Dewi Thetis-ku
Menikmati
gelapnya langit malam di atas kotak besi beroda empat. Aku melirik jam tangan
yang melingkar di pergelangan tangan, pukul tiga dini hari. Tadi mobil
berangkat pukul sembilan malam dari Pare, artinya sudah empat jam perjalanan
kulalui. Mataku memandang keluar jendela mobil. Tumbuhan setinggi pinggang
orang dewasa yang entah apa namanya membentang luas tanpa batas di samping
kanan jalan.
“Tanaman apa ini mas?”
tanyaku pada Mas Fajar, satu- satunya orang yang masih terjaga karena ialah
yang duduk di belakang kemudi.
“Tembakau.” jawabnya singkat.
Aku mengangguk- angguk.
Sementara di samping kiri
jalan terhampar Laut Jawa yang aku pun bertanya di mana ujungnya. Puncak layar-
layar perahu nelayan tampak mencuat di beberapa titik laut. Beberapa jam lagi
para nelayan itu akan kembali ke daratan setelah semalaman meraup sumber daya
laut sebagai mata pencaharian mereka. Dari sebuah papan iklan di salah satu
warung di pinggir jalan, aku tahu sekarang mobil sudah berada di Situbondo.
Aku membuka jendela mobil. Sengaja supaya bisa merasakan hembusan angin.
Diam- diam aku menyalahkan kenapa perjalanan ini harus di malam hari.
Pemandangan yang disuguhkan alam di kanan- kiri jalan akan tampak lebih indah
jika dinikmati ketika langit terang. Lewat
kaca spion, kulihat tiga mobil yang masih teman satu perjalanan denganku melaju
di belakang mobil yang kutumpangi. Gian, teman kuliah sekaligus teman satu
kosku di Pare yang duduk di samping pengemudi di mobil belakang melambaikan
tangannya ke arahku. Aku mencibir. Lelaki itu memang selalu norak
di mana pun ia berada.
Sayup- sayup kudengar suara seseorang bersenandung. Lewat kaca kecil di
atas dasboard mobil aku melihat ke kursi belakang. Seorang gadis yang duduk
tepat di belakang pengemudi tampaknya adalah sumber senandung itu. Sebuah
earphone putih melingkar di kepala si gadis yang bersandar di kaca jendela
mobil. Rambutnya yang tergerai melewati bahu menghalangiku
untuk melihat wajahnya. Ternyata ada yang terjaga selain aku dan Mas Fajar.
*
Tepat setelah mobil berhenti, aku keluar dari dalam mobil. Aroma garam
yang terbawa angin menyapa memberi kesegaran. Tampaknya Erebos, Sang Dewa Kegelapan masih
ingin menguasai langit. Aku pun memutuskan kembali ke mobil untuk membayar
tidurku yang tadi malam tak kesampaian. Baru saja aku membuka pintu
mobil, pintu di sisi lain mobil ikut terbuka. Gadis dengan earphone putih
keluar dari dalam mobil. Ia melangkah ringan menuju pesisir pantai. Aku terus
memperhatikannya. Gadis itu melepas sepatunya lalu perlahan menapakkan kakinya
di atas pasir. Kepalanya menengadah ke langit. Beberapa jenak ia sangat
menikmati udara di sekelilingnya. Walau langit masih gelap, bisa kulihat jelas ia
mengulum senyum. Aku menelan ludah. Dari tempatku saat ini, dengan pose si
gadis dan senyumnya yang seanggun ritme ombak laut ia
tampak sangat… menawan. Tidak ingin terlihat sedang
memperhatikannya, aku pun segera masuk ke dalam mobil.
Guncangan di bahuku membuatku
terlepas dari mimpi singkat yang beberapa menit lalu kubangun.
“Ta bangun! Gila lo nyesel nggak liat matahari terbit.”
Aku
bergumam tidak jelas, membuat orang yang membangunkanku semakin brutal
menggoyangkan tubuhku. Aku mendesis kesal.
“Bodo, nggak peduli.” Kuhempaskan tangannya. Orang yang tidak sempat kulihat
wajahnya itu berdecak kesal. Kudengar sayup- sayup langkah kaki yang semakin
menjauh. Sepertinya ia menyerah.
Sinar sang fajar yang menyelinap dari jendela mobil terasa
menusuk mata. Walau masih berat, kupaksa mataku untuk membuka. Masih
mengumpulkan segenap kesadaranku, aku menerka di mana tempatku saat ini. Ah ya,
mobil. Udara panas yang bergumul di sekelilingku membuat tubuhku berkeringat.
Buru- buru aku membuka pintu mobil. Aku tidak ingin terpanggang di dalamnya.
Sebelum keluar aku sempat melirik ke kursi mobil belakang. Saat itulah mataku
tertumbuk pada sosok gadis dengan earphone putih melingkar di kepalanya. Gadis
itu tertidur dengan posisi paling anggun yang pernah aku lihat. Tubuhnya tegak
tersandar di jok mobil, tangannya terlipat di depan dada, kaki kirinya memangku
kaki kanan. Napasnya teratur. Tampaknya gadis itu sama sekali tidak terganggu
dengan udara panas di sekelilingnya. Tanpa kusadari, bibirku membentuk seulas
senyum.
Puas dengan pemandangan barusan, aku segera pergi meninggalkan mobil. Teman-
teman seperjalananku sudah berkumpul di pesisir pantai. Ada yang menikmati es
kelapa muda langsung dari buahnya, sate ayam lengkap dengan lontong. Ada juga
yang sedang berburu foto atau sekedar duduk di atas pasir.
“Puas tidurnya?” sambut Gian saat ia menemukanku sudah
duduk di sampingnya.
“Tadi lo yang bangunin gue?” Gian mengangkat bahu. Tampangnya tampak seperti
anak kecil yang merajuk karena ibunya tidak membelikan coklat untuknya. Aku
terkekeh. Pasti jawabannya ‘iya’.
Sekitar lima belas menit sudah aku duduk, ada yang mengusik pikiranku. Aku
menoleh tepat ke tempat parkir mobil. Apa gadis itu masih di sana? Apakah ia
nyaman dengan tidurnya? Apakah panas tidak mengganggunya? Rasanya aku ingin
kembali ke mobil lalu membangunkan gadis itu. Akan kuajak ia menyusuri pesisir
pantai dan tidak lupa aku tanyakan namanya. Aku terkekeh. Geli sendiri dengan
pikiranku. Buru- buru aku mengalihkan pandanganku ke sisi lain pantai untuk
menghilangkan pikiran konyolku tadi.
“Main sana banyak cewek!” Gian mendorong punggungku. Aku meliriknya tajam.
“Hasta kayaknya nggak tahu cara deketin cewek, Bro!” celetuk seorang lelaki di
samping Gian diikuti gelak tawa dari beberapa orang di sekelilingku. Aku tidak
menggubris candaan mereka. Bentangan laut di hadapanku lebih menarik.
“Makanya jangan belajar mitologi terus.” Gian mencibir. Ia tahu betul betapa
aku tergila- gila dengan mata kuliah Mitologi Yunani. Setiap jam mata kuliah
tersebut aku tidak pernah terlambat masuk kelas apalagi bersusah payah meminta
ijin dosen untuk absen di kelas. Bahkan aku hafal semua nama- nama Dewa Yunani
dan silsilahnya. Zeus, Athena, Poseidon, Afrodit, Hefaistos, dan kawan- kawan.
Kata Gian, kegilaanku dengan Mitologi Yunani melebihi kemampuan Bahasa
Prancisku yang menjadi pokok perkuliahanku.
“Mau gue tunjukin cara deket sama cewek nggak?” Gian
menyikut perutku. Aku diam saja. Mau aku jawab iya atau tidak ia akan tetap
beraksi. Mata Gian menyapu sekitar pesisir pantai. Ia menyeringai saat
menemukan mangsanya, seorang gadis berkulit putih langsat dan bertubuh mungil
yang sedang menyantap sate dengan teman- temannya. Rambutnya menggantung
sedikit di atas bahu dengan ikal di bagian ujungnya. Matanya
mungil dengan bulu mata lentik menjadi tirainya. Namanya Fintan. Dengan
penampilan secantik itu, ia suka dijadikan bahan pembicaraan di antara para
lelaki di tempat lesku.
“Liat nih.” Gian menepuk bahuku. “Fintan!” serunya
sambil melambaikan tangan ke arah gadis itu. Yang dipanggil menoleh. Gian
memberi isyarat kepada Fintan dan teman- temannya untuk menghampirinya. Fintan pun menurut. Ia dan para gadis yang duduk bersamanya menghampiri
tempatku.
“Bagi dong satenya.” Gian siap dengan mulutnya yang
menganga. Fintan mencibir tapi ia tetap menyodorkan satu tusuk sate ke mulut
Gian.
“Kalau ini siapa namanya?” seorang lelaki lain—menurut yang kudengar namanya
Bowo– menunjuk salah satu teman Fintan. Maklum, tidak semua teman satu perjalananku saling mengenal satu
sama lain.
“Mau tahu banget deh.” mereka tergelak. Aku memutar bola mata. Sepertinya tidak
ada yang lucu dengan perbincangan mereka. Baru saja aku akan meninggalkan
tempat itu, Gian menarik tanganku.
“Keren kan.” Gian mengangkat sebelah alisnya.
“Biasa aja.” aku berusaha untuk menjauhi Gian tapi lagi- lagi
ia menarik tanganku.
“Sekarang yang ini!” ia menunjuk seorang gadis yang baru saja memasuki pesisir
pantai. Aku memicingkan mata. Itu gadis ber-earphone putih yang duduk di
belakang kursi pengemudi. Kali ini earphone putih tidak lagi melingkar di
kepalanya membuatku sulit untuk mengenalinya. Gadis itu melangkah mendekati
bibir pantai. Ujung cardigan putihnya berkibar diterpa angin. Tidak
dihiraukannya ujung celana panjang yang menutupi kakinya sampai mata kaki basah
karena tercumbu air laut. Ia menikmati setiap hentakan air laut di kakinya.
“Siapa namanya?” Gian menoleh ke arahku. Aku mengedikkan bahu.
“Dek! Dek jangan ke sana!” seru Gian. Gadis itu tidak menoleh.
“Baju putih!” seru Gian lagi. Kali ini gadis itu memutar tubuhnya sampai
menghadap Gian. Matanya menatap Gian bingung.
“Jangan ke sana.” wajah Gian berubah serius. “Jangan bunuh diri!” gadis itu
mengerjap beberapa kali. Ia menoleh ke belakang beberapa jenak lalu menatap
Gian lagi. Dahiku mengerut, bingung dengan tingkah gadis itu.
“Ngomong sama aku?” tanyanya polos. Detik setelahnya aku langsung terbahak. Aku
benar- benar mengeluarkan seluruh tawa sampai mataku berair. Gian mendengus
kesal. Lelaki norak itu pun pergi meninggalkanku. Tidak ingin terlihat gila
karena tertawa sendiri, aku pun menghentikan tawaku. Pandanganku kembali
menumbuk tempat gadis itu tadi berdiri. Kukira ia masih di sana, ternyata
tidak. Kepalaku menoleh ke sana- ke mari mencari sosoknya.
Gadis itu sedang berjalan sendirian ke sisi lain pesisir pantai. Aku segera
berlari mengekor di belakangnya.
“Tira!” seruan itu
menghentikan langkah gadis itu. Tidak bisa menahan langkahku, aku tersentak dan
menubruknya. Kami berdua jatuh terjerembab ke atas pasir. Beberapa saat
gadis itu menatapku tanpa ekspresi yang tidak dapat kutangkap sebelum
akhirnya ia berdiri.
“Maaf.” ucapnya singkat lalu
berlari meninggalkanku. Aku bergeming di tempatku, masih dalam posisi saat tadi
terjatuh. Aku pun segera bangkit setelah kesadaranku sudah kembali seutuhnya.
Lagi- lagi mataku kembali mencari sosok gadis itu seakan- akan tidak melihatnya
satu detik saja ia akan buta.
“Ta, sini! Mau naik perahu
nih woi!” seru Gian dari kejauhan. Kulihat teman- temanku sudah berkumpul di
bibir pantai. Sementara tiga orang pria paruh baya sedang menyiapkan tiga buah
perahu layar yang akan kami gunakan. Tidak ingin ketinggalan, buru- buru aku
berlari menghampiri mereka.
Perahu layar melaju
meninggalkan bibir pantai dengan bantuan angin utara yang dihembuskan Boreas.
Seorang gadis yang duduk di ujung perahu yang kunaiki berhasil menyita
pandanganku untuk yang ke sekian kalinya. Kaki gadis itu terjulur ke dalam air.
Rambutnya yang digerai menari- nari bercengkrama dengan angin laut. Saat itulah
aku berhasil melihat wajahnya yang sempurna. Dengan jarak paling dekat dari
sebelumnya. Tanpa sesuatu pun yang menghalangi pandanganku. Kulit wajahnya
putih langsat. Matanya seperti sepasang sayap burung yang terbentang, tajam di
bagian ujungnya. Bola matanya hitam pekat seakan di sanalah semua hidupnya
bermula. Bibirnya menyeringai penuh kebahagiaan tanpa beban. Dagunya yang
mencuat kokoh menjadi titik temu antara dua garis pipinya. Aku tersenyum
melihatnya.
Saat teman- teman satu perahuku menikmati bentangan Laut Jawa dan terumbu
karang, aku menikmati pesona gadis itu. Thetis. Sosok yang langsung
terbayang di benakku saat melihatnya. Nama dari seorang Dewi Laut
dalam Mitologi Yunani. Dewi cantik dan tangguh yang menjadi pujaan Zeus dan
Poseidon. Gadis itu, Dewi Thetis-ku.
Perahu menepi ke bibir pantai. Aku langsung melompat turun dan menyusul
gadis itu yang sudah lebih dulu pergi. Gerakannya cepat sekali.
“Tira! Kamu jalan sendiri
terus, ayo kita makan.” ujar seorang gadis yang baru datang ke hadapannya. Gadis itu menoleh. Aku yang
berdiri tidak jauh dari tempatnya memperhatikan.
Tira…
Namanya Tira.
“Duluan aja, aku nggak lapar.
Mau jalan- jalan.” kata- katanya singkat. Cukup
mengerti dengan ucapan gadis itu, gadis yang baru datang tadi segera pergi.
Tira meneruskan langkahnya menyusuri pesisir pantai. Sementara aku mengikutinya
dari jarak yang tidak terlalu dekat juga tidak terlalu jauh. Takut insiden
seperti tadi terjadi lagi. Tira menginjakkan kakinya di atas jembatan kayu
besar yang melintang dari bibir pantai sampai sekitar sepuluh meter ke laut. Ia
berhenti di ujung jembatan. Lalu ia memejamkan matanya. Dalam-
dalam ia menghirup aroma asin garam yang terbawa angin. Lima langkah dari
tempatnya berdiri, aku terus memperhatikannya. Di luar kendaliku, kakiku
melangkah mendekatinya. Mataku ingin melihatnya lebih dekat, lebih jelas, ia
ingin menikmati setiap detail yang gadis itu miliki.
Saat gadis itu membuka matanya, tidak hanya ia yang terkejut, aku pun
bingung mengapa aku sudah berdiri sedekat ini darinya. Tatapannya yang
menyelidikku membuatku salah tingkah.
“Kenapa?” bibirnya berucap. Aku menggigit bibir.
Kenapa?
Aku juga tidak tahu kenapa.
“Kamu nggak kenal saya?” Ya Tuhan, aku merasa orang paling bodoh saat ini.
Tira
mengerjap. Kemudian ia menggeleng. Melihat kepolosannya membuatku tertawa. Ia
semakin bingung. Buru- buru aku menghentikan tawaku, takut membuatnya
tersinggung.
“Saya Hasta.” aku mengulurkan tanganku kehadapannya. Rombongan Mister Haris juga. Kita satu mobil loh, saya duduk di bangku depan.” Tira menjabat
tanganku ragu. Tidak salah memang ia kebingungan seperti itu. Siapapun juga
akan merasakan hal yang sama saat tiba- tiba seseorang yang tidak dikenal
menghampiri bahkan sampai memperkenalkan diri.
“Kamu nggak main sama anak- anak lain?” aku berusaha membuka percakapan.
Gadis
itu menggeleng.
“Kamu suka laut ya?” tanyaku lagi, belum menyerah. Ia tidak menjawab. Baiklah,
sekarang aku menyerah berbicara dengannya. Sepertinya gadis itu tidak suka
orang asing.
Sementara Tira menikmati pemandangan di hadapannya, aku hanya diam. Walau gadis
itu sama sekali tidak tertarik untuk berbicara denganku, mataku tetap tidak mau
lepas darinya. Ia benar- benar mencandu. Dasar gila!
“Kamu sendiri kenapa nggak main sama yang lain?” Tira berucap. Aku cukup
terkejut saat mendengar gadis itu berbicara. Butuh beberapa detik untukku yakin
kalau itu adalah suaranya.
“Enak di sini.”
Karena bersamamu… bisik suara dari dasar hatiku. Tidak hanya mataku, hatiku pun sudah gila.
Setengah lingkaran raksasa di bagian barat langit perlahan turun
ke peraduan. Sinar jingganya yang menyiram gelombang air laut semakin lama
mengurai dan tergantikan dengan sinar rembulan. Berdiri bersisian dengan
Thetis-ku walau tanpa sepatah kata pun, rasanya sudah sangat indah. Aura yang
melingkupinya, aku menikmatinya. Tiba- tiba aku terinat sesuatu. Sekarang aku
sedang berada di pantai dan petang sudah mulai melingkupi langit. Buru- buru
aku memutar tubuhku sammpai menghadap bibir pantai. Benar dugaanku. Air laut
sudah menutupi sebagian besarnya. Pasang laut.
“Sepertinya kita harus kembali.” ucapku hati- hati, takut mengusik kedamaian
gadis di sampingku. Ia menoleh. Dengan daguku, kutunjukkan padanya air laut
yang pasang. Kukira ia akan menerima ajakanku tapi ia hanya bergeming di
tempatnya.
“Ayo balik. Mau tidak mau kita harus berenang.” aku memberanikan diri untuk
menggenggam tangannya. Dengan lembut aku menariknya ke ujung jembatan. Tira
menurut saja. Perlahan aku menceburkan diri ke bibir pantai yang tertutupi air
laut. Kemudian aku meraih jemarinya untuk membantunya turun. Aku tersentak saat
merasakan tangannya sudah sedingin es. Jemarinya bergetar. Kulirik wajahnya,
pucat.
“Kamu nggak papa?” Tira tidak menjawab. Aku segera kembali ke atas jembatan.
“Kamu kenapa?” tanyaku lagi. Tiba- tiba tubuh Tira goyah. Kalau aku tidak cepat
menangkap tubuhnya, mungkin gadis itu sudah tercebur ke dalam air. Aku mulai
panik. Kugenggam kedua bahunya yang kaku dan menuntunnya untuk duduk. Kusentuh
kedua pipi Tira untuk mengangkat kepalanya sampai menatapku. Pipinya dingin.
Saat kulihat kedua bola matanya yang menatapku kosong, aku menyadari ada yang
salah dengan Thetis-ku.
Aku langsung menarik tubuhnya ke dalam rengkuhanku.
“Katakan sesuatu, supaya saya
bisa membantu kamu.” bisikku di telinganya. Jemarinya meremas kaus yang
kukenakan. Bahunya berguncang. Kudengar ia terisak. Aku semakin tidak berdaya,
bingung apa yang harus kulakukan.
Sementara hari sudah semakin gelap. Perlahan kurasakan tubuh Tira yang kaku
mulai mengendur. Kuangkat kepalanya lembut sampai menghadapku.
“Maaf.” ucapnya lirih. Tira menarik tubuhnya dari rengkuhanku. Kedua tangannya
memeluk lututnya yang tertekuk di depan dada. Rambut sebahunya tergerai acak-
acakan menutupi sebagian wajah. Ia benar- benar tampak kacau.
“Kamu... kenapa?”
“Aku takut laut.” tak
kutemukan lagi binar di bola matanya. “Kelemahan terbesarku adalah laut.”
Aku tidak mengerti ucapannya.
Dewi Thetis-ku takut laut? Bagaimana bisa? Ia Dewi Laut yang menawan. Apa laut
memberinya kesan buruk sampai ia trauma?
“Tapi selama ini saya melihat
kamu sangat menikmati laut.”
Tira tertawa satire. “Lebih
tepatnya berusaha menikmati.” Pandangannya menerawang.
“Nggak semua yang tampak itu
rupa asli kan?” tanyanya retoris. Kutemukan sendu di kedua matanya.
“Saya akan mendengarkan kalau
kamu ingin mengatakannya.” ia langsung menoleh ke arahku. Matanya menatapku
penuh selidik.
“Kamu ingat 2004 lalu
tepat empat hari sebelum penghujung tahun? Waktu itu aku sedang berlibur
bersama kedua orangtua dan seorang kakak perempuanku di pesisir pantai Ulee
Lheue.” Tira menghembuskan napas berat. “Semuanya terjadi begitu cepat. Gempa
bumi, tsunami. Aku melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri bagaimana
gelombang laut menggulung keluargaku.
Aku terpisah. Jasad mereka
tidak ditemukan. Katanya mereka meninggal.” kulihat matanya mulai berkaca- kaca.
“Kamu nggak harus
melanjutkannya.”
“Aku selalu bertanya- tanya.”
selanya. “Kenapa harus aku yang tersisa sendiri? Kenapa Tuhan tidak membawaku
bersama mereka? Nyatanya lebih baik mati dari pada hidup sendiri tanpa mereka.”
dadanya naik turun. Garis- garis air mata mengalir di pipinya. Kurasa rentetan
kalimatnya itu sudah lama terkubur di dalam dada. Dan saat ia mengatakannya,
semuanya meledak.
Aku terdiam. Mungkin ia
berusaha untuk mengusir ketakutannya dengan mencoba mendekati laut. Tapi ternyata
usahanya kurang berhasil. Satu hari sangat tidak cukup
untuk mengetahui segala hal tentang Dewi Thetis-ku itu.
*
Aku mengayuh sepedaku
menyusuri Jalan Brawijaya menuju tempat kursusku di Jalan Kemuning. Pare siang
ini seperti neraka, panasnya benar- benar membakar kulit. Sebenarnya siang-
siang begini saat yang tepat untuk berlindung di bawah atap kamar kos sambil
bercumbu dengan kasur. Tapi apa daya, aku kebagian jadwal kelas sekarang.
“Tira!” baru saja aku
memarkirkan sepeda, telingaku menangkap seruan itu.
Tira? Nama itu...
Aku segera mencari sumber
suara barusan, berharap menemukan sosok yang namanya disebut tadi. Satu persatu
kutelusuri wajah setiap orang di sana seperti orang frustasi. Tapi nihil. Sudah
satu minggu sejak pertemuanku dengan Tira dan au tidak bertemu sosoknya lagi.
Padahal setelah kembali ke Pare, aku langsung mencarinya. Kutanyakan kesetiap
orang. Aku menghela napas panjang. Ada yang menusuk di ulu hatiku.
“Yang namanya Tira itu
banyak, Ta.” komentar Gian saat sorenya aku kembali ke kosan dan menceritakan
kejadian tadi siang.
“Tapi kan cuman di Pare,
pasti itu dia.” aku bersikeras.
“Yaudah berarti itu dia.”
Aku tertegun. Pikiranku campur aduk. Seharusnya aku senang Thetis-ku
masih di sini. Tapi ribuan pertanyaan mengawang di pikiranku.
Lalu
kenapa kalau Tira masih di sini?
Apakah
aku harus bertemu dengan gadis itu? Tapi apa yang akan aku lakukan kalau aku bertemu dengannya? Apa aku harus mengatakan
kalau aku menyukainya?
Aku
tertawa sendiri mendengar suara- suara dalam
pikiranku. Bahkan aku sendiri masih bimbang apakah
yang aku rasakan selama ini adalah cinta.
“Gi, gue bingung. Gue harus apa?”
Gian
yang sedang sibuk dengan ponselnya melirikku sekilas. Mungkin dia kesal juga
dengan tingkah bodohku ini.
“Lo kuliah nggak serius, Ta? Bahasa Prancis
itu romantis. Tapi buat ngerti apa yang
lo rasa aja susah banget.”
“Yang romantis itu kan bahasanya, bukan orangnya.”
“Setidaknya lo laki- laki dan harusnya lo ngerti gimana cara memutuskan apa
yang lo rasa.”
Aku
bergeming. Memutuskan perasaanku? Mari kita cari tahu apa yang sedang kurasa.
Aku senang berada di dekat Tira. Aku ingin mengikis kemisteriusannya. Segala
hal tentangnya adalah harta karun bagiku. Dan aku ingin… memilikinya.
Gian menepuk pahaku. Aku menoleh. Ia menatapku tajam.
“You got crush on her? Go get her.” tak pernah aku melihat wajah Gian seserius
itu. Butuh beberapa saat untukku mengolah ucapan Gian. Sekararang aku mengerti.
Je suis tombé en amour.
*
“Nanti gue nyusul!”
Malam ini tepat malam pergantian tahun. Mister Haris mengajak semua anak
didiknya berkumpul di Cafe Bambu Town untuk merayakan malam tahun baru. Aku
yang baru selesai kelas –entah apa yang dipikirkan tutor kelasku untuk tetap
masuk kelas di malam tahun baru – membiarkan Gian berangkat lebih dulu
sementara aku bersiap- siap. Sepanjang perjalanan menuju Bambu Town, aku
berharap satu hal untuk tahun baruku kali ini. Kuharap aku bertemu Tira. Ya,
aku benar- benar berharap.
Aku melangkah memasuki cafe dengan nuansa remang- remang itu. Bambu- bambu
menjadi tiang setiap bangunannya. Alunan lagu barat –karena ini adalah Kampung
Inggris –mengiringi perbincangan setiap orang di sana. Seorang gadis dengan
earphone putih melingkar di kepalanya yang juga baru masuk ke dalam cafe
berjalan melewatiku.
Earphone putih?
“Tira.” bibirku melontarkan satu nama dengan lembut. Gadis itu menghentikan
langkahnya lalu berbalik.
Mataku membelalak. Benar, itu
Tira. Dewi Thetis-ku. Yang setiap gerakannya seanggun ritme gelombang ombak
laut. Yang senyumnya sesegar aroma asin garam laut. Yang suaranya seindah
bisikan angin laut.
Untuk beberapa saat kami
saling bersitatap.
I knew I loved you before I
met you
I have been waiting all my
life
Baiklah, siapa orang yang
iseng memutar suara Savage Garden yang menyanyikan I knew i loved you. Masa
bodoh, yang terpenting sekarang adalah gadis yang berdiri lima langkah di
hadapanku.
There's just no rhyme or
reason
only this sense of completion
and in your eyes
Kata orang, Kampung Inggris
adalah kota mimpi. Saat satu sama lain dari berbagai belahan pulau di Indonesia
saling bertemu, itu adalah satu- satunya kesempatan. Karena setelah mereka
kembali ke asal masing- masing, takkan ada pertemuan kedua. Pasangan yang
menemukan cintanya di sini, tidak banyak yang bertahan sampai keduanya pergi
dari Pare. Karena rasa cinta itu semu, sekedar mimpi pelengkap tidur.
Tapi tidak denganku. Aku
bertemu Dewi Thetis-ku di sini. Dan sampai nanti, sampai aku kembali ke rumah,
bahkan sampai aku mati aku akan tetap mencintainya. Tidak butuh alasan untuk
mencintainya. Maka tak ada alasan juga untukku melepasnya, membiarkan ia pergi
lagi.
A thousand angels dance
around you
I am complete now that I
found you
Dengan langkah perlahan aku
mendekatinya. Tak sedetik pun mataku rela melepas bayangnya. Sudah kubilang ia
mencandu. Bukan, bukan hanya mataku. Tapi segenap jiwaku pun mencandu Dewi Laut
di hadapanku itu.
Kubawa bahunya ke dalam
rengkuhanku. Tira tidak menolak. Tanganku mengusap rambutnya lembut. Rambut
yang selalu menghalangiku saat melihat wajahnya. Kuguyur Dewi Thetis-ku dengan
jutaan kerinduan selama satu minggu ini.
"Je t'aime."
Bisikku. Aku tak berharap Tira megerti apa yang kuucapkan. Cukup untuk saat ini
hanya sekedar membisikkan kata itu rasanya napasku kembali seutuhnya.
Suara ledakan kembang api di
langit seirama dengan detak jantungku. Warna- warninya memayungi kami. Aku dan
Dewi Thetis-ku. Terima kasih Afrodit,
sudah mempertemukan kami.
Footnote:
Erebos: Dewa Kegelapan
dalam Mitologi Yunani
Boreas: Dewa Angin Utara
dalam Mitologi Yunani
Je suis tombé en amour: Aku
telah jatuh cinta
Afrodit: Dewi Cinta dalam
Mitologi Yunani
Komentar
Posting Komentar