LICHT GOTTES


“Theophobia.”
Mata pria kisaran kepala lima itu membelalak tapi ia berusaha agar kewibawaannya tetap terpancar.
                “Oh ya terima kasih.” Ia tersenyum kecut kepada Psikiater dihadapannya lalu segera pergi. Semuanya sudah sangat jelas, ia tidak butuh lagi penjelasan dari Psikiater itu atas pernyataannya. Sang Psikiater mengangguk takzim, mengerti apa yang dirasakan pria itu.
                Bug! Kepalan tangan Mr. Fritzsche telak menghantam perut anak lelaki dihadapannya. Anak itu terjungkal.
                “Anak cacat! Tidak berguna!” Mr. Fritzsche pergi meninggalkannya. Si anak bergeming dengan dada yang masih naik- turun. Matanya sayu menatap punggung ayahnya yang semakin menjauh. Perlahan ia bangkit. Perutnya terasa sangat perih, seperti ingin muntah. Tubuhnya meringkuk di ujung ruangan, satu tangannya memeluk lutut, tangan lainnya menggenggam erat bandul kalung yang melingkar di lehernya. Rasanya ingin menangis. Tidak! Lelaki tidak boleh menangis.
                Eva yang sedari tadi memperhatikan kakaknya dari bingkai pintu langsung berlari menghampirinya. Airmatanya tertahan. Ia tahu, Adrian sangat tidak suka kalau ia menangis.
                “Kakak…” Direngkuhnya tubuh rapuh Adrian. Pukulan ayahnya tadi benar- benar telah membuatnya lemah, bukan hanya jiwanya juga kondisi psikisnya.
                Adrian Fritzsche mengidap theophobia, ketakutan terhadap Tuhan. Hal yang membuat Mr. Fritzsche sangat marah dan tidak bisa ia terima. Bagaimana tidak, ia adalah keturunan bangsa Arya yang sempurna. Bangsa yang selalu ditinggi- tinggikan kaum fasis, yang disamping itu pun juga yang menghancurkan ras lain seperti bangsa Gipsi, Slavia, orang- orang cacat di Afrika, Marxisme atau pun kaum Liberal dan terutama bangsa Yahudi. Sementara Adrian anaknya sendiri adalah orang cacat. Apa yang harus ia katakan kepada kaum fasis lainnya, padahal nantinya Adrian akan menjadi salah satu petinggiNationalsozialismus penerus Hitler.
***
                “Boleh aku duduk disini? “ ucap Adrian kepada seorang wanita berpenutup kepala. Wanita itu menoleh.
                “Silahkan.” Ia menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Adrian.
Mata Adrian memperhatikan mahasiswa yang berlalu- lalang. Saling bercengkrama satu- sama lain, berkelompok mengerjakan tugas atau mendiskusikan suatu permasalahan. Rasanya ingin sekali ia seperti mereka. Tapi ayahnya tidak pernah menghendaki.
Untuk apa ke universitas, kamu akan tetap cacat… begitu katanya.
Sikap ayahnya masih sama seperti dulu. Mungkin ia termasuk kedalam daftar  ‘orang cacat’ yang akan menjadi korban anarkisme kaum fasis kalau ia bukan anak ayahnya. Mr. Fitzscher tetap menutup mulutnya tentang ‘penyakit’ Adrian. Ia tidak ingin eksistensinya di antara kaum fasis menghilang. Disamping itu ia selalu membawa Adrian untuk hipnoterapi dan psikoterapi. Tapi semuanya percuma. Kini Adrian berumur delapan belas tahun, phobianya tetap melekat dalam dirinya dan beberapa orang temannya pun mengetahui tentang ‘penyakit’nya itu.
Woher kommen Sie? “ Tanya Adrian kepada wanita disampingnya yang sedang membaca buku kecil.
Ich komme aus Indonesien. “ jawabnya.
Adrian mengangguk. Ia tahu negara itu yang memang banyak mahasiswa dari sana mengambil studienkolleg di Jerman yang berpenampilan sama dengan wanita di sampingnya.
                “Maaf, ini tempat kami! “ ucap seorang mahasiswa. Adrian yang merasa ucapan itu untuknya menoleh menatap segerombolan mahasiswa berdiri menantang di hadapannya. Diantaranya ada Josef dan Walter, putra dari Mr. Bormann dan Mr. Clauberg yang juga petinggi Neonazi
                “Ini tempat umum. “ responnya singkat.
                “Tapi bukan untuk orang cacat sepertimu! “ tukas Walter.
                “Bukan untuk orang yang takut Dewa Horus, Yesus, Allah, Amaterasu ataupun Buddha sepertimu!”
Adrian tersentak. Jantungnya berdetak seakan ingin mendobrak dadanya.
                “Arya itu sempurna seperti Fir’aun, tidak sepertimu! Apa yang akan kau berikan kepada Nazi, Ha?!”
Napas Adrian memburu tidak teratur. Kepalanya terasa sangat berat. Ia memejamkan mata, sambil tangannya terus menekan dadanya menahan rasa sakit.
                “Cacat!” seruan itu terus terngiang dalam pikirannya. Pandangan disekitarnya memburam dan seketika semuanya menjadi gelap.
***
Eva meletakkan nampan berisi makanan dan segelas susu di atas meja lalu ia duduk di pinggir ranjang. Ditatapnya Adrian yang tertidur pulas di sampingnya. Tangan Eva menyentuh dahi kakaknya. Panas. Dalam keadaan seperti ini, lelaki itu tampak begitu lemah. Padahal biasanya Adrianlah yang menjaganya. Ia mengelus dahi Adrian yang berkeringat. Perlahan mata Adrian terbuka, menatap wajah adiknya yang begitu menawan.
                “Danke… “ ucap Adrian lirih.
                “Seorang wanita bernama Ashva dan teman- temannya membawamu kesini. “ Adrian mengerutkan kening. Ia teringat wanita berpenutup kepala disampingnya tadi.
Wie geht es lhnen? “ Tanya Eva khawatir.
                “Mir geht es gut. “Adrian tersenyum lemah.
Eva balas tersenyum. Sedikit lega dengan jawaban itu, walau ia tahu Adrian tidak ‘baik- baik saja’.
***
                Hamparan salju tampak menutupi jalan sepanjang kota Berlin. Gumpalan salju berjatuhan dari dahan- dahan pohon.Cuaca yang mencapai suhu minus nol derajat membuat Adrian semakin mempererat jaketnya. Setiap senja menginjakkan kaki di langit ia memiliki kebiasaan pergi ke taman dekat kampus untuk sekedar menghibur diri. Hari- harinya yang selalu dihabiskan di dalam rumah membuatnya jenuh.
                Dari kejauhan tampak seorang wanita berjubah panjang dengan penutup kepala berwarna kuning lembut sedang duduk di salah satu bangku taman. Ah ya, namanya Ashva. Sudah menjadi rutinitas bagi Adrian untuk menemui wanita itu sepulang para mahasiswa dari kampus sejak dulu wanita itu menolongnya. Banyak hal yang ia dapatkan darinya, terutama tentang keyakinan yang dipegang Ashva.
                “Hei. “ sapanya.
Ashva yang sedang membaca kitab mendongak sekilas lalu kembali menekuni kitabnya.
                “Wa’alaikumsalam.”
Wanita itu selalu begitu. Bahkan setiap Adrian mengajaknya bicara, Ashva tidak pernah menatapnya. Katanya untuk saling menghormati.
                Adrian mengeluarkan kalungnya dari balik jaket yang terasa dingin di dadanya. Kalung ini pemberian ayah sebagai penanda bahwa nantinya ia akan menjadi petinggi Neonazi. Ashva menoleh. Matanya terbelalak menatap bandul kalung di tangan Adrian yang berbentuk seperti kincir angin. Ia tahu betul itu adalah lambang partai Neonazi penganut fasisme.
                “Kamu… “ tanpa sengaja Ashva mengeluarkan katanya. Adrian menoleh menatap Ashva yang tampak terkejut dengan benda ditangannya. Buru- buru ia kembali melingkarkan kalungnya di leher.
                “Tenang, ini hanya sebatas kalung. Tidak benar- benar menandakan kalau aku anggota partai ini. “ Adrian menjelaskan. Ashva melengos. Berusaha meyakini ucapan pria disampingnya.
                “Tampaknya kamu sangat mengagungkan Penguasamu saat membaca kitab itu. “ Adrian mencairkan suasana.
                “Tentu saja, semua hamba pasti begitu. Terlebih Penguasa- kulah yang menciptakan kehidupan di alam semesta ini.”
                Seberapa dekatnya kamu dengan Penguasamu yang tidak terlihat itu?” Adrian membuat agar ucapannya bukan pelecehan.
Ashva menyodorkan sebuah buku ke hadapan Adrian. Pria itu mengangkat alis tidak mengerti.
                “Bacalah dari jauh. Apa hurufnya terlihat?”
Adrian mengangguk.
                “Coba dekatkan sampai menyentuh wajahmu. Apa kamu masih melihat hurufnya?”
Adrian menggeleng.
                “Begitulah penguasaku. Sangat dekat, sampai aku pun tidak bisa melihatnya. Tapi aku percaya Dia selalu ada bersamaku bahkan lebih dekat dari nuraniku sendiri. “ Ashva menerangkan dengan penekanan kata ‘sangat’.
Adrian tercengang. Sebegitu mengagumkannyakah Penguasa itu… pikirnya.
                “Aku harus pergi. “ Ashva memasukkan barang- barangnya ke dalam tas.
                “Kau akan pulang?”
                “Tidak, ini sudah petang. Aku harus menuju tempat ibadahku.”
Adrian ingat, Ashva punya rutinitas beribadah sebanyak lima kali dalam sehari. Salah satunya pada saat petang.
                “Mau kuantar?”
Ashva tampak sedikit terkejut.
                “Aku tidak keberatan. Hanya ingin mengantarmu. Sungguh!” Adrian meyakinkan.
Ashva mengangguk dan membiarkan Adrian mengikutinya dari belakang.
                Bangunan itu tidak terlalu besar, tapi arsitekturnya bisa dibilang menakjubkan. Ada kubah dengan pucuk berbentuk bulan dan bintang. Adrian memperhatikan orang- orang yang berkeyakinan sama dengan Ashva berdatangan memasuki bangunan itu. Yang pria memakai penutup berbentuk bulat dikepalanya dengan kemeja lengan panjang, sebagian memakai celana panjang, sebagian lainnya memakai kain bercorak sampai mata kaki. Sedangkan yang wanita memakai penutup kepala yang panjangnya menutupi lutut dan diteruskan dengan kain warna senada sampai ujung kaki.
                “Cukup sampai disini. Terima kasih. “ Sekilas Ashva tersenyum.
Adrian memperhatikan punggung Ashva yang semakin menjauh, ikut membaur dengan lainnya. Sesekali tampak berjabat tangan dan saling melempar senyum. Melihatnya, Adrian merasa… Hangat.
 “Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang kepadanya.” (QS. 17:94)
***
Teruntuk kakakku,Lelaki Berwajah Teduh…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal