Ini Tentang Hidup

Teringat pembicaraan dengan teman- teman beberapa bulan lalu.
Waktu itu kami sedang berkumpul. Kami yang tertinggal. Kami yang terjebak dalam kegagalan. Kami yang masih berdiri di tempat yang sama, bahkan berjalan mundur, di saat yang lain sudah lebih dulu berlari.
Awalnya kami menyesal atas kesalahan di masa lalu. Kenapa semuanya tidak kami lakukan dengan baik sejak awal?
Ya, penyesalan selalu di akhir bukan?
Lalu apa lantas kami sekadar menyesal tanpa melakukan apa- apa?
Kami pun berpikir.
Tidak, Tuhan sama sekali tidak memberi kami kegagalan. Tuhan memberikan hal yang jauh lebih indah.
Tuhan memberi kami waktu.
Kami memang tertinggal jauh. Jauh sekali. Tapi, Ia memberi kami hal yang tidak Ia berikan kepada yang lain. Di saat yang lain sibuk berlari dan menggapai, Ia memberi kami waktu lebih. Waktu untuk beristirahat, waktu untuk menyesal, waktu untuk berpikir, dan waktu untuk mengulang semuanya dari awal.
Hingga pada saat yang lain mulai kelelahan, kami yang diberi waktu itu bisa mulai berlari. Perlahan, tapi pasti.
Tahukah kamu tentang kisah Kelinci dan Kura- kura? Kami adalah kura- kura.
Atau kami adalah batu di karet ketapel yang ditarik kebelakang terlebih dahulu dan saat dilepas. Wus! Kami melesat cepat.
Hidup itu kompetisi bukan?
Kompetisi terunik sepanjang masa.
Di saat Olimpiade Sains Nasional, atau kejuaran Sea Games, Piala Dunia, dan sederetan kompetesi duniawi lain yang memegang prinsip "Yang pertama adalah pemenang", hidup tak sama.
Dalam hidup kamu bisa jadi yang pertama memulai dan selesai, tapi apa kamu adalah pemenang?
Sebuah kebanggaan tersendiri jika kamu menjadi juara, tapi apakah kamu benar- benar menggenggam predikat itu?
Bahkan, Tuhan lebih memuliakan hambaNya yang memulai segalanya dari merayap di tanah, lalu merangkak dengan kedua tangan dan kaki. Berlanjut ketika kamu bangkit dan mulai bisa menggunakan kedua tungkaimu. Jangan berlari! Berjalan perlahan. Nikmati apa yang Ia berikan, ambil segala yang kamu butuhkan dari sana. Dan ketika waktunya tiba, berlari sekencang mungkin sampai kamu mencapai garis finish.
Indah, bukan?
Tuhan terlalu baik untuk bisa kamu katakan kalau Ia tidak pernah berlaku adil padamu.
Nyatanya? Selalu ada kejutan di setiap jatuh yang kamu terima.
Bahagia dan sedih itu satu paket. Kamu tak akan mendapatkan salah satu dari mereka tanpa mendapatkan satu yang lain.
Bagian mana yang tidak adil dari hal ini?
Kegagalan terlalu indah untuk kamu tangisi, Kawan.
Semua akan indah pada saatnya nanti, pasti.
Karena Tuhan tidak pernah iseng:)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal