Sekeping Harapan Kekasih

            "Hasta, pulanglah." Suara Jo terdengar serak di seberang sana. "Aku mohon... Proyek akan disahkan bulan depan. Kami butuh kamu, Ta."
Aku bisa merasakan ketulusan di setiap selipan katanya. Namun, permintaannya, aku tidak bisa. "Kamu tahu sendiri jawabanku."
Seperti tahu aku hendak memutus sambungan telepon, Jo buru-buru berucap, "Kalau ini tentang Lina, tolong pikirkan lagi!"
Mendengar namamu, tiba-tiba genggamanku mengeras pada ponsel. "Apa lagi yang harus dipikirkan?"
            "Tidakkah kamu lelah bersembunyi, Ta? Menyalahkan orang lain atas kecelakaan waktu itu—“
             "Karena mereka memang salah!" Tanpa kusadari, nada bicaraku meninggi.
            "Proyek itu impian Lina, bukan? Lalu kamu akan menghentikannya?"
            "Jo, kalau kamu menghubungiku hanya untuk ini. Terima kasih."
            Kuhempaskan ponselku ke jok mobil sembarangan. Erangan frustasiku membuat sopir pribadiku melirik lewat cermin persegi panjang yang menggantung di atas dasbor mobil. Aku tersenyum sekilas, mengisyaratkan kalau aku baik-baik saja.
            Aku melepas pandangan ke luar jendela. Pemandangan di luar menyuguhkan deretan gedung pencakar langit dengan papan-papan iklan digital mengapit dua sisi jalan. Cahaya warna-warni dari papan-papan iklan tersebut menyorot langkah pejalan kaki di bahu jalan. Ini New York dengan segala kemewahannya. Tempatku mengabdikan seluruh hidupku saat ini bahkan sampai akhir nanti.
***
Ingatan tentang peristiwa tiga tahun lalu sama sekali tidak melebur.
Waktu itu pukul sembilan malam. Penelitian hari itu membuatku lelah dan ingin segera pulang, tapi melihat kau yang masih serius dengan tabung-tabung reaksi di hadapanmu aku urungkan niatku.
            "Pulang duluan saja, aku akan menyusul,” katamu seakan tahu keadaanku.
            “Tidak apa-apa?”
                        Kamu bergumam, mengiyakan. Setelah mengecup keningmu dan mengucapkan selamat malam, aku kembali ke apartemen. Satu hal yang tidak kusadari, itulah terakhir kali bibirku mendarat di keningmu. Tidak lebih dari satu menit aku memejamkan mata, suara dering telepon di apartemen membangunkanku.
            "Hasta, Lina, Ta—“
Mendengar suara lirihnya merapal namamu, aku tahu ada yang salah. Langkahku segera melesat kembali ke laboratorium.
            Aku hanya bisa tergemap menyaksikan bangunan laboratorium yang porak-poranda. Entah apa yang membuat atapnya kini sudah rata dengan tanah. Ada gempakah barusan? Sentuhan di bahuku menyurai keterpanaanku. Aku menoleh. Kulihat sepasang mata Jo menancap pada sekelompok orang yang tampak sedang menggotong seseorang.
            "Tim penyelamat menemukan jasadnya di antara reruntuhan." Kurasakan jemari Jo yang semakin kencang meremas bahuku.
            Pandanganku mengabur. Tidak, tidak mungkin. Aku berlari menyeruak ke dalam kelompok itu. Di sana, di atas tandu yang warnanya sudah berubah merah, sosokmu terbujur.
            "Lina, tolong bangun!" Aku tersaruk mengikuti tubuhmu yang digotong ke dalam ambulans.
            "Kita naik mobilku, Ta!" Jo menarik paksa tubuhku yang meronta hebat seperti orang kesetanan.
            "Lina!" Aku menghentakkan tangan Jo, tapi genggamannya pada lenganku amat keras. Ambulans yang membawa jasadmu lambat laun menjauh.
***
            Saat aku membuka mata, wajah pria dengan kumis tebal di bawah hidungnya mendominasi pandanganku.
            "Kita sudah sampai," ujar sopir pribadiku itu.
Kusadari mobilku sudah terparkir di pelataran laboratorium. Buru-buru aku turun dari mobil dan melangkah memasuki bangunan megah bernuansa putih di hadapanku.
            Lihat, Lina? Ini laboratoriumku sekarang. Bangunan gagah dengan segala fasilitas yang terjamin aman. Tak seperti laboratorium kita dulu, aku tak perlu khawatir untuk lama-lama berdiri di bawah atapnya. Berisi ratusan ilmuwan cerdas dari berbagai penjuru dunia dan petinggi-petinggi laboratorium yang tidak kalah cerdas sehingga aku percaya mereka memiliki rasa tanggung jawab yang besar.
            Lina, seandainya dulu kamu mengajukan proyek itu kepada orang-orang di tempat ini, tidak akan ada peristiwa tiga tahun lalu. Kamu, kamu masih berdiri di sampingku.
***
            Satu hari setelah peristiwa maut di laboratorium itu, aku dan Jo pergi mengunjungi penanggung jawab proyek.
            "Kami hanya meminta pemerintah membiayai permakaman korban dan kerugiannya. Jika berat, setidaknya berikan penghargaan dan penghormatan atas jasa-jasa mereka yang telah pergi." Jo berucap sopan.
            Pria yang tadi sibuk mencoret-coret buku agendanya langsung mendongak. Di matanya kutemukan tatapan yang merendahkan.
            "Kerugian? Memangnya kaukira siapa yang rugi di sini? Negara yang sudah menghamburkan uang untuk proyek abstrak kalian. Dan penghargaan?" Senyumnya tersungging asimetris, mengejek."Apa yang bisa kami berikan kepada para ilmuwan ingusan tukang mimpi seperti kalian?"
            Mataku membuntang. Aku maju mendekatinya lalu dengan kasar aku meremas kerah baju pria itu. "Anda sudah berjanji akan bertanggung jawab atas proyek ini dengan menandatangani proposal kami!"
Jo buru-buru menarik tubuhku menjauhi pria itu dan membawaku keluar ruangan.
            "Pantas saja negeri ini tidak pernah maju! Penguasanya saja tidak punya rasa tanggung jawab!" Suaraku menggema di ruang kantor yang luas itu.
***
            Krak! Suara pecahan kaca membuyarkan lamunanku. Aku menunduk. Kulihat tabung reaksi dalam genggamanku hancur. Pecahannya menembus sarung tangan karet yang kukenakan dan menggores telapak tanganku. Anehnya, tidak sakit.
            "Hasta, are you okay?" Aron, pemilik logat Perancis di sampingku menatapku cemas.
Butuh beberapa jenak agar aku bisa menyadari apa yang terjadi sebelum akhirnya aku melangkah ke toilet untuk membersihkan lukaku.
            Kau tahu, Lina? Goresan di tanganku ini sama sekali tidak ada apa- apanya di banding hatiku yang terluka atas kepergianmu. Aku masih terluka, Lina, sampai detik ini.
***
            Malam ini kaumenegurku.
            "Hasta, pulanglah. Aku tidak apa-apa." Lima langkah di hadapanku, kamu berdiri dengan jas putih selutut yang biasa kamu kenakan di laboratorium.
            Rasanya ingin sekali menyentuh jemarimu, tapi langkahku tertahan.
            “Lina!” Aku menggerakkan kakiku, berusah melepas rantai tak kasatmata yang melilitnya. “Lina... Aku merindukanmu.”
            “Mereka membutuhkanmu,” ucapmu terdengar seperti bisikan angin.
            “Lina, aku membenci mereka. Kamu—“ Kerongkonganku tercekat saat menyadari betapa menyedihkannya diriku sekarang tanpa kehadiranmu.
            “Sungguh, Hasta, aku tidak apa-apa. Kamu harus kembali.”
Kuusap wajahku kasar, berharap dengan begitu bebanku sedikit luruh.Lina, kenapa? Kenapa kamu sangat menginginkan proyek ini?"
            "Karena aku mencintai tanah kelahiranku, Hasta. Semuanya untuk tanah itu. Seperti kamu yang mencintaiku dan mau berbuat apapun untukku ‘kan?"
            Aku menyeringai perih. Sebesar itukah cintamu pada negeri itu, Lina? Mereka mencampakkanmu, Lina. Lalu kamu tetap berdiri pada rasa yang sama?
            "Pulanglah, Hasta. Kalau kamu tidak bisa kembali untuk mereka, kembalilah untukku." Tatapanmu menghujamku penuh arti. "Untukku."
***
            Langkahku terhenti di depan terminal kedatangan bandara Soekarno-Hatta. Sejak tiga tahun lalu aku hengkang darinya dan aku kembali lagi hari ini, sama sekali tak ada perasaan asing yang menyelusup di dadaku. Kedatanganmu di mimpiku beberapa hari lalu terlalu nyata untuk kuabaikan. Kau membuatku ingin segera pulang, Lina. Untukmu dan negeri kita.
            Setelah mimpi itu, aku langsung mengajukan surat pengunduran diri kepada kepala laboratorium. Mereka sempat menjanjikan uang ratusan juta dolar agar aku tetap di sana, tapi aku menolak.
            "They didn't need you," ucap mereka tegas ketika aku memberikan alasan atas surat pengunduran diri tersebut.
Aku mengulum senyum. "But i need them."
            Dan sekarang, di sinilah aku berdiri. Tanah ibu pertiwi. Aku datang untuk mewujudkan sekeping mimpi sang kekasih.
            "Hasta!" Seorang pria jangkung yang kulit sawo matangnya tampak kontras di antara beberapa turis kulit putih melambai ke arahku. Senyumku merekah.
            "Jo!" Kami berjabat tangan lalu Jo menarikku ke dalam pelukannya.
Dari balik bahuku, Jo berucap, "Hasta, selamat datang di Indonesia."
***


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal