Penelitian: Desah Napas Para Penuntut Ilmu
Pernahkan kamu bayangkan jika di dunia
ini tidak ada ilmuwan? Tak akan ada istilah negara maju dan berkembang, bukan?
Semua negara sama, sama bodohnya (eh, maaf). Memang benar, sama bodohnya karena
tak ada lagi penelitian dan pastinya ilmu pengetahuan tak akan berkembang sama
sekali.
Ngomong-ngomong soal penelitian.
Beberapa hari lalu, untuk pertama kalinya, saya ikut andil (walau tidak banyak
hehe) dalam penelitian salah satu dosen saya di kampus. Awalnya, info
penelitian ini saya dapat dari salah seorang teman dan dengan nekat saya
mengajukan diri untuk ikut membantu penelitian tersebut. Ah ya, maksudnya nekat
di sini adalah saya mengajukan diri tanpa tahu detail penelitian dan penelitian
yang memakan waktu dua hari ini bertepatan dengan waktu perkuliahan saya (T.T).
Yang saya tahu awalnya, kami hanya ditugasi untuk survei terumbu karang di
Pulau Tidung. Berhubung saya ikut dalam kelompok studi tentang ekosistem laut
di kampus dan saya paham sedikit tentang terumbu karang, saya ikut penelitian
ini. Alasan lain, perjalanan saya gratis (hehehe).
Saya, bersama seorang teman dan tim
peneliti yang terdiri dari dosen berbagai jurusan di kampus, berangkat ke Pulau
Tidung dari Pelabuhan Marina. Nah, ada yang aneh dari kalimat saya sebelumnya?
Benar! “dosen dari berbagai jurusan”. Ini yang membuat saya terkejut. Saya
ditugasi untuk survei terumbu karang di penelitian yang melibatkan dosen PG PAUD,
dosen seni musik, dosen geografi, dosen PLS, dosen Tata Boga, dan beberapa
jurusan lain. Maksudnya apa, coba?
Kemudian, saya mengetahui detail penelitian ini setelah sampai di Pulau TIdung dan salah satu dosen melakukan pengarahan kepada tim. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan survei dan identifikasi keadaan lingkungan dan sosial untuk selanjutnya dilakukan pengembangan di Pulau Tidung. Tim lingkungan terdiri atas saya, teman saya, dosen saya, dua orang mahasiswa geografi, seorang dosen PG PAUD, dan dosen geografi. Sementara, sisanya berada di tim sosial.
Di daerah terumbu karang, tim lingkungan melakukan identifikasi kerapatan terumbu dan potensinya untuk wisata edukasi bahari. Selanjutnya, kami pun mengidentifikasi pemanfaatan tanaman OKA (Obat, Kosmetik, dan Aromatik) dan penanganan limbah di Pulau Tidung. Hasil dari survei ini kemudian akan dikaitkan dengan hasil dari tim sosial dan mencari benang merahnya untuk dijadikan dasar pengembangan di pulau tersebut.
Saya mendapat banyak pencerahan di perjalanan ini. Ternyata, di Pulau Tdiung yang notabene banyak orang tahu, masih banyak hal yang harus diteliti dan dikembangkan. Dan itu memicu saya untuk lebih banyak mengeksplorasi lingkungan sekitar saya untuk kemudian saya teliti. Ah ya, kalau saja saya tidak ikut kelompok studi ekosistem laut di kampus, mungkin saya akan banyak mengalami kesulitan di penelitian ini. Dan, beberapa mata kuliah, saya bersyukur cukup menyimak di kelas (._.), dapat saya praktekkan. Lagi pula, di mana lagi dapat mempraktekkan teori selain di lapangan? Saya pun banyak tertawa di sepanjang perjalanan. Asal kalian tahu, para dosen, yang notabene staff di lembaga penelitian kampus, ternyata punya sisi “gila”. Gila di sini memiliki arti konotasi dan denotasi. Denotasi yang memang tingkah laku mereka yang cukup menghibur dan konotasi yang artinya pemikiran mereka banyak dipenuhi ide brilian dan kemampuan analisis yang patut diacungi jempol. Benar memang, segala ide brilian berawal dari kegilaan (maafkan saya, Bapak dan Ibu dosen :( ).
Para pembaca yang budiman (asik), mari kita renungkan kembali pertanyaan saya di awal tulisan. Saya tidak salah kan mengatakannya? Ah, ayolah. Kita tak akan hanya menjadi penuntut ilmu yang terus-terusan belajar tanpa melakukan penelitian dan pengembangan, kan? Kalau begitu, ilmu pengetahuan akan benar-benar membusuk dan mati pada akhirnya. Dan, tambahan untuk para penuntut ilmu di bidang SAINTEK. Saya jadi teringat salah satu perkataan dosen ISBD saya. Para peneliti di bidang SAINTEK memiliki dua laboratorium, laboratorium berbentuk ruang tertutup dan laboratorium terbuka, a.k.a masyarakat. Kita tak akan mungkin hanya meneliti dan mengembangkan sesuatu di laboratorium, nan kecil dan mungil itu, tanpa melihat fakta-fakta di masyarakat. Ada saatnya, teori dan sesuatu yang kita uji di laboratorium, akan dibantah oleh fakta di masyarakat, kan?
Jangan sampai melewatkan kesempatan untuk mengasah jiwa peneliti kita yang didapat kapanpun dan di manapun. Walaupun itu artinya harus mengorbankan waktu dan uang kita. Hey, apa yang kita berikan sekarang akan terbayar di masa depan, Kawan! Kalau diibaratkan menuntut ilmu adalah nyawa seseorang, meneliti adalah napas dan detak jantungnya. Saat seseorang memiliki nyawa, tak akan tampak keberadaannya tanpa ada desah napas dan detak jantung. Jadi, selamat berburu ilmu pengetahuan!
![]() |
| Hari pertama, berkunjung ke PBKL (Pusal Budidaya dan Konservasi Laut) |
![]() |
| Berfoto di depan PBKL |
![]() |
| Diskusi Malam |
![]() |
| Diskusi malam dengan beberapa guru dan tokoh masyarakat |
![]() |
| Hunting tanaman OKA |
![]() |
| Hari kedua, Tim Lingkungan (minus Pak Samadi dan Bu Ami) berfoto di dermaga sebelum pulang |






Komentar
Posting Komentar