Just Like This, Not More, Until The End

         
         Haru menunduk, tapi ujung pandangnya tetap melekat pada sosok lelaki yang duduk tidak jauh dari tempatnya. Diperhatikannya setiap gerakan tubuh lelaki itu tanpa berkedip. Saat itu, waktu terasa milik Haru seorang.
   "Haru." terdengar sebuah suara berat memanggilnya. Haru menoleh, berusaha mengatur napasnya.
   "Bagaimana persiapan timmu?" tanyanya.
   "Oh ya, sudah sampai tahap akhir---." Beruntung bagi Haru, rentetan kata itu sama sekali tidak terdengar gugup padahal jantungnya berdetak begitu keras seakan ingin mendobrak dadanya.
         Ini adalah hari ketiga ia bertemu dengannya. Tidak terpikirkan sebelumnya oleh Haru bagaimana takdir bisa mempertemukannya dengan lelaki seperti itu. Diawali saat persatuan sekolah menengah atas kota Gotenba menyelenggarakan festival untuk memperingati hari kebudayaan tanggal tiga November nanti. Haru menjadi salahsatu panitia begitu pula lelaki itu. Selanjutnya pertemuan demi pertemuan terlewati tanpa Haru mengenal sama sekali dirinya. Padahal jarak mereka tidak terlalu jauh.
        Haru berjalan sendiri menyusuri trotoar. Matanya tidak lepas dari ujung sepatu putihnya yang berpadu dengan salju di jalan. Rapat panitia festival kali ini baru selesai pukul empat, lebih lama dari biasanya. Padahal kalau hanya sampai pukul dua Haru masih bisa pulang bersama Kagami yang juga baru selesai mengurus laboratorium.
   "Haru."  panggil sebuah suara dibelakangnya.
Haru mengerutkan kening, merasa mengenal suara itu. Ia menoleh. Sontak matanya membelalak saat ditemukannya Aoyama dihadapannya duduk di atas sepeda.
   "Ya?"
   "Aku menyediakan tumpangan." Aoyama menepuk jok belakang sepedanya. Napas Haru tertahan. Berharap ini bukan mimpi.
   "Terima kasih, tapi rumahku hanya satu blok dari sini. " Haru menundukkan kepalanya sesaat.
   "Oh, yasudah aku duluan. " Aoyama pun kembali mengayuh sepedanya meninggalkan Haru yang masih terpaku di tempatnya.
***
        Segalanya berlalu begitu cepat. Rangkaian hari- hari itu hanya terasa seperti sepersekian detik bagi Haru. Bahkan ia belum sempat mengenal sebiji pun tentang lelaki itu. Hanya namanya, Aoyama Matsuda. Dan setidaknya lelaki itu mengenalnya. Setelah itu ia tidak pernah bertemu. Lelaki itu berbeda. Entahlah, bagaimana Haru tahu padahal ia sama sekali tidak mengenal lelaki itu. Begitulah yang ia tahu. Haru akui, sebenarnya tidak ada yang spesial dari lelaki itu. Tapi sinar matanya saat mereka berhadapan, gerakan tubuhnya saat Aoyama berbicara dan berjalan atau melakukan pekerjaan lainnya, terlebih suara lelaki itu saat memanggil Haru benar- benar telah menyita perhatian Haru.  
         Langkah Haru terhenti di depan sebuah toko kue. Matanya melongo menatap etalase yang memajang sebuah kue pernikahan merah jambu bertingkat dengan tulisan ‘Keiji&Kimi'.
   "Mmm… Aoyama&Haru, bagus bukan?" gumam Haru tanpa mempedulikan Kagami yang menatapnya aneh. Haru memukul kepalanya.
   "Baka! Baka! Kenapa wajahmu itu terus membayangiku hah?" gerutunya.
Kagami hanya diam membiarkan gadis dihadapannya hanyut dalam kegilaan.
   "Ayolaah tolong aku! Bagaimana cara melupakannya!" Haru menarik- narik lengan Kagami seperti anak kecil.
   "Kenapa harus melupakannya?"
   "Aku benci dia!" pekik Haru.
   "Kenapa? Kau menyukainya bukan?" goda Kagami.
   "AKU BENCI KARENA DIA MENARIK!" Sontak es lemon di mulut Kagami muncrat. Matanya membelalak.
***  
          Hamparan salju tampak menutupi jalan sepanjang kota Gotenba dengan Gunung Fuji yang berdiri kokoh di sebelah barat. Haru berjalan menyusuri blok- blok rumah. Sepanjang liburan musim dingin yang dihabiskannya di rumah membuatnya bosan. Mungkin jalan- jalan ditemani senja seperti ini akan menghiburnya. Suara tapak sepatunya yang menginjak salju terdengar renyah. Entah mengapa membuatnya ingat akan sosok Aoyama. Tanpa disadari, Haru tersenyum.  
Hari ini Dewi Fortuna sedang memihak padanya...
Sesosok lelaki sedang berjongkok lima langkah dari tempat Haru berdiri. Mata Haru memicing. Perlahan ia mendekati lelaki itu.
   "Aaa... Aoyamaa?" Haru memberanikan diri menyapa. Lelaki itu menoleh.
Bravo! Benar- benar Aoyama. Aoyama tersenyum. Itu dia! Hal yang sangat langka yang selalu Haru rindukan.
   "Mmm.. Sedang apa?" Aoyama bergeser.
Haru melongo mendapati seekor burung merpati dalam dekapan lelaki itu. Ia pun ikut berjongkok di sampingnya.
   "Sayapnya terluka." ujar Aoyama singkat. Bibir Haru membentuk huruf 'o', jawaban itu cukup.
Takut- takut tangan Haru terulur menyentuh tubuh merpati itu. Bulu putihnya begitu halus saat ia mengelusnya.
   "Kau penyayang binatang?" Haru memulai percakapan. Ia tidak ingin menyianyiakan kesempatan ini.
   "Hmm…" Tangan Aoyama mengelus kepala merpati. Haru mengangguk. Pembicaraan ini begitu kaku.
   "Oke, aku harus pergi." Aoyama bangkit sambil melepas jaketnya dan menggunakannya untuk menyelimuti tubuh merpati.
   "Oh, ya. Kau akan membawanya?" Haru ikut bangkit. Tangannya menepuk- nepuk salju di bahunya.
   "Hmm. Dirumah aku akan mengobati sayapnya." Aoyama tersenyum. Lagi.
   "Baik, aku pergi. Sampai ketemu lagi." Lelaki itu pun berlalu. Haru terus memperhatikan punggungnya yang kokoh sampai menghilang di tikungan jalan. Haru tersenyum.
         Tidak lebih dari lima belas menit di samping lelaki itu telah membuat tubuhnya terasa sangat dingin. Kedua telapak tangannya tertangkup didepan wajahnya, mulutnya meniup- niup mengeluarkan hawa hangat.
         Apa katanya tadi? 'Sampai ketemu lagi?'  Lagi- lagi bibir Haru melengkung membentuk sebuah senyum.   Ya, aku pun sangat berharap hal yang sama...

Lebih baik begini.
Cukup bagiku mengenal dan melihatmu dari jarakku saat ini.
Tidak, aku sama sekali tidak meminta lebih.
Just like this, not more, until the end.


-fortheperfectman-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal