[Review Novel] RAPUH: Ketika bohong yang justru dipercaya
Penulis: Dodi Prananda
Penerbit: Wahyu Media
Tahun terbit: 2013
Jumlah halaman: 168 halaman
Penerbit: Wahyu Media
Tahun terbit: 2013
Jumlah halaman: 168 halaman
Ada kebohongan dan kejujuran yang senantiasa mengelilingi kita. Begitu indahnya sehingga kita tak tahu mana lagi batasan jelasnya. Antara diterima atau ditolak, semua abu-abu. Ada skenario di antara sandiwara.
Semua yang kita lihat dengan mata kepala sendiri, justru tidak pernah mencapai realita sesungguhnya. Ada skenario dan ada sandiwara. Skandal.
Aku rapuh untuk menyadari semuanya. Aku terlanjur masuk ke dalam permainan ini. Sekarang hanya tinggal aku, menyelamatkan diri atau menjadi aktor yang akan menyelesaikan skenario ini. Tentu, dengan lebih banyak intrik atau justru bohong yang dipercaya.
"Ada realita yang luput dalam keseharian kita dan tergambar jelas dalam Rapuh. Gaya bertutur tokoh utama membawa kita mendengar lebih jelas. Bukan hanya apa yang ada dalam pikiran-pikirannya, tapi sesuatu yang lebih jujur dari hati." -Robin Wijaya-
Beli novel ini, aku terbilang berani. Pertama, aku belum 'kenal' Dodi Prananda dan Wahyu Media. Udah gitu tuh novel segelnya masih rapet jadinya aku nggak bisa ngintip dalemnya. Lihat kover belakang Rapuh, kupikir blurb-nya lebay banget. Sempet takut 'kejebak' lagi. Tapi, berhubung lagi butuh bacaan dan harganya terbilang murah, novel ini akhirnya berhasil dibawa ke kasir:))
Awal bab Rapuh menceritakan tentang si tokoh utama, Bian, yang jatuh cinta sama cewek namanya Sonia. Bian ini bukan tipe cowok percaya diri yang gampang nyatain cinta ke cewek, ditambah Sonia orangnya cantik dkk gitu. Aku udah cukup bosan sama openingnya. Kukira ampe belakang-belakang bakal terus nyeritain kisah cinta Bian dan Sonia, ternyata nggak. Abis jadian sama Sonia, alur mulai menyorot keluarga Bian. Dari Mama yang seneng banget kenal sama Sonia dan Papa yang selalu nurutin kemauan anaknya. Ada Gesa juga, adik Bian, yang keras kepala dan kekanak-kanakan. Gesa ini punya pacar, namanya Bagas. Bian yang udah tahu betul sifat brutal Bagas terus-terusan minta Gesa buat membuka mata. Terakhir ada Mayang, pembantu rumah tangga di rumah Bian.
Masalah cerita dimulai pas Sonia udah jarang menghubungi Bian. Cewek itu jadi suka ngilang dan setiap diajak jalan dia selalu nolak. Ditambah hancurnya acara ulang tahun Gesa ke-17 yang sengaja ia buat mewah karena ketidakhadiran Bagas.
Balik lagi ke blurb dan testimoni di belakang kover novel ini. Pas menginjak bab-bab pertengahan, aku mulai ngerti sama apa yang dituturin di sana dan itu sama sekali nggak lebay. Sandiwara para tokoh mulai tampak. Beberapa tokoh punya rahasia tersendiri sementara tokoh lain jadi 'korban'. Konflik antartokoh nggak terkesan dipaksakan. Bahkan, penggunaan sudut pandang orang pertama (Bian) yang berperan sebagai 'penikmat' sandiwara tokoh lain jadi bikin pembaca ikut masuk ke seluk-beluk permasalahan.
Bahasa yang digunakan juga ringan. Ala-ala sudut pandang cowok yang nggak dipaksakan. Sayangnya, masih dapet typo dan penggunaan tanda baca koma (,) yang overload jadi bikin kalimat berasa patah-patah. Di awal udah nebak-nebak endingnya, eh tapi tetep kaget juga wkwk ternyata endingnya bener kayak gitu. Twistnya pas sebenernya, tapi kurang greget gimana gitu. Mungkin gara-gara udah sempet ketebak wakaka
Over all, Doni Prananda bisa jadi penyaji cerita yang cukup baik.
Best quotes:
1. Pernahkah para pembuat noda itu berpikir, ada hati yang akan tersakiti? (Rapuh)
2. Boleh jadi, sekarang, kebahagiaanmu terbuat dari kesedihanku. (Rapuh)
3. Setahuku, cinta itu putih, bersih, suci, dan murni. Maka terkutuklah bagi mereka yang mengingkarinya. (Rapuh)
4. "Apa kamu lupa cara merinduku? Atau, sebenarnya memang tidak pernah?" (Rapuh)
2. Boleh jadi, sekarang, kebahagiaanmu terbuat dari kesedihanku. (Rapuh)
3. Setahuku, cinta itu putih, bersih, suci, dan murni. Maka terkutuklah bagi mereka yang mengingkarinya. (Rapuh)
4. "Apa kamu lupa cara merinduku? Atau, sebenarnya memang tidak pernah?" (Rapuh)
Komentar
Posting Komentar