Winter Tale
Aku
selalu menyukai musim salju. Pertama, ia tak akan sepanas natsu1) yang
membuat keringatku meleleh. Kedua, akan ada baju hangat yang dibelikan ayah
kepadaku setiap musim dingin. Ketiga—ini alasan baru, entah bagaimana Dewi
Fortuna sangat-sangat memihakku di musim ini. Setelah mengenal seorang
laki-laki bernama Aoyama Matsuda di festival hari kebudayaan dan pertemuan
terakhirku dengannya di musim dingin tahun lalu, hari ini sosoknya kembali
muncul di hadapanku.
Gotemba hari ini diselimuti musim dingin dengan suhu lima
derajat celcius. Aku yang berdiri di depan sebuah kios takoyaki mengeratkan
jaket. Beberapa toko dari tempatku berdiri, Ayah dengan seorang client-nya sedang duduk di sebuah
restoran Italia. Kata Ayah, setelah ini ia akan membelikanku baju hangat
makanya aku terpaksa menunggunya.
“Haru?”
Ini yang kubilang, Dewi Fortuna memihakku.
Aku menoleh saat mendengar sapaan itu. Seorang laki-laki
berdiri di sampingku sambil menuntun sepedanya. Pertemuan terakhirku dengan
Aoyama memang sudah satu tahu lalu, tetapi aku tak pernah melupakan sosoknya.
Bibirku baru akan merapal namanya saat tiba-tiba terdengar suara benturan yang
amat keras sehingga orang-orang tampak berlari ke satu titik. Beberapa saat aku
dan Aoyama bertatapan bingung sebelum akhirnya mengikuti orang-orang yang
berlarian tersebut.
Orang- orang itu mengerumuni sesuatu di depan restoran
Italia tempat Ayah bersama client-nya.
Mendadak, perasaanku tidak enak. Sulit untukku menerobos kerumunan itu.
“Ada apa, Pak?” tanyaku kepada seorang pria yang baru ke
luar dari kerumunan.
“Ada yang tertabrak mobil,” ujarnya.
Selanjutnya, seakan dikomando, kerumunan itu memberi
jalan untukku masuk. Bahkan saat wajahnya berlumuran darah, aku tahu jasad di
tengah mereka adalah Ayah. Aku jatuh berlutut di sampingnya. Kuraih kepalanya
ke pangkuanku. Ingin rasanya memekik, tetapi kerongkonganku tercekat. Sampai
akhirnya ambulans datang dan membawa Ayah ke rumah sakit.
Aku duduk di depan ruang operasi saat sepasang kaki
berhenti di hadapanku. Ia menarik jemariku dan mengusap darah yang menempel di
sana dengan sapu tangan.
“Lepas jaketmu,” ujarnya.
Demi melihat pemilik sepasang kaki di hadapanku itu, aku
bergeming.
“Lepas jaketmu.” Ucapannya kali ini diikuti uluran
tangannya yang perlahan membantuku melepas jaket.
Jaket yang berlumuran
darah itu diletakkannya di sampingku lalu ia melepas jaketnya dan menutupi
tubuhku dengan benda itu.
Aku terkesiap. “A… Aoyama.”
Aoyama hanya tersenyum lalu duduk di sampingku. “Kalau
aku bilang ayahmu akan baik-baik saja, apa kau akan percaya?”
Aku mengangkat bahu sambil menyeringai perih. “Sudah tiga
jam, tapi operasinya belum juga selesai.”
Aoyama mengepalkan kedua jemarinya di depan dada. Kepalanya
ditundukkan dan ia berbisik, “semoga Tuan Matsumoto akan baik-baik saja.”
Entah bagaimana, suaranya membuatku memercayai ucapannya.
Aku salah tentang memercayai
ucapannya.
Saat itu lewat lima jam Ayah berada di ruang operasi
tepatnya pukul enam sore, dokter dan tiga orang perawat ke luar dari ruang
operasi.
“Maaf—“
Mendadak, telingaku tuli.
*
Ayah dimakamkan keesokan harinya. Tidak banyak yang
datang ke pemakaman seorang pria yang meninggalkan keluarganya dan kawin lari
dengan seorang wanita desa yang mengidap penyakit keras. Aku sudah melalui ini
saat Mama meninggal sepuluh tahun lalu, seharusnya aku sudah terbiasa.
Nyatanya, ini menyakitkan.
“Haru…” Kagami yang baru datang langsung memelukku.
Aku tersenyum hambar. Kami sempat mengobrol sebentar usai
pemakaman sebelum Kagami kembali ke Kyoto untuk menyelesaikan urusannya.
Aku berdiri di ruang tamu rumah yang terasa lebih lengang
dari biasanya. Sebelum ini, hanya ada aku dan Ayah di rumah ini. Ayah yang
lebih banyak menghabiskan waktu di kantor membuatku menikmati rumah kosong ini.
Tapi, sekarang rumah ini benar-benar kosong. Hal ini tak akan kurasakan kalau
Natsu tidak pergi. Bahkan, wanita itu tidak datang ke pemakaman Ayah walau aku
sudah memberinya kabar lewat surel.
Pantatku baru mendarat di sofa ruang tamu saat tiba-tiba
telepon bordering. Suara deringnya menggema di ruang kosong itu sehingga
membuatku takut dan segera mengangkatnya. Sekosong inikah sunyi?
“Hai.” Suara
itu menyapaku, Aoyama.
“Oh, hai.”
“Kau baik-baik
saja?”
“Aku bohong kalau menjawab ‘iya’.”
“Kau sudah makan?
Apa aku ke rumahmu sekarang agar kita bisa makan malam bersama?”
Rasanya aku ingin menangis. “Tidak, tidak perlu. Ini
sudah terlalu malam.”
Terdengar suara desah panjang dari seberang sana. “Baiklah, besok aku ke rumahmu. Oyasumina—“
“Aoyama!” Aku
memotong ucapannya. “Bisakah kau tidak menutup telepon? Aku… tidak bisa tidur.”
“Dengan senang
hati.”
Aku bisa membayangkan Aoyama tersenyum dari seberang
sana. Lalu hening memberi jeda pada pembicaraan kami.
“Kau mungkin tak
akan suka suaraku, tapi aku akan mencoba bernyanyi.”
Jibun
wo tsuyoku misetari
Jibun
wo umaku misetari
Doushite
bokura wa konnani
Ikigurushii
ikikata erabu no?2)
...to be continue
*
1) Musim Panas
2) Lirik lagu Life Is
oleh Ken Hirai
Writer's note:
Akhir-akhir ini, menulis mendadak jadi hal yang berat buat saya karena beberapa alasan. Di suatu hari, seorang sahabat menegur saya.
"Zah, blog kamu apa? Kangen baca cerita kamu." katanya.
Lalu saya berikan link blog saya.
Besoknya, dia chat saya lagi, "Aku habis baca Aoyama loh."
Saya langsung tertawa. Sahabat yang satu itu tahu cerita dibalik cerpen yang saya buat dengan nama tokoh Haru dan Aoyama di blog ini. Yah, beberapa penulis pasti pernah melakukannya, menulis fiksi yang berdasarkan kisah nyata.
Kemudian, saya ikut membuka blog dan membaca cerpen "Aoyama" tersebut. Mendadak, saya kangen karakter Haru dan Aoyama. Saat itu pula, muncul hasrat saya untuk "memanggil" kembali tokoh-tokoh itu.
Winter Tale bisa jadi sekuel dari cerita Haru dan Aoyama sebelumnya. Kalau ingin baca cerita mereka, bisa masuk ke link ini Just Like This, Not More, Until The End
By the way, tulisan saya yang itu masih sangat berantakan. Sempat ada dorongan untuk memperbaikinya, tapi kemudian saya urung. Harus ada lembar rusak yang sewaktu-waktu bisa kita tengok 'kan untuk memperbaiki diri? Terima kasih sudah membaca:)
Komentar
Posting Komentar