Senyum Untuk Nina
Tuk. Tuk. Tuk. Sepatu Nina terus beradu dengan tanah tempatnya berpijak. Sesekali cewek itu melirik jam tangannya. Sejak satu jam yang lalu ia berdiri di sana, menunggu Gias. Sore ini cowok itu berjanji untuk menjemputnya di tempat les. Tapi sampai sekarang ia belum juga tampak batang hidungnya.
Guratan jingga di langit mulai pekat. Suara guntur di ujung langit membuat bulu kuduk Nina berdiri. Sebentar lagi pasti hujan. Benar saja. Tidak sampai lima menit setelah praduga Nina, jarum- jarum air mulai turun dari langit. Nina mendekatkan dirinya ke dinding bangunan tempatnya berdiri, menghindari hujan. Dingin yang mulai menusuk membuat cewek itu merapatkan cardigan yang ia kenakan.
Gias... Lo kemana sih.
Malam dan hujan. Nina membenci keduanya. Bodohnya, ia tidak pernah membawa payung atau pun jas hujan setiap kali pergi ke suatu tempat. Karena ia tahu, cowok itu pasti akan menjemputnya. Gelap semakin pekat dan hujan tak juga berhenti. Nina terus menerus menghubungi Gias tapi cowok itu tidak juga menjawab.
Gue benci lo Gias...
Nina mengusap lengannya, mencari kehangatan untuk tubuhnya yang mulai membeku. Segerombolan remaja putra melintas di depannya. Salah satu dari mereka menatap cewek itu dengan tatapan menyelidik. Lalu ia menepuk bahu teman di sampingnya. Gerombolan itu pun menghentikan langkahnya dan berbalik mendekati Nina. Nina menggigit bibir. Takut.
Gias, lo kemana...
"Nina." seseorang menggenggam bahu Nina, membuat gadis itu terlonjak. Nina menolehkan kepalanya patah- patah, antara dongin yang membeku juga takut melihat orang tersebut.
Gias.
Beberapa saat pandangan mereka bertemu.
"Ayo pulang." Gias menarik lengan Nina ke dalam mobil sebelum gerombolan remaja tadi mendekat.
Mobil Gias membelah jalan raya yang padat. Sepasang cowok- cewek itu hanyut dalam pikiran masing- masing. Jantung Nina masih berdetak kencang karena ketakutan yang tadi menyerangnya. Sementara Gias diam- diam melirik cewek itu. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ia tahu cewek itu marah padanya.
"Na, maaf aku telat. Tadi ada--"
"Nggak peduli." potong Nina.
Gias menelan ludah. Benar dugaannya.
***
Nina menenggelamkan wajahnya di antara lipatan kedua lengannya di atas meja. Hari ini kepalanya terasa sangat berat. Tiga jam pelajaran sebelumnya sama sekali tidak ia perhatikan. Gias yang duduk di meja barisan paling depan meliriknya sesekali. Khawatir dengan kondisi Nina.
Gias pun memberanikan diri untuk menemui cewek itu di meja belakang. Ragu- ragu tangannya terulur menyentuh pundak Nina yang tampak mengecil. Lima belas tahun ia mengenal cewek itu, Nina memang jarang sakit. Nina hanya sakit saat kehujanan atau saat ketakutan.
"Na."
Baru saja Gias menyentuh pundaknya, tangan Nina melayang mencegahnya. Gias langsung menarik tangannya sendiri.
"Na, ke UKS aja yuk." ujarnya lembut.
Nina tidak menggubris.
"Na."
Nina sontak mengangkat kepalanya. Matanya yang sayu menatap nyalang ke arah Gias untuk beberapa jenak.
"Gue nggak kenapa- napa." tukasnya lalu segera melangkah keluar kelas.
Gias mengikuti cewek itu di belakang. Nina bisa pingsan kalau memaksakan berjalan.
"Na, lo masih marah karena kemarin?" Nina mengunci mulutnya. "Na, gue ada urusan kemar--"
"Gue nggak peduli! Gue benci lo, Gias."
Gias tersentak. Kalau Nina sudah mengatakan "benci", itu tandanya cewek itu benar- benar marah.
"Na, maaf."
Langkah Nina tertahan lalu ia memutar tubuhnya menghadap Gias. "Lo tau kan gue nggak suka permohonan maaf?"
"Terus gue harus apa Na?"
"Pergi dari hadapan gue bisa? Ganggu." Nina meneruskan langkahnya.
Gias menelan ludah. "Ya... Yaudah tapi maafin gue Na."
Nina mendesis kesal.
"Gue benci lo Gias! Benci! Pergi lo pergi!" dengan meninggalkan satu hentakkan kakinya, Nina kembali melangkah meninggalkan Gias yang sekarang tak lagi mengikutinya.
***
Minggu pagi kali ini berbeda dari biasanya. Seharunya Nina sekarang sedang lari pagi bersama Gias, kebiasaan rutin mereka di waktu seperti ini. Tapi kali ini cewek itu memilih untuk menjauh dari Gias. Kepeduliannya terhadap Nina, bola matanya yang tampak selalu berbinar setiap kali Nina menatapnya, juga kata- kata manis dan lelucon yang tak pernah terdengar basi di telinga Nina, semuanya diam- diam terselip di salah satu bilik berbeda di hati Nina. Dan degup jantung Nina setiap kali ia bersama cowok itu, membuatnya ingin mati saat itu juga. Terlalu menggebu.
Bertemu Gias berarti memberi kesempatan hatinya untuk melemah. Saat hatinya melemah, ia akan menyadari rasa sayang yang ia miliki kepada Gias lebih dari sekedar sahabat sejak kecil. Dan memiliki rasa itu berarti harus menerima jika suatu hari Gias akan menjauh karena mengetahui kebenaran tentang perasaannya. Karena sampai kapanpun, cowok dan cewek yang bersahabat semuanya akan berbeda jika dibumbui rasa cinta.
Nina menggulingkan tubuhnya dari satu ujung kasur ke ujung lainnya. Memikirkan tentang perasaan seperti ini membuat perutnya lapar. Ia berharap Mama meninggalkan makanan di meja makan.
Baru saja ia bangkit dan akan melangkah keluar kamar, ponselnya berdering. Buru- buru ia menyambar benda tersebut lalu menekan salah satu tombol untuk menerima panggilan masuk.
"Nina..."
Mendengar ucapan orang di seberang sana, dua bola mata Nina seketika membelalak.
Tak sempat menerka siapa yang menghubunginya, Nina bergegas mengenakan blazer selututnya. Berkali- kali Nina menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga laku kakinya terus mengetuk- ngetuk menunggu taksi melintas di hadapannya. Kebiasaan Nina kalau sedang ketakutan atau terburu- buru, begitu kata Gias dulu.
Sesaat setelah taksi berhenti, Nina langsung menyerahkan uang kepada supir lalu berlari masuk ke dalam rumah sakit tanpa mempedulikan sang supir yang menyodorkan uang kembalian. Kepalanya menoleh kesana kemari seperti orang buta mencari jalan. Dari arah salah satu lorong rumah sakit, Nina melihat seorang cowok yang ia kenal berlari ke arahnya.
"Gias di mana, Dam?" suara Nina terdengar parau seperti orang tercekik.
Idam, cowok yang sekarang ada di hadapannya merengkuhnya.
"Semuanya akan baik- baik aja Na." Nina langsung mengurai rengkuhan cowok itu.
Lalu dengan tatapan nanar ia berseru penuh frustasi, "Mana Gias Dam!"
Ada sungai airmata yang mengalir dari mata cewek itu.
Masih dengan tenang, Idam pun menuntun Nina menuju salah satu kamar rumah sakit. Pandangan semua orang yang ada di dalam kamar itu beralih kepada Nina saat melihat cewek itu datang. Nina tidak peduli. Saat ini, matanya hanya terpaku pada sosok yang berbaring di ranjang. Pandangannya mulai kabur karena kabut kelabu yang terbendung di kelopak matanya. Dengan langkah terseret, Nina mendekati sosok itu.
"Gi..." susah payah Nina mengeja nama indah itu. "Gias... Lo nggak dendam kan sama gue? Gue selalu ngerjain lo dan lo sekarang mau balas dendam?"
Tak ada jawaban. Nina seperti berbicara dengan udara. Jemarinya meraih jemari yang mencuat dari balik selimut putih khas rumah sakit. "Gias, sumpah ng..." Nina tertawa perih saat menyadari jemari itu tidak lagi setegas dulu. "Nggak lucu, Gias..." diremasnya jemari tanpa nyawa dalam genggamannya.
"Gias kemarin gue nggak serius, sumpah Gias." ada isak disela ucapannya. "Gue nggak bener- bener mau lo pergi kok."
"Gue juga nggak benci lo Gi..."susah payah Nina menyeka airmatanya yang terus mengalir.
"Gias, please... Bangun." Nina tahu, saat ini permintaannya tak kan lagi terpenuhi. Idam menepuk bahu Nina, mengajaknya keluar ruangan. Nina beberapa saat menoleh ke arah Idam, lalu tatapannya kembali beralih kepada sosok di atas ranjang.
"Gue sayang lo, Gias." perlahan Nina menyelipkan kembali jemari dalam genggamannya ke balik selimut.
Nina kembali menatap sosok itu sebelum akhirnya membuka pintu kamar. Dadanya terasa sesak.
"SELAMAT ULANG TAHUN, NINA!"
Dengan mata terbelalak Nina menolehkan kepalanya. "GIAS!!"
Mulai detik itu ia benar- benar benci Gias.
Ehehehe._.
Maaf aneh:(
Thanks for reading ^^
Minta komennya ya;)
Komentar
Posting Komentar