Rote Journey Batch #1: Le Destin


Pernah nggak sih kamu sedang melalui sebuah jalan yang tidak kamu kenal, tetapi di setiap persimpangan kamu bakal dipertemukan oleh orang-orang yang sangat membantumu? Orang-orang yang tepat. Rasanya akan seperti ketidaksengajaan. Nyatanya, orang-orang tersebut sudah termaktub dalam takdir perjalananmu (cie).
Awal perjalanan ini hanya sebuah obrolan antarmahasiswa yang sedang menunggu kedatangan dosen di kelas. Yaa biasalah, kita bukan orang-orang ambis (eh) yang bakal betah di depan buku tebal ataupun laporan. Menginjak akhir semester, topik mengenai skripsi semakin mendengung di telinga. Mulai dari bingung mau pakai variabel apa, agak greget gara-gara masih cupu tentang statistika, sampai milih-milih dosen pembimbing. Sebagai penganut program studi pendidikan tingkat S1, hanya dua subjek penelitian yang biasa digunakan oleh mahasiswa di universitas ini. Siswa dan masyarakat. Entah dapat ilham dari mana, aku nekat memilih subjek masyarakat di sebuah pulau di ujung selatan Indonesia nun jauh di sana. Pulau Rote.
Dengan hanya berbekal observasi via sosial media dan beberapa artikel ilmiah, jadilah satu bundel proposal skripsi yang sudah diseminarkan dan direvisi habis-habisan. Ah ya, ada dua makhluk yang juga kesambet dengan ide yang cukup gila ini. Jadilah mereka teman seperjuangan skripsi yang penuh onak dan duri ini. Nggak usah tanya ah gimana persiapannya :’)
Tiga orang yang cupu soal “kepesawatan” ini nekat berangkat ke kupang dengan pesawat pada tanggal 13 September silam. Yaa namanya cupu, baru sampai bandara Soekarno-Hatta aja udah linglung plus jetlag tidak pada waktunya gitu. Nggak tau cara check in lah, deg-degan muatan bagasi kelebihan lah, bingung cari bak untuk taruh barang saat X-ray lah padahal ada di depan mata.
Dari dalam pesawat

“Kar, itu kayaknya check in lagi di situ biar dapet tag tas kayak orang-orang,” ucapku sambil menunjuk mesin check in yang berderet. Sempat bingung beberapa saat, sampai akhirnya kami memberanikan diri untuk bertanya ke petugas. Aduh ini sih keterlaluan cupunya L
Untungnya, ada seorang penyelamat yang dipertemukan kami, Kak Azzahra. Eh namanya agak sama. Beliau adalah putri salah satu dosen yang akan berangkat bersama kami ke Kupang untuk melaksanakan penelitian. Kak Azzahra yang memang sering mengunjungi bandara selalu berjalan di depan dengan sigap, sementara kami manut mengekor seperti anak ayam kebingungan. Alih-alih sampai di Kupang, mungkin kami akan terdampar di negeri antah berantah kalau tak ada Kak Azzahra kala itu.(wkwk). Truly guardian angel.
Pertama kali menginjakkan kaki di Bandara El Tari, Kupang

Di Kupang, kami bertolak ke kantor BKKPN Kupang untuk mengajukan izin dan presentasi rencana penelitian kami. Saat sampai di kantor, kami disambut oleh Pak Rahmad. Beliaulah yang sangat sabar menanggapi puluhan pertanyaan kami selama observasi via online berbulan-bulan. Selama melakukan presentasi dan diskusi dengan beliau, aku selalu berusaha menahan senyum takjub.
Biasanya lihat wajah Pak Rahmad lewat foto di profil atau story Whatsapp, sekarang udah bisa tatap muka langsung, pikirku. Terharu gimana gitu :”)
Presentasi penelitian di BKKPN Kupang

Selain Pak Rahmad, kami pun bertemu dengan tiga orang personil TNI AL yang selalu menemani kami selama di Kupang, yaitu Pak Haris, Pak Brian, dan Kak Yovi. Pak Haris adalah seorang Kepala Rumah Sakit AL di Kupang yang dengan senang hati menyediakan beberapa kebutuhan kami selama di Kupang. Jargonnya gini : sebutkan apa saja, nanti akan terwujud. Selanjutnya, Pak Brian yang merupakan anak buah Pak Haris selalu siap mengantar-jemput kami ke beberapa tempat di Kupang. Tak lupa juga beliau menyampaikan wejangan kepada kami agar kami selalu aman selama di Rote. Saat tahu kami akan berangkat di Rote, Kak Yovi menunjukkan ekspresi takjub.
Berfoto bersama personil TNI AL di RS AL Kupang
(dari kanan ke kiri: Pak Brian, Kak Azzahra, Keke, Karina, Saya, Kak Yovi, Pak Haris)

“Kenapa ke Rote? Rote itu sedang panas-panasnya. Nggak kayak di Jakarta juga.”
Aduh, aku selalu menahan untuk tidak cerita panjang lebar tentang ide nekat kami ke Rote setiap kali ditanya seperti itu. Yang penting, kami sudah membuang jauh bayang-bayang Kota Jakarta yang serba ada selama persiapan ke Rote. Jadi, kami tidak berharap banyak hal dari pulau kecil itu.
Untuk tiga manusia cupu ini, Kak Yovi memberikan beberapa gambaran detil tentang kondisi Rote Ndao. Beliau pun dengan senang hati membantu kami membelikan tiket kapal Kupang-Rote di pelabuhan.

Berfoto di Pelabuhan Oeba, Kupang
“Sampai jumpa lagi ya! Kabari kami kalau sudah sampai di Rote,” ucapnya saat melepas kepergian kami di Pelabuhan Tenau pagi itu.
Sekitar pukul dua belas siang, kami pertama kalinya menghirup udara Rote dan hal pertama yang menyapa kami adalah panas yang sangat menyengat dari sang mentari. Saat kami sibuk mengangkut barang-barang kami sambil sesekali mengusap peluh, seorang pria kisaran kepala tiga menghampiri kami.
“Mba dari UNJ ya?” tanyanya. “Saya Khalid,” lanjutnya saat mendeteksi wajah bingung kami.
Sebelum berangkat ke Rote, Kami selalu berkomunikasi soal rumah tinggal dengan Pak Khalid. Atas permintaan Pak Rahmad, Pak Khalid mencarikan kos terbaik untuk kami. Katanya, ia khawatir karena kami hanya perempuan bertiga, orang baru pun. Jadilah kami mendapatkan satu kamar kos nan nyaman di perkampungan muslim bersama orang-orang yang sangat ramah. Entahlah apa jadinya kami tanpa beliau :’)
Selain orang-orang yang disebutkan di atas, masih banyak orang-orang yang sangat mempermudah perjalanan ini. Setiap orang yang kami temui memiliki perannya masing-masing dan aku selalu bertanya-tanya bagaimana nasib kami tanpa mereka. Terlebih orang-orang di Rote yang kami temui, dimulai dari ibu kos, aparat desa, warga desa, guru, siswa, sampai wisatawan yang tanpa pamrih membantu kami. Belum lagi orang-orang di kampus yang rela menolong kami dari kejauhan.
Perjalanan ini memang benar-benar sulit, tapi dengan mereka semuanya jadi lebih indah. Sampai jumpa di batch selanjutnya~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal