Wajah Horor Turisme Bagi Kehidupan Satwa
Rekreasi bersama keluarga atau teman
di akhir pekan merupakan hal yang menyenangkan dan pastinya dapat meluruhkan
rasa penat dari padatnya pekerjaan. Di Jakarta, salah satu tempat yang sering
dijumpai para wisatawan adalah Kebun Binatang Ragunan. Tempat yang terbilang murah dan diminati oleh segala
usia ini selalu menjadi tempat favorit masyarakat Indonesia setiap libur akhir
pekan maupun libur panjang. Berbagai kegiatan dapat dilakukan di tempat
tersebut, seperti piknik, olahraga, wisata rakit, wisata edukasi, dan wahana
lain yang membuat kita lebih dekat dan mengenal satwa. Di samping segala daya
tarik Ragunan dan tempat lain yang menjadikan satwa liar sebagai objek wisata, ternyata
ada beberapa kegiatan manusia yang dapat mengganggu keberlangsungan hidup
satwa liar tersebut.
Dilansir dari penelitian WildCRU (Wildlife Conservation Research Unit), ditemukan 75 %
dari seluruh tempat di seluruh dunia yang menjadikan satwa liar sebagai objek
wisata ternyata memberikan dampak negatif bagi kehidupan satwa-satwa tersebut.
Dalam penelitian ini, tercatat tingkat sepuluh teratas dari 24 kegiatan yang
memberikan dampak negatif di antaranya (1) mengendarai gajah; (2) berfoto
dengan harimau: (3) berfoto dengan ular (4) jalan bersama singa; (5) kunjungan
kandang beruang; (6) memegang penyu laut; (7) atraksi lumba-lumba; (8) atraksi
monyet; (9) tur penanaman kopi oleh musang; (10) peternakan buaya. Sayangnya,
80 % wisatawan tidak dapat melihat dampak negatif ini dan lebih memilih untuk
tetap menikmati perjalanan wisatanya. Sementara, 25 % lainnya memberikan dampak
positif bagi satwa, di antaranya tempat suaka yang tidak melibatkan atraksi dan
kontak langsung dengan satwa.
Ternyata, larangan
untuk tidak memberi makan satwa yang dimandatkan oleh Kebun Binatang Ragunan dan tempat pemeliharaan hewan lain merupakan hal serius. Menurut Orams (2001),
memberi makan satwa liar dapat berdampak pada perubahan pola perilaku alam dan
populasi. Selain itu, hal ini juga membuat satwa terlalu bergantung dan
terhabituasi. Saat makanan terus tersedia dengan mudah di depan satwa, mereka akan cenderung merasa aman dan menurunkan kebiasaan berburu seperti yang
mereka lakukan di alam liar. Satwa pun menjadi lebih agresif dan mengalami penurunan kesehatan. Studi yang dilakukan Aggimarangsee
pada tahun 1993, di Thailand, menemukan bahwa monyet ekor panjang yang diberi makan
oleh manusia secara intensif lebih agresif, kurang sehat, dan kurang aktif
dibanding monyet ekor panjang yang tidak disediakan makanan[1].
Kegiatan berfoto dengan satwa pun
masih terbilang populer di kalangan masyarakat. Berfoto dengan binatang buas,
seperti singa, harimau, atau ular, akan terkesan hebat dan menakjubkan.
Padahal, hal ini pun memberi dampak negatif terhadap satwa-satwa tersebut.
Untuk menekan sifat liar satwa, biasanya mereka dipisahkan dari induknya sejak kecil. Tidak
jarang saat para wisatawan berfoto satwa-satwa ini dalam keadaan dirantai atau
di dalam kandang dengan lantai beton. Di Karimunjawa, salah satu kegiatan yang
banyak diminati para wisatawan adalah berfoto dengan biota laut, seperti penyu,
hiu pari, bintang laut, dan ikan buntal. Biota-biota ini tetap berada di laut
yang dibatasi pagar kayu agar mereka tidak kabur dan berulang kali diangkat
kemudian dikembalikan ke air setiap wisatawan datang dengan membawa uang lima
ribu rupiah untuk setiap tiga jenis biota. Ikan buntal yang terus menerus dipaksa untuk mengembung dapat mengalami stress. Sementara penyu laut, yang notabene
adalah hewan pemalu, saat diangkat oleh para wisatawan akan langsung
mengepakkan tungkainya karena panik. Hal ini dapat menyebabkan patah tulang dan
lepasnya cakar. Penyu yang sedang memberontak kemudian dijatuhkan kembali ke
air dapat mengakibatkan rusaknya cangkang dan luka pada tubuhnya sehingga dapat
menyebabkan kematian.
![]() |
| sumber: worldanimalprotection.org |
Di Indonesia sendiri, sirkus yang
melibatkan atraksi satwa selalu menjadi hal yang menuai kontroversi. Pasalnya,
sempat beredar kabar bahwa satwa-satwa yang dipelihara para pekerja sirkus tidak
mendapat perlakuan yang layak. Satwa-satwa ini dipaksa untuk tetap lapar agar
saat pertunjukan umpan makanan dapat mendorong mereka beratraksi dengan
optimal. Tempat mereka tinggal pun terbilang tak layak karena tidak disesuaikan
dengan lingkungan liar asal mereka. Menurut Harris, dkk (2006), hampir semua
satwa yang dikandangi memiliki ruang gerak, kemampuan untuk bersosialisasi dan
mencari pasangan, juga kemampuan mencari dan memilih makanan yang terbatas.
Berbeda dengan suaka margasatwa yang dapat memanipulasi lingkungan penangkaran
mereka menjadi mirip dengan aslinya, satwa-satwa yang dipekerjakan di sirkus
tidak dapat menerima perlakuan ini. Karena sirkus yang terus menerus melakukan
perjalanan, mereka tidak dapat mempersiapkan ruang yang layak untuk para satwa.
Mereka pun tidak memiliki akomodasi dan ruang latihan yang cukup. Atraksi yang
dilakukan terus menerus pun dapat berdampak pada kesehatan satwa, mulai dari
abnormalitas gigi, masalah ligamen, dan penyakit[2].
Atraksi lumba-lumba misalnya.
Atraksi yang menurut para wisatawan sangat menarik dan lucu ini ternyata tidak
banyak memberikan manfaat bagi lumba-lumba. Seringkali untuk menyeimbangkan
kecepatan lumba-lumba, penangkapan lumba-lumba menggunakan perahu kecepatan
tinggi kemudian hewan ini ditangkap dengan jala. Kebanyakan, mereka akan mati
di perjalanan karena stress setelah perlakuan ini. Mereka dimasukkan ke
akuarium yang kecil sehingga mempersempit ruang gerak dan air yang mengandung
klorin menyebabkan iritasi pada mata dan kulit mereka. Banyak lumba-lumba juga mengidap penyakit yang berhubungan
dengan stres, serangan jantung, dan ulkus lambung
karena perlakuan ini[3].
Pada kasus lain, monyet yang digunakan untuk atraksi menari ternyata dipaksa
untuk dapat berdiri di atas kedua tungkainya. Padahal, perilaku asli mereka
adalah berjalan dengan empat kaki (quadrapedal).
Dalam The Five Freedom, tertulis
lima aspek kebebasan yang harus didapat para satwa saat berada di bawah kontrol
manusia. Pertama, kebebasan dari rasa lapar dan haus. Hal ini dipenuhi dengan
adanya akses air bersih dan makanan untuk menjaga kesehatan dan stamina satwa.
Kedua, kebebasan dari rasa tidak nyaman. Hal ini dipenuhi dengan penyediaan
lingkungan yang layak, termasuk ke dalamnya tempat tinggal dan area istirahat
yang nyaman. Ketiga, kebebasan dari rasa sakit, cedera, dan penyakit. Hal ini
dipenuhi dengan tindakan pencegahan, diagnosis, dan pengobatan yang sigap.
Keempat, kebebasan untuk mengekspresikan sebagian besar perilaku normal. Hal
ini dipenuhi dengan penyediaan ruang yang cukup dan fasilitas yang tepat. Dan
yang terakhir, kebebasan dari rasa takut dan stress. Hal ini dipenuhi dengan
perawatan dan pengobatan untuk menghindari penderitaan mental satwa[4]. Termaktub
dalam pasal 19 ayat 1 UU RI no.5 tahun 1990 bahwa setiap orang dilarang
melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan
suaka alam. Dan, pasal 21 ayat 2a pun memaparkan bahwa setiap orang dilarang
untuk menangkap, melukai, membunuh,
menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang
dilindungi dalam keadaan hidup.
Dari kelima aspek kebebasan tersebut, sudahkah kita memenuhi
hak para satwa yang notabene sudah menghibur kita? Seharusnya, para wisatawan
sudah merasa cukup hanya dengan melihat satwa dari jarak yang sudah dibatasi tanpa perlu memegang atau memberi makan. Jika
ingin berfoto pun tidak perlu menyentuh dan tetap menjaga jarak. Jika ingin
menghasilkan uang, akan lebih baik kalau para satwa tidak perlu dipaksa untuk
melakukan pertunjukan dan diberikan pelayanan yang maksimal. Tingkah laku asli
mereka pun sudah merupakan daya tarik tersendiri yang mereka miliki dan sangat
menarik untuk diperhatikan dan dipelajari. Selain mendapat tujuan rekreasi, hal
ini juga mengandung unsur edukasi sehingga menambah pengetahuan kita tentang
mereka. Menolak dan menutup kegiatan sirkus dan kegiatan yang membahayakan
satwa lain memang salah satu tindakan preventif. Namun, ada baiknya langkah
pertama yang kita lakukan dengan tidak ikut serta dalam wisata yang sifatnya
mengeksploitasi saja. Jika peminat wisata tersebut semakin sedikit, semakin
besar kemungkinan mereka akan berhenti. Manusia saja tidak ingin diperlakukan
semena-mena, para satwa pun memiliki perasaan yang sama.
[1] Orams, Mark B.
(2002) Feeding wildlife as a tourism attraction: a review of issues and
impacts. Tourism Management 23 (2002) 281–293.
[2] Harris, Stephen. Graziella Iossa
& Carl D. Soulsbury. A Review of The Welfare of Wild Animals in Circuses.
[3]
The Humane Society of the United States & World Animal Protection. 2009. The Case against Marine Mammals in
Captivity. http://faada.org
[4]
https://en.wikipedia.org/wiki/Five_freedoms


Komentar
Posting Komentar