[Review Novel] Walking After You by Windry Ramadhina









Judul                     : Walking After You
Penulis                 : Windry Ramadhina
Penerbit              : Gagas Media
Tahun Terbit      : 2014
Jumlah Halaman: 320 halaman


Blurb:
Masa lalu akan tetap ada. Kau tak perlalu terjebak di dalamnya.
Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali kepadanya.
An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu sejak berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang ternyata tak mampu ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.
Pernahkah kau merasa seperti itu? Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena takut bertemu luka?
Mungkin, kisah An sepertimu. Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.


Lagi-lagi membaca karya Kak Windry! Pertama kali membaca karya penulis ini, waktu dulu SMA. Aku baca Metropolis. Tapi, waktu itu belum terlalu memmerhatikan siapa penulisnya. Sekitar dua-tiga tahun berikutnya, aku baca Montase dan barulah tahu “Oh, Windry Ramadhina yang itu.” Karya Kak Windry yang juga sudah kubaca ada Memori, London: Angel dan Interlude.
Di halaman awal novel, Kak Windry menuturkan bahwa kisah An dan Arlet terinspirasi dari sepasang kembar dari sebuah acara televisi, Isabella Bliss dan Sofia Bliss. Sama seperti pasangan kembar tersebut, An sangat menggemari masakan Italia dan Arlet pintar memasak kue. An memiliki impian untuk memiliki sebuah restoran sederhana. Sementara, Arlet yang penurut menyetujui impian tersebut. Hal ini tidak akan ditemukan di dalam novel sebelum menginjak halaman pertengahan. Di awal cerita, hanya dituturkan An yang menjalani pekerjaan yang bukan kesukaannya, tapi ia tetap kekeuh. Pembaca dibuat penasaran dengan “hutang yang harus An bayar dari kesalahannya di masa lalu”.  Kalau cerita awal dibuat bertele-tele, pembaca bisa saja kabur dari novel ini. Untungnya, penulis memiliki trik. Kisah An disajikan dengan alur maju-mundur. Peristiwa-peristiwa dengan Julian, Galuh, dan Gen juga pertemuan dengan Jinendra akan selalu dikaitkan dengan masa lalu dengan Arlet. Penyajiannya yang sangat manis pastinya bakal bikin pembaca betah semedi sama novel ini. Hehehe

Seperti novel-novel sebelumnya, Kak Windry juga menciptakan detail karakter yang tidak sia-sia. Misalnya, detail-detail pengetahuan tentang arsitek yang merupakan pekerjaan Mahoni di Memori. Di Walking After You, detail profesi koki diselipkan dengan rapi. Tentunya, koki kue dan masakan Italia.  Aku jadi tahu soufflé, fettuccine primavera, Le Cordon Bleu lengkap dengan Alessandro Pavoni-nya. Serius, baca novel ini bikin perut lapar!

Aku sempat sesak waktu baca bagian An yang menemukan kado ulang tahun dari Arlet dan peristiwa “malam itu” di mobil dengan Arlet. Aku suka Julian, tapi ada sesuatu hal yang bikin Ju nggak benar-benar nempel di hati. Mungkin karena pas sebelum baca novel ini, aku baca Interlude dan masih tergila-gila sama Kai :p
Saran aja, jangan pindah novel satu ke novel lain dalam jeda singkat. Hehehe

For your information, di dalam novel ini, ada Ayu, tokoh di London:Angel juga.

"Kau tahu tidak, An? Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja." -Arlet-

Terima kasih Kak Windry untuk An, Arlet, dan Julian-nya!


Komentar

  1. Kren Review....
    Salam kenal ya. Saya juga maniak buku. Jadi lagi cari buku menarik untuk dibaca...

    Perkenalkan saya Idrus Dama
    My blog : www.cahayapena.com

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal