Dia Yang Ajariku Tawa



                "Boleh pinjam spidolnya?" aku menoleh saat merasa pertanyaan itu tertuju untukku. Seorang gadis bermata sipit dan semakin sipit karena ia tersenyum kepadaku.
                "Mmm... Boleh." aku menyodorkan spidol milikku yang sedari tadi menganggur ke arahnya. Setelah ia menerimanya, dia menuliskan 'Hanami Aulia' di papan namanya lalu menggambar sedikit hiasan di sekitarnya. Tampaknya ia orang yang berseni.
                "Nama lo Hanami? Lucu banget." kataku antusias.
                "Lucu? Ketawa dong."awalnya aku hanya terkekeh tapi lama kelamaan tawa kami meledak.

                Itu kali pertama aku bertemu Nami, gadis bermata sipit dengan lesung pipi di wajahnya yang putih langsat. Satu kesan pertamaku, ia adalah orang yang penuh jenaka. Pertemuan pertama saja sudah tertawa bersama, hari- hari selanjutnya kami gila bersama. Aku suka bagaimana kami selalu duduk di kursi panjang di depan kelas dan berbincang tentang mimpi kami.
                "Aku mau ke Cina." katanya.
                "Cina? Nama lo kan Hanami kejepang-jepangan gitu, aturan ke Jepang dong."
                "Ya suka- suka gue lah." tukasnya bercanda.
                "Yeee... Gara- gara mata lo yaa. Tampang orang cina gitu." aku tergelak. Mata Nami memicing menyisakan garis tipis disana. Kadang aku bertanya apa dia bisa melihat kalau sedang seperti itu. Kami suka saling berbagi. Tentang keluarga, orang yang dicintai, hari- hari di sekolah, tentang bagaimana kami terkadang membenci orang- orang di sekitar. Berbagi dengannya membuatku nyaman. Segala yang kurasa, ia juga merasakannya. Begitu juga sebaliknya.
                Nami menyukai seorang siswa di kelas sebelah, namanya Adri. Aku juga tidak tahu apa hal menarik dari seorang Adri yang membuat Nami sebegitu jatuh cintanya dengan drummer band sekolah itu. Pandangan orang berbeda- beda kan? Ia selalu menceritakan bagaimana Adri selalu memperlakukannya dengan manis. Mengajaknya nonton konser, menyodorkan sapu tangan saat ada sisa es krim di pinggir mulutnya, memberinya bunga, dan sederet perlakukan yang kupikir terlalu klasik dilakukan seorang lelaki kepada perempuan.
                Suatu ketika aku tidak masuk sekolah tiga hari karena sakit. Dan saat keesokan harinya aku kembali sekolah, ada yang berbeda. Nami. Wajahnya tidak seceria biasanya. Lesung pipinya pun tidak tampak.
                "Kenapa lo?" tanyaku hati- hati.
                "Emang gue keliatan banget ya?" ia balik bertanya. Aku mengangguk. Nami yang sekarang tidak seperti Nami yang kemarin, bagiku.
Ia melengos. "Adri........"
                "Kenapa dia? Dia ngapain elo ha?"
                "Dia..." aku manyun. Gadis sipit ini senang sekali membuatku penasaran.
                "Dia... Nembak gue."
                "Ha?!" mungkin seruanku itu sangat berlebihan sampai- sampai orang sekelas menoleh ke arahku. Aku nyengir.
                "Bagus dong..." aku tersenyum nakal. Bibir Nami mengerucut. Aku terekekeh geli melihat wajahnya yang terlihat galau maksimal.
                Setelah pembicaraan itu, aku tidak lagi bertanya tentang jawaban Nami atas pernyataan cinta Adri. Karena setiap kali aku bertanya Nami hanya nyengir pamer gigi geligi kecilnya. Tapi tampaknya mereka tidak menjalin hubungan yang namanya "pacaran". Karena yang kulihat Nami dan Adri tidak semesra orang yang sedang berpacaran. Tidak ada panggilan sayang, tidak ada perlakuan mesra layaknya drama romantis saat mereka bertatap muka, tidak terlalu sering jalan bersama, malam minggu saja Nami bukannya kencan dengan lelaki itu tapi menginap di rumahku. Mungkin hubungan mereka sebatas TTM (Teman Tapi Mesra) atau bisa jadi HTS (Hubungan Tanpa Status). Mendadak aku merasa seperti detektif, detektif cinta.
                Hari- hariku bersama Nami terlalu luar biasa sempurna untuk dituliskan disini. Aku harus menyediakan kertas dan tinta yang super banyak dan juga harus menuliskan jutaan "hahaha" disini. Terlalu banyak tawa bersamanya sampai aku lupa caranya menangis. Tapi tahukah kau? Yang namanya sempurna itu tidak pernah ada.

                Waktu itu hari pembagian raport kelas sepuluh. Nami datang bersama ibunya mengenakan sweater kuning di hari yang terik. Wajahnya pucat.
                "Lo sakit?" tanyaku setelah mencium tangan ibunya. Nami mengangguk lemah.
                "Emang Nami nakal, tadi udah ibu suruh supaya di rumah aja tapi dia maksa datang ke sekolah." ibunya angkat bicara. Aku menatapnya tajam. Nami terkekeh.
Sementara para orangtua berkumpul di kelas dan mengambil raport anaknya, aku dan beberapa temanku termasuk Nami mengobrol di depan kelas. Saat sedang sakit saja Nami bisa mengundang tawa disela pembicaraan kami. Rasanya aku... Tidak ingin berpisah dengannya.
                "Gue mau pindah sekolah." hening seketika. Aku mencari siapa gerangan pemilik kalimat itu. Nami. Semua orang pun menatap ke arahnya.
                "Pindah sekolah apa pindah kelas, Nam? Pindah kelas kali... Yaiyalah pindah kelas nanti kan kita kelas sebelas di lan__"
                "Sekolah. Pindah sekolah."seperti terhantam benda keras, dadaku sesak.
                "Nam..." aku menatapnya dalam. Tidak ada tanda- tanda dia sedang membuat lelucon di wajahnya.
                "Nami udah yuk pulang." sebuah suara memecah keheningan. Nami menoleh dan tersenyum saat mendapati ibunya yang sudah memegang raport dan beberapa berkas yang kutahu itu adalah surat perpindahannya.
                "Udah ya gue pulang." Nami pamer lesung pipinya. "Gak usah pada lesu gitu ish!"
                "Biasa aja kali, Nam... Udah sono lo pulang hus!" timpal Gea salah satu temanku bercanda. Nami terkekeh menanggapinya. Bahkan saat berpisah seperti ini ia tetap bisa tertawa.
                "Jangan sombong lo kalo nanti ketemu gue!" tukasku setelah berjabat tangan dengannya. Nami mengacungkan ibu jarinya. Aku mengulum senyum dan segera mundur satu langkah saat giliran temanku yang lain mengucapkan salam perpisahan.
                Mataku tidak lepas menatap punggung Nami yang semakin mengecil dan akhirnya benar- benar menghilang. Kapan aku bisa bertemu sosok itu lagi? Mendadak aku benci takdir, aku benci saat segala yang aku miliki tidak pernah sempurna menjadi milikku.
                "Lo jangan nangis dong." ucap seorang teman kepadaku saat melihat wajahku sudah basah. Aku saja tidak sadar airmataku sudah sebanyak ini. Aku tersenyum dan mengusap wajah, namun airmata tidak juga berhenti mengalir.
                Kuputuskan untuk pergi ke toilet sekolah. Berkali- kali aku membasuh wajah dengan air, berharap bisa menyamarkan airmata, tapi sia- sia. Aku terlalu sesak. Satu tahun bukan waktu yang singkat bukan untuk mengenal seseorang dan menjadikannya sosok yang berarti dalam hidup? Bagiku satu tahun ke belakang terlalu menawan dengan segala kisah- kisah bersama Nami yang selalu terlontar. Maka saat Nami pergi, ia turut membawa kemanisan kisah itu dan tinggallah di sini aku teronggok kaku seorang diri.
Hai Nami, kapan kita bisa bertemu dan kembali berbagi kisah tentang kehidupan yang kelam ini? Haha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal