Secangkir Rindu Malam Ini

Kopi malam ini pahit, ya?
Padahal aku sudah menambahkan susu secukupnya
Layaknya rindu
Aku menakarnya dengan baik, tapi rasanya tetap... pedih

Aku merindu tanpa bisa merapalkannya
Semuanya terselip rapi dalam bait- bait kata
Ya, aku merindu dengan puisi
Mencipta ketenangan untuk diriku sendiri
Setidaknya agar rindu ini tak meluber

Aku merindu tanpa mencari penawarnya
Biarkan ia mengakar dan mencabik relung hati ini
Sakit memang, tapi adakah hal pahit semanis rindu yang lain?

Aku merindu tanpa menanti jawaban
Kau tahu sendiri kan aku paling benci menunggu?
Rindu ini tanpa tanda tanya yang mengiringinya
Tanya apakah kau miliki rindu yang sama di sana

Kau tahu pedihnya seperti apa?
Seakan aku adalah kuncup kelopak yang mencoba mekar, tapi sebongkah batu meniban tubuhku
Aku ingin berteriak
Bibirku bergeming, tetap terkatup
Kalau masalah rindu, ia akan bisu
Biarkan hati yang berbisik

Rindu ini, bagiannya



Bait- bait ini ditulis ketika mata sudah terlampau nakal tak ingin terkatup karena bayangmu tergantung di kelopaknya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal