[Review Novel] Rahasia Hujan




Penulis: Adham T. Fusama
Penerbit: Moka Media
Tahun terbit: 2014
Jumlah halaman: 272 hal

sinopsis:
Sekolah Pandu kedatangan murid baru dari Jepang, seorang anak pendiam yang misterius. Sebagai teman sebangku, Pandu merasa harus bersikap ramah, meski Anggi—si murid baru—terus bersikap dingin.

Pada akhirnya, kebaikan hati Pandu membuat Anggi jatuh cinta. Tapi Pandu sudah punya pacar—seorang gadis cantik bernama Nadine. Ketika rasa sayang Anggi berubah menjadi obsesi berbahaya, Pandu dan teman-temannya terseret ke dalam sebuah permainan mengerikan.

Dan, Pandu harus bertaruh nyawa demi kebebasannya.

"Sebab demi bersamamu, akan kulakukan segalanya…."



ulasan:
Sebelumnya, aku mau mengucapkan terima kasih kepada Kampung Fiksi sama Mas Adham buat novel Rahasia Hujan gratisan ini hehehe

Rahasia Hujan adalah novel kedua dari penulis Adham T. Fusama. Berdasarkan beberapa review yang aku baca, novel pertamanya, Dead Smokers Club, yang diterbitkan oleh Penerbit FIM memiliki gaya khas remaja-remaja nyleneh. Aku sendiri belum baca novel tersebut, jadi nggak akan banyak membandingkan sama Rahasia Hujan.
Kisah ini dibuka dengan kedatangan seorang siswi introvert di SMA BOPER, bernama Anggi. Bisa dibilang, pembukaan seperti ini terbilang sangat biasa walaupun sebenarnya bahasa yang digunakan cukup membawa pembaca. Bahasa khas sudut pandang anak SMA. Penokohannya pun tidak banyak keunikan, Pandu yang supel, Nadine si cantik dan sopan, Mamet yang apa ya, rame? Haha. Selain bahasanya, label "novel thriller" di kover novel juga berhasil membawa aku sampai ke klimaks. Sayangnya, label tersebut nggak seperti yang dibayangkan.
Nggak tahu kenapa, aku merasa kecewa waktu mencapai klimaks. Padahal, bayangan aku tentang alur novel ini udah kayak membayangkan film-film thriller barat. Mungkin karena kebenaran tentang Anggi dituturkan langsung dari bibir cewek ini, jadi nggak berasa deg-degannya. Terkesan seperti curhat hehe. Kalau saja hal itu dituturkan lewat penemuan-penemuan Pandu dan Mamet layaknya detektif dan dibubuhi adegan kejar-mengejar, mungkin akan terasa lebih menarik. Namun, tragedi yang menimpa Nadine lumayan bikin terenyuh ditambah trauma yang dihadapi Pandu setelahnya.

Ada satu hal yang bikin aku tertarik sama novel ini. Di akhir kisah, penulis mengangkat isu pendidikan. Seperti mulai diberlakukannya tes psikologi di SMA BOPER untuk para siswa baru supaya tidak kecolongan kayak kasus Anggi. Atau diangkatnya peran Bimbingan Konseling yang membantu trauma para siswa. Aku juga ingat di awal kisah juga dituturkan perbandingan sistem pendidikan di Indonesia dan di Jepang. Tuturannya tidak banyak, hanya sekilas dari pandangan Pandu jadi tidak terkesan seperti artikel nyasar.

Typo masih cukup banyak ditemukan, jadi agak mengganggu. Yaa aku kasih 2.5 stars of 5. Satu bintang buat semangat penulis, satu bintang buat isu pendidikannya, 0.5 bintang buat karakter Mamet yang cukup menghibur.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal