Aku Bisa kan?

#FiksiFilmku
    
Mataku nyalang menatap layar sepuluh inci di hadapanku. Layar itu berubah gelap, membuatku harus mengusap permukaannya lagi sehingga ia kembali terang. Gelap lagi, kuusap, kembali terang. Terulang begitu seterusnya. Beberapa saat. Ya, aku butuh beberapa saat untuk memahami apa yang tertera di sana. Satu tahun usaha dan kerja kerasku. Ini hasil yang kudapatkan? Sungguh?

Bulan satu tahun lalu...
“Kalau tidak bisa ya tidak usah dipaksakan.”
“Aku bisa, Ma.”
“Tapi buktinya kamu nggak bisa. Nilai tryout kamu segitu.”
Aku melengos. Tiba- tiba nasi campur ayam bakar di mulutku terasa hambar.Ingin rasanya pergi meninggalkan meja makan dengan atmosfer pekat ini, tapi Papa pasti akan marah.
“Tryout itu cuman percobaan.” sanggahku.
“Tapi itu menunjukkan kalau kedepannya kamu gimana.”
“Aku bisa, Ma. Aku bisa.” aku berusaha menyelusupkan sugesti ke dalam benakku, mendengarkan ucapan Mama bisa membuat semangatku luruh.
Aku memutar bola mata, gerah dengan pembicaraan di meja makan yang itu- itu saja. Entah ini sudah yang keberapa kalinya Papa dan Mama menghalangiku untuk tetap menggenggam jurusan kuliah pilihanku, Teknik Mesin ITB. Aku ini perempuan dan tidak pantas menyandang studi tersebut, kata Mama.
“Kamu mau jadi apa? Pekerja bengkel?” yang ini kata Papa. “Kamu mau dibilang keren kalau anak perempuan seperti kamu bisa jadi tukang bengkel? Begitu?”
Apa katanya? Ya Tuhan, aku tidak sepicik itu.  Jujur saja, aku benci ucapan mereka. Memangnya aku ini serendah apa sampai mereka tidak mempercayaiku?
Mereka lebih memilih kedokteran untuk kuliahku nanti. Menjadi dokter lebih menjamin masa depan, penghasilan tinggi dan terkenal cerdas. Sampai lubang hidungku ada tiga, aku tidak akan melenggang pergi meninggalkan pilihanku. Indonesia butuh teknisi mesin yang akan menciptakan kendaraan lokal, bukan malah mengandalkan produksi dari luar negeri. Maka aku akan menjadi salah satu yang menyodorkan kedua tanganku untuk hal itu.
Kalau mereka tidak percaya kepadaku, biarkan aku yang akan mempercayai diriku sendiri. Aku bisa kan?
Aku tahu kemampuanku tidak seberapa. Memaksakan hal ini membuatku tampak egois. Tapi kalau kita punya keinginan, Tuhan akan memberi jalan bukan?  Jadi, aku harus menggeser masa kuliahku untuk mengikuti bimbingan belajar selama satu tahun ini. Aku sendiri, sementara teman- temanku yang lain sudah sibuk dengan diktat- diktat kuliah mereka.
***
Aku memejamkan mata beberapa jenak. Kuhembuskan napas sebelum akhirnya mataku kembali terbuka. Aku ingin memastikan layar di hadapanku bukan sekadar menampilkan ilusi.
Maaf, anda tidak dinyatakan lulus SBMPTN 2014             

“Atirah! Ada surat untukmu!” seruan Mama membuyarkan keterpanaanku.
Buru- buru kuusap air mata lalu berlari ke ruang tamu. Di atas meja, kutemukan sebuah amplop bertuliskan salah satu lembaga swasta di Indonesia.

Congratulation! You have passed the test of Indonesian Leadership Award 2014
Atira Safira
Mechanical Enginering, Kyoto University


Hanya tulisan yang tercetak tebal di atas surat tersebut yang bisa kubaca. Lagi- lagi air mata menghalangi pandanganku. Kali ini lebih deras. Aku lupa, surat dalam genggamanku ini juga kutunggu.


Terinspirasi dari Dragonzakura

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal