Pertanyaan di Kereta
Sesaat setelah petugas informasi mengumumkan kedatangan kereta, aku segera berdiri di bibir peron. Pandanganku melahap sekitar stasiun yang sepi. Hanya kutemukan seorang pria paruh baya, seorang ibu dan dua anaknya yang merengek minta cepat pulang, seorang remaja putri yang sibuk dengan ponselnya, dan dua orang remaja putra yang tampak seumuranku baru masuk peron dengan ransel besar di punggung masing- masing.
Ada apa ini? Mungkin barusan ada angin puting beliung yang tiba- tiba menyapu seluruh warga Indonesia dan hanya menyisakan segelintir orang. Ya, mungkin.
Kereta yang baru datang menyuguhkan satu pintu tepat di depanku. Dinginnya pendingin ruangan langsung menyergap saat aku memasuki kereta yang juga lengang. Diam- diam aku menyetujui teori puting beliungku tadi.
Kurogoh tasku dan mengeluarkan koran harian yang kubeli tadi saat berangkat ke kampus. Mumpung sepi, aku menyelonjorkan kaki, lumayan untuk melepas lelah.
"Boleh ikut baca?" seseorang menepuk bahuku.
Aku menoleh. Pria paruh baya yang tadi kulihat di peron ternyata duduk di sampingku. Aku hanya menyunggingkan senyum sambil menggeser koran dalam genggamanku mendekati pria itu.
Tak ingin membuang banyak waktu, segera kulahap barisan huruf semut di atas kertas buram itu. Masalah pejabat korupsi, pelecehan anak, banjir yang melanda ibukota, dan masalah njlimet Indonesia lainnya yang sukses memenuhi dua pertiga isi koran membuatku mual.
"Persetan dengan orang Indonesia." desisku.
"Loh, ada apa dengan orang Indonesia? Kamu bukan orang Indonesia, toh?" pria di sampingku berkomentar.
Aku terkekeh, diam- diam mengutuk bibirku yang secara tidak langsung pun mengejek diriku sendiri.
"Saya orang Indonesia tulen." Aku tersenyum kecut. "Maaf, Pak. Habis, saya kesal dengan negeri ini."
Kerutan halus di kening pria itu semakin mengerut. "Memangnya kenapa?"
"Ya ini, Pak." Jariku menuding salah satu kolom koran yang membahas pelecehan seksual pada anak. "Orang- orang Indonesia nggak ada yang bener. Kapan Indonesia bisa maju?" lidah mahasiswaku liar melontarkan kata, tidak peduli lawan bicaraku kali ini umurnya jauh di atasku.
"Memangnya kamu mau orang seperti apa untuk mengisi negeri ini?"
"Ya orang bener lah, Pak. Orang sukses, orang yang ngerti agama, supaya bisa memajukan bangsa ini. Kita juga harus peduli satu sama lain. Kalau perlu, orang- orang kaya membuat sesuatu dengan hartanya untuk Indonesia." Aku mulai berapi- api.
Pria di hadapanku mengangguk- angguk. Ia tidak segera berkomentar, membiarkan petugas kereta berkoar- koar memberitahukan bahwa setelah ini kereta akan berhenti di stasiun Manggarai.
"Banyak orang sukses, orang pintar agama, orang peduli sesama, dan orang kaya di Indonesia, tapi negara ini bobroknya tetap sama kan?" Pria itu berucap. "Dahlan Iskan, sukses? Hidayat Nur Wahid, pintar agama? Jusuf Kalla, kaya juga? Orang peduli lebih banyak, apalagi mahasiswa, setiap ada bencana alam langsung turun tangan juga serentetan kegiatan sosial lain." Aku menelan ludah, mengiyakan ucapan pria itu.
"Jadi, orang seperti apa lagi yang dibutuhkan Indonesia?"
Aku bergeming. Lelaki di sampingku itu tidak menghiraukan kebingunganku. Ia sibuk mengangkut plastik- plastik hitam yang tergeletak di samping kakinya.
"Kamu generasi penerus bangsa ini, kan? Coba pikirkan kamu harus jadi apa untuk bangsa ini." Pria itu berdiri dan melangkah mendekati pintu. "Oh iya, terima kasih korannya, Anak Muda!" ia tersenyum sebelum akhirnya pintu kereta tertutup.
Aku masih membeku. Di otakku, ribuan jawaban singgah sebentar lalu pergi lagi karena terusir oleh sanggahanku sendiri. Orang pintar? Sebenarnya banyak memang di Indonesia. Orang dermawan, pasti banyak. Orang... Apa lagi?
Jadi, Indonesia ini butuh orang seperti apa?
----------------------------------------
05.05.14.21.38- untuk Sang Pemikir
Komentar
Posting Komentar