Surat Balasan Untuk Sahabat
Lalu, gadis di seberang
sana mengirimkan foto wajahnya, lengkap dengan riasan bedak dan lipstik tebal
merona. Gaya kerudungnya pun sudah ala selebriti hijab.
Aku menyeringai.
That
little star has grown up so fast.
Seingatku, dulu ia
hanya gadis mungil yang pintar merengek.
Kami lahir di tahun yang sama, tetapi
berbeda 8 bulan. Aku November, dia Februari. Jarak 8 bulan ini selalu menjadi
dalihnya untuk mendapatkan perlakuan santun dariku setiap kali aku jahil.
“Ingat!
Aku ini lebih tua darimu. Jangan songong dong.” Ia merengut, membuat pipi
tembamnya tampak seperti bakpao.
Aku hanya menyeringai
dan hari-hari berikutnya ia tetap menjadi sasaran kejahilanku.
*
Waktu itu aku masih
duduk di bangku SMA. Masa ketika aku bisa merasa bahagia seakan dunia
benar-benar ada dalam genggamanku dan merasa sedih seperti dunia di hadapanku
runtuh seluruhnya. Masa ketika jatuh cinta adalah hal termanis di dunia, tetapi
patah hati tak kalah manisnya. Manis keasam-asaman sih.
Untuk mengabadikan
semua rasa yang membuncah itu, aku dan dia selalu memiliki buku catatan
masing-masing. Semuanya tertulis di sana, perasaan, cerita harian, tak jarang
pula ketika aku dan dia sama-sama tak ingin bicara, kata dalam tulisan selalu
menjadi jalan ke luar. Bagiku, gadis mungil itu seperti kekasih yang tak pernah
absen menyuguhkan kata-kata magis nan manis untuk pasangannya—oke, ini
menjijikan.
Ia menyebutku bunga dan
bumi. Aku menyebutnya bintang dan matahari.
Hal
yang paling menyenangkan adalah saat aku dan dia berbincang tentang buku yang
kami suka. Kami bisa benar-benar jatuh hati pada tokoh-tokoh dalam buku dan
berharap mereka dapat menyembul dari salah satu halaman untuk menyapa kami. Aku
dan dia bisa menghabiskan waktu semalaman, bahkan sampai berjingkrak-jingkrak
kegirangan.
Hal yang aku benci
adalah saat ia menangis. Bukan, bukan karena aku kesal mendengarnya. Aku benci
saat melihatnya kesakitan. Aku hanya ingin ia baik-baik saja.
Suatu waktu, aku sedang
sibuk dengan tugas-tugasku di kamar. Seorang teman tiba-tiba menghampiriku.
“Dia menangis di
toilet,” kata temanku itu.
Aku bergegas
menghampirinya.
“Hei, ayo ke luar.” Aku
mengetuk pintu salah satu toilet. Beberapa saat tak ada jawaban, hanya
terdengar isak tangisnya.
Aku mengetuk pintu
sekali lagi. Tetap tak ada jawaban.
Untuk yang keempat
kalinya, aku memperkeras ketukanku. “Hei, buka pintunya atau aku benar-benar
marah sama kamu!”
Lalu, pintu toilet
terbuka. Kulihat ia sedang berjongkok di lantai dengan wajah sembapnya. Pipinya
memerah.
“Ayo, ke kamar.”
Ia menggeleng. “Sakit,”
rintihnya.
Tanpa ba-bi-bu, aku menyeretnya
ke punggungku dan membawanya masuk ke kamar. Setelah kubantu ia duduk di kasur,
aku segera mengambil sebotol besar air dan obat di boxnya.
“Minum.”
Ia menggeleng lagi.
“Tidak enak.”
Aku menghela napas lalu
melempar botol dan obat itu ke sampingnya. “ Ya sudah tidak usah diminum. Aku
tidak peduli. Biar kamu mati saja,” ujarku tajam. Dalam hati, aku benar-benar
menyesal mengatakannya, tetapi hanya ini yang bisa kulakukan agar ia menurut.
Baru saja aku ingin
hengkang dari hadapannya, tangan mungilnya meraih jemariku.
“Iya, aku minum, tapi
jangan tinggalkan aku.”
Ia menarikku lembut ke
sampingnya kemudian mulai menenggak obat dan air yang tadi kuberikan. Ia nyengir,
lupa kalau beberapa saat lalu ia masih gadis mungil yang sangat menyebalkan.
*
Gadis
mungil itu tak selalu tampak seperti adik kecil bagiku. Untuk banyak hal, ia
bisa menjadi kakak yang meneduhkan. Ada saat-saat ketika akulah yang lebih
membutuhkan pundak dan genggaman tangan mungilnya. Aku tak pernah meminta, tapi
ia akan secara sukarela memberikannya setiap aku merana.
Suatu
waktu, aku tak ingat karena apa, aku menangis sejadi-jadinya. Yang aku ingat,
ia tampak sangat cemas melihatku seperti itu, tapi ia tak bertanya karena ia
tahu aku tak mahir bercerita. Ia hanya diam menunggu hingga tangisku reda.
“Ayo
kita makan malam,” ajaknya.
Aku
mengangguk dan beranjak ke toilet untuk membasuh wajah sembapku. Aku tak
mungkin pergi ke ruang makan asrama dengan wajah menyeramkan itu. Saat aku
kembali, kulihat buku catatanku yang terbuka tergeletak di atas kasur. Aku
meraihnya dan membaca barisan kata yang tertulis di sana.
Ayo tersenyum,
Kawan.
Karena tanpa kau
sadari, ada seseoramg yang selalu menanti senyum manismu itu.
Hei, tertawa
dong.
Hanya engkau dan
tawa khasmu yang mampu membuatku ikut tertawa menantang matahari.
Bicaralah!
Maukah kau
bercerita padaku, apa gerangan yang melukai hatimu? Yang memaksa wajahmu
terlihat masam.
Genggam tanganku.
Seseorang
berkata bahwa dengan saling berpegangan tangan kita bisa menjadi sosok yang
lebih kuat.
Menangis di
pundakku pun boleh.
Bukankah persahabatan
itu tercipta ketika seoramg sahabat diperlukan dan memerlukan bantuannya?
Maka, kumohon
jangan bersedih, Sahabatku.
Diammu itu
membuatku lebih bersedih.
Diam-diam, aku
tersenyum.
Dulu, aku selalu
berharap bisa mendapatkan surat cinta dari seorang laki-laki yang aku sukai. Kurasa
sekarang aku tak lagi benar-benar menginginkannya karena aku punya dia dan
ribuan kata magisnya.
Untuk gadis mungil yang
tak pernah beranjak dan selalu menguatkan, terima kasih.

Komentar
Posting Komentar