkan kening. “Aidan menjengukmu?” Mr.Coleman tak akan membiarkannya...
Piper segera menggeleng. Kepalanya menoleh ke arah pintu di belakangnya, mengisyaratkan kalau Aidan hanya berani meletakkan bunga itu di depan pintu saat Mr.Coleman tidak ada.
“Dia memberikan iris saat pertama kali menyatakan cintanya kepadaku dan berjanji tidak akan pernah menyakitiku.” Piper menghela napas.
...Aku tidak percaya Aidan menyakitiku seperti ini.”
Piper menatap Ethan di sebelahnya.
“Ethan, kau pernah mendengar frasa ini? Utinam Ne Illum Numquam Conspexissem...”
Ethan menggeleng.
If only i had never seen him.”
Ucapan Piper salah. Jika saat ini ia berharap untuk tidak pernah bertemu Aidan, akan ada Aidan-Aidan lain setelahnya. Dan takdir yang ia miliki tak akan berubah.
Piper hanya gadis sembilan belas tahun yang sama dengan gadis lain. Mereka jatuh cinta kemudian patah hati. Sayangnya, ia patah hati bukan karena sang lelaki menyakitinya, tetapi karena dirinya sendiri. Patah hati yang dirasakan gadis itu belum ada penawarnya.
*

Ethan melirik jam dinding, pukul tujuh pagi. Ia segera meletakkan pena di tangannya kemudian mengusap wajah. Kertas-kertas dan buku berserakan di hadapannya. Berapa kalipun Ethan mencari selama semalaman penuh, ia sama sekali tidak mendapatkan jalan keluar untuk kelainan yang diderita Piper. Segalanya terasa adsurb.
Yang terpenting, Ethan harus pergi ke kafe untuk memesan espreso sekarang. Shift paginya akan segera dimulai dan ia tidak ingin dimarahi karena tiba-tiba tertidur di tempat kerja.
Ethan baru saja membuka pintu ruangan dan menemukan seorang pemuda di depannya. Pemuda itu mengangkat kepalan tangannya, tampak seperti ingin mengetuk pintu.
“Ethan Quinn?” Pemuda itu terdengar percaya diri, tetapi Ethan tahu ia sedikit takut. “Saya Aidan. Ng... Piper—“
Ethan segera mengangguk. Ia memperhatikan penampilan Aidan. Pemuda itu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dan celana jin yang masih mulus, menunjukkan bahwa ia datang langsung pagi-pagi begini dari rumah sebelum waktu sekolahnya dimulai.
Ethan menutup pintu ruangannya lalu melenggang pergi. Dengan langkah besar-besar, Aidan mengikuti di sebelahnya.
Sir, apakah Piper sakit parah? Apakah ia akan mati? Kapan? Berapa lama lagi waktunya?” Aidan memburu Ethan yang sedang memesan minuman dengan pertanyaan.
Ethan menerima espresonya lalu duduk di salah satu meja kafe.
Sir—“
Sorry, Aidan. You aren’t her relative, i can’t tell you anything.”
Ethan menyesap espresonya. Aidan menatapnya dalam.
“Mr.Quinn, berapa usiamu? Kepala tiga? Awal tiga puluhan?” Aidan menerka. “Kau pasti sudah bertemu banyak gadis kemudian jatuh cinta.”
Ethan terdiam, membiarkan pemuda di hadapannya melanjutkan ucapannya.
“Aku baru sembilan belas tahun dan Piper adalah cinta pertamaku,” lanjut Aidan.
Kata-kata seperti cinta pertama atau ciuman pertama selalu terasa konyol dan menggelitik bagi Ethan. Terlalu kekanak-kanakan. Tapi kali ini, ucapan Aidan sama sekali tidak lucu.
 “Aidan, kau ingin Piper cepat sembuh?”
Aidan sontak mengangguk.
“Maka jangan lakukan apa-apa.”
Ethan bangkit dari kursinya lalu melangkah pergi. Espreso yang ia pesan teronggok di atas meja dengan uap yang masih mengepul.
*

Dibanding kedatangan Aidan beberapa hari lalu ke ruangannya, Ethan lebih terkejut dengan kehadiran Mr.Coleman malam ini.
“Piper tidak ada di kamarnya,” ucap pria itu dengan napas tersengal.
Ethan sontak membanting pintu dan berlari ke kamar 504. Kamar itu kosong—dan terasa lebih kosong tanpa bunga iris yang mengisi vas di dekat jendela. Ethan mendobrak pintu toilet. Kosong. Ia hanya menemukan satu kotak kosmetik dan lipstik yang masih terbuka di dalam wastafel.
Selama di rumah sakit, Piper sangat jarang keluar dari kamar. Ia hanya keluar jika pergi ke ruang pemeriksaan atau sesekali menghirup udara segara di sepanjang lorong depan kamarnya. Ia tak pernah menghilang saat pukul sembilan malam seperti sekarang.
Ethan berlari ke luar kamar dan menyusuri lorong-lorong setiap gedung rumah sakit. Langkahnya menuntunnya untuk menyusuri anak tangga darurat di gedung A. Satu tempat yang sejak tadi terpikirkan oleh Ethan, taman di atap gedung itu.
Jemari Ethan menggenggam tiang lampu taman yang berpendar. Napasnya terengah. Dari kejauhan, ia melihat punggung Piper dalam balutan piyama kuningnya. Aidan berdiri di hadapan gadis itu, sangat dekat. Ethan tersentak saat tiba-tiba tubuh Piper goyah dan ia jatuh di lengan Aidan. Ethan bergegas menghampiri mereka.
Sir—“ Aidan tergugu-gugu. Seluruh tubuhnya bergetar sambil menatap horor bercak darah yang keluar dari hidung dan mulut Piper dan menodai buket bunga iris dalam genggamannya.
Piper tampak sangat kacau. Seluruh tubuhnya memerah dan napas gadis itu berderik. Ethan segera meraih tubuh Piper dan membopongnya turun.
Lampu di sepanjang lorong rumah sakit memperjelas wajah Piper yang pucat. Gadis itu tampak sangat kesakitan.
Di antara napas Ethan yang terengah-engah, Piper berbisik, “Ethan—“
Gadis itu susah payah membuka bibirnya.
“Terima kasih...”
“karena... tak mengatakannya—“
Suaranya semakin rendah.
“—kalau kau... menyukaiku.”
Tangan Piper yang menggenggam jubah putih Ethan melemah sampai akhirnya jatuh ke udara.
*

R.I.P
Piper Coleman
2000-2019


Note: kelainan dalam cerita ini adalah karangan semata dan sama sekali tidak berkaitan dengan kondisi medis apapun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal