When You Believe


“Berhenti di depan, pak!” Aku menepuk bahu supir.
Taksi yang kutumpangi pun menyingkir ke sisi jalan. Aku membuka pintu dan turun. Kepalaku menengadah menatap rangka besi yang tinggi menjulang di hadapanku. Eiffel. Ya Tuhan… Inikah gambar mungil yang dulu ditunjukkan Bu Ayu kepadaku?  Kini aku dapat melihatnya begitu nyata dengan besar yang berkali- kali lipat menakjubkan. Aku menghirup napas dalam dan menghembuskannya perlahan, merasakan udara segar kota Paris sore ini.
Ingatanku mundur ke empatbelas tahun silam. Bayang- bayang teman- teman yang selalu mengolok- olokku karena keterbatasanku. Aku menangis di pojok kamar, lalu tiba- tiba Bu Ayu datang dan menenangkanku. Masa lalu yang bagiku sangat sulit melewatinya, tapi berakhir sangat indah.
***

Pagi ini langit tampak teduh, mungkin karena hujan semalam. Anak- anak masih tertidur pulas di ranjangnya padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh.
Teng! Teng! Suara tutup panci yang dipukul Bu Ayu begitu memekakan telinga. Tubuh- tubuh mungil menggeliat malas tapi Bu Ayu memukul tutup panci lebih nyaring.
“Ayo cepat bangun! Ayo berangkat sekolah!”
Satu persatu mata terbuka perlahan, masih merindukan mimpi mereka tadi malam. Akhirnya anak- anak pun pergi ke kamar mandi untuk segera bersiap- siap pergi ke sekolah.

“Kau siap untuk tampil di acara perpisahan minggu depan?” Tanya Reza saat mereka pergi ke sekolah. Adit mengangguk. Dian terdiam.
“Aku tidak yakin.” Katanya.
“Jangan begitu, kamu pasti bisa! “ Reza meyakinkan. Dian tersenyum lalu mengangguk.
Dian berjalan sendirian menyusuri lorong kelas, Reza dan Adit sudah lebih dulu masuk ke kelasnya. Baru saja Dian akan memasuki kelas, pintu tertutup. Dian berusaha membuka tapi pintu terkunci.
“Hei! Buka pintunya!” Dian menggedor pintu. Wajah- wajah muncul di kaca jendela.
“Orang gagap tidak boleh masuk!” seorang anak menjulurkan lidahnya. Anak lainnya tertawa.
Dian melotot. Ia tetap menggedor- gedor pintu. Untung saja guru segera datang dan membukakan pintu.
“Ayo anak- anak kita mulai pelajaran. “
“Psst… Hei orang gagap!” bisik seorang anak di belakang Dian. “Hei! Sudah siap untuk tampil minggu depan? Aku yakin kamu tidak bisa!”
Dian tidak menghiraukan.
Pluk! Sebuah buntalan kertas mendarat di mejanya. Ia masih tidak menghiraukan. Buntalan kertas berikutnya menyusul dan salah satunya mengenai kepalanya. Dian merasa risih. Ia pun bangkit dari kursinya dan menoleh menatap anak dibelakangnya tajam.
“Hentikan!” Dian menggebrak meja. Seluruh mata menatapnya.
“Dian, ada yang salah? “ guru menegurnya. Dian terdiam, merasa bodoh dengan apa yang telah ia lakukan.
“Mmm… Tidak bu.”
“Baik, silahkan kembali ke kursimu.”
Dian mengangguk lalu kembali ke kursinya. Anak di belakangnya tertawa kecil mengejek.
“Bu boleh saya pergi ke kamar mandi?” ucap Dian. Guru mengangguk mengijinkan.
***

Dian duduk memeluk lutut di pojok kamar. Bahunya berguncang, menangis. Bu Ayu datang menghampirinya.
“Apa yang salah? “
Dian mengangkat kepalanya. Bu Ayu mengusap airmata di pipinya.
“Bu, aku ingin bisa berbicara normal…” Dian terisak. Wanita dihadapannya menghela napas panjang.
“Kamu harus bangga dengan apa yang kamu punya. “
“Tapi teman- temanku mengejekku, bu…”
Bu Ayu tersenyum. Ia mengusap kepala Dian lembut.
“Kekurangan kamu itu tidak menutupi satu hal pun dalam dirimu, kamu tetaplah anak kebanggaanku.  Permainan gitarmu bagus. Jangan malu, itu adalah takdir terbaik yang diberikan tuhan kepadamu. “
***

Suasana sekolah sangat ramai. Ini adalah hari perpisahan anak- anak kelas enam. Orang- orang sudah duduk di depan panggung untuk melihat penampilan anak- anak.
“Oke, kita mulai saja acaranya. Inilah mereka anak- anak kelas enam!” seru sang pembawa acara. Satu- persatu anak maju mempersembahkan penampilan mereka.
Dian berdiri di belakang panggung, ia merasa bodoh ingin mengikuti acara ini. Gitar kecilnya tergenggam erat di tangannya. Saat namanya dipanggil, ia pun maju ke panggung. Matanya menatap para penonton. Ya Tuhan… Apa yang bisa diberikan seorang yang gagap kepada penonton- penonton ini.
“Kau bodoh!” bisik anak di depan panggung. Dian diam, tidak menghiraukan apa yang anak itu katakan. Ia mulai bermain, memainkan satu lagu dengan gitarnya. Orang- orang melihatnya sangat takjub. Di barisan penonton Bu Ayu tersenyum melihatnya.
***

Tau? Itu adalah hal yang sangat membahagiakan. Setelah itu ada seorang pria datang dan menawariku untuk sekolah di sekolah musik di Jakarta. Aku merasa sangat senang. Perjalanan selanjutnya kulalui dan akhirnya aku pun bisa menginjakkan kakiku di kota Paris. Kini aku mengerti, benar apa yang dikatakan Bu Ayu.
“Kekurangan kamu itu tidak menutupi satu hal pun dalam dirimu, kamu tetaplah anak kebanggaanku.  Permainan gitarmu bagus. Jangan malu, itu adalah takdir terbaik yang diberikan tuhan kepadamu. “
Terima kasih, Bu…


Hikmah: Apa yang Allah berikan adalah yang terbaik untuk hambaNya

030212/ Narative Task
Footnote: Haha ceritanya pendek sekali~ iya soalnya cerita ini untuk tugas teks Narative Bahasa Inggris di kelas hahai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal