Kaki Mungil

          Aku terdiam di kursi depan kios ku. Hari ini sedang sepi, mungkin karena hujan. Diam- diam aku perhatikan anak- anak di jalan yang berlarian di bawah hujan. Ada yang berbeda, pertama mereka tidak menggunakan alas kaki, dan kedua mereka memegang payung tapi tidak mengembangkannya. Aku beri tahu kalian, mereka adalah ojek payung. Mereka akan mengejar orang- orang yang tampak tidak memakai payung dan menawarkan payung mereka untuk orang- orang itu. Wajah mereka ceria, tanpa lelah. Aku jadi malu dengan diriku sendiri yang selalu lelah menjaga kios bajuku ini, padahal aku hanya duduk dan menunggu orang- orang itu membayar.
         Aku berpikir, apa anak- anak itu tidak sakit? Berlarian di tengah hujan seperti itu, apalagi anak- anak seumuran mereka. Tanpa alas kaki, tanpa baju yang layak, tubuh- tubuh ceking yang sepertinya jarang makan. Rasanya ingin merengkuh mereka, memberi kehangatan. Tapi bagaimana? Untuk mengurus diriku, ibu, dan ketiga adikku saja aku kurang mampu mengatasi sepenuhnya.
         "Kak, kak, tolong." sebuah suara membuyarkan lamunanku.
         "Kak tolong teman kami." butuh beberapa saat untukku menyadari bahwa lima orang di hadapanku sedang membopong salah satu dari mereka.
Wajah anak itu sangat pucat dengan bibir biru dan badan gemetaran. Aku sedikit gelagapan, tapi akhirnya aku menyuruh mereka membaringkan temannya di tikar yang kugelar di dalam kios.
         "Dia kedinginan, kak…" ucap salah seorang dari mereka.
Aku mengecek air dispenser, tapi aku baru ingat belum mengisi ulang galon. Akhirnya aku keluar menuju kios sebelah.
         "Mba Ray, nggak takut apa nanti anak- anaknya berbuat yang tidak- tidak?" ucap ibu kios sebelah penjual masakan padang saat aku sedang mengisi gelas di dispensernya.
         "Berbuat gimana,bu?" aku pura- pura tidak menangkap ucapannya.
         "Ya… Misalnya mencuri baju di kios Mba Ray. Dan ini nih pas Mba Ray tinggal takutnya mereka ngorek- ngorek laci uang Mba Ray lagi." Aku beristighfar dalam hati. Ibu ini sudah lebih dewasa dariku, tapi pikirannya masih saja selalu berprasangka buruk.
         Takut si ibu berucap lebih jauh tentang anak- anak itu, aku segera pamit dan tidak lupa berterima kasih untuk air hangatnya. Saat aku kembali, segera aku memberikan air hangat yang kubawa kepada anak kedinginan itu. Setelah anak kedinginan itu membaik, anak- anak itu berterima kasih kepadaku dan pamit untuk kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
         Di kepalaku kembali terbayang ucapan ibu penjual masakan padang. Beginilah aku, cepat menangkap ucapan orang lain dan akhirnya akan menjadi pikiran baru. Aku berusaha menepis bayangan itu, tapi tidak bisa. Kakiku melangkah mendekati laci kios dibawah meja kasir. Dengan takut, aku membuka laci. Benar saja, uangku raib. Hanya tersisa beberapa uang seribuan dan lima ribuan. Aku panik. Tidak, tidak, ini bukan mereka. Tapi… Siapa lagi? Mataku mencari- cari sosok anak- anak itu. Tapi mereka sudah pergi ditelan hujan.
         Ah Ya Tuhan… Aku terduduk di kursi belakang meja kasir. Laci uang masih terbuka, dan dengan pilu aku menatap lembaran ribuan yang masih tersisa. Aku ingat besok adalah hari akhir masa tenggang yang diberikan sekolah bagi ketiga adikku untuk melunasi uang bulanan. Tanganku memijat kening perlahan. Tiba- tiba terdengar langkah kaki yang mendekatiku. Tangannya mencolek bahuku sedikit. Aku menoleh.
         "Kak, maaf… Aku khilaf." kepala anak kecil di hadapanku menunduk dalam sekali.
         "Ini kukembalikan uang kakak yang tadi kuambil" tangan basahnya menyodorkan gulungan uang yang sudah tidak keruan. Mataku membelalak.
         "Maaf kak… Kakak bisa menghukumku." katanya lagi. Bibirku bergetar menahan tangis. Aku terenyuh, sungguh terenyuh. Segera aku berlutut di hadapan anak itu lalu merengkuhnya, erat sekali.
        "Tidak apa- apa, dik. Tidak apa- apa…"
-The End-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal