Dewi Thetis-ku

Menikmati gelapnya langit malam di atas kotak besi beroda empat. Aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, pukul tiga dini hari. Tadi mobil berangkat pukul sembilan malam dari Pare, artinya sudah empat jam perjalanan kulalui. Mataku memandang keluar jendela mobil. Tumbuhan setinggi pinggang orang dewasa yang entah apa namanya membentang luas tanpa batas di samping kanan jalan.
“Tanaman apa ini mas?” tanyaku pada Mas Fajar, satu- satunya orang yang masih terjaga karena ialah yang duduk di belakang kemudi.
“Tembakau.” jawabnya singkat. Aku mengangguk- angguk.
Sementara di samping kiri jalan terhampar Laut Jawa yang aku pun bertanya di mana ujungnya. Puncak layar- layar perahu nelayan tampak mencuat di beberapa titik laut. Beberapa jam lagi para nelayan itu akan kembali ke daratan setelah semalaman meraup sumber daya laut sebagai mata pencaharian mereka. Dari sebuah papan iklan di salah satu warung di pinggir jalan, aku tahu sekarang mobil sudah berada di Situbondo.
Aku membuka jendela mobil. Sengaja supaya bisa merasakan hembusan angin. Diam- diam aku menyalahkan kenapa perjalanan ini harus di malam hari. Pemandangan yang disuguhkan alam di kanan- kiri jalan akan tampak lebih indah jika dinikmati ketika langit terang. Lewat kaca spion, kulihat tiga mobil yang masih teman satu perjalanan denganku melaju di belakang mobil yang kutumpangi. Gian, teman kuliah sekaligus teman satu kosku di Pare yang duduk di samping pengemudi di mobil belakang melambaikan tangannya ke arahku. Aku mencibir. Lelaki itu memang selalu norak di mana pun ia berada.
Sayup- sayup kudengar suara seseorang bersenandung. Lewat kaca kecil di atas dasboard mobil aku melihat ke kursi belakang. Seorang gadis yang duduk tepat di belakang pengemudi tampaknya adalah sumber senandung itu. Sebuah earphone putih melingkar di kepala si gadis yang bersandar di kaca jendela mobil. Rambutnya yang tergerai melewati bahu menghalangiku untuk melihat wajahnya. Ternyata ada yang terjaga selain aku dan Mas Fajar.
*
Tepat setelah mobil berhenti, aku keluar dari dalam mobil. Aroma garam yang terbawa angin menyapa memberi kesegaran. Tampaknya Erebos, Sang Dewa Kegelapan masih ingin menguasai langit. Aku pun memutuskan kembali ke mobil untuk membayar tidurku yang tadi malam tak kesampaian. Baru saja aku membuka pintu mobil, pintu di sisi lain mobil ikut terbuka. Gadis dengan earphone putih keluar dari dalam mobil. Ia melangkah ringan menuju pesisir pantai. Aku terus memperhatikannya. Gadis itu melepas sepatunya lalu perlahan menapakkan kakinya di atas pasir. Kepalanya menengadah ke langit. Beberapa jenak ia sangat menikmati udara di sekelilingnya. Walau langit masih gelap, bisa kulihat jelas ia mengulum senyum. Aku menelan ludah. Dari tempatku saat ini, dengan pose si gadis dan senyumnya yang seanggun ritme ombak laut ia tampak sangat… menawan. Tidak ingin terlihat sedang memperhatikannya, aku pun segera masuk ke dalam mobil.
Guncangan di bahuku membuatku terlepas dari mimpi singkat yang beberapa menit lalu kubangun.
“Ta bangun! Gila lo nyesel nggak liat matahari terbit.”
Aku bergumam tidak jelas, membuat orang yang membangunkanku semakin brutal menggoyangkan tubuhku. Aku mendesis kesal.
            “Bodo, nggak peduli.” Kuhempaskan tangannya. Orang yang tidak sempat kulihat wajahnya itu berdecak kesal. Kudengar sayup- sayup langkah kaki yang semakin menjauh. Sepertinya ia menyerah.
            Sinar sang fajar yang menyelinap dari jendela mobil terasa menusuk mata. Walau masih berat, kupaksa mataku untuk membuka. Masih mengumpulkan segenap kesadaranku, aku menerka di mana tempatku saat ini. Ah ya, mobil. Udara panas yang bergumul di sekelilingku membuat tubuhku berkeringat. Buru- buru aku membuka pintu mobil. Aku tidak ingin terpanggang di dalamnya. Sebelum keluar aku sempat melirik ke kursi mobil belakang. Saat itulah mataku tertumbuk pada sosok gadis dengan earphone putih melingkar di kepalanya. Gadis itu tertidur dengan posisi paling anggun yang pernah aku lihat. Tubuhnya tegak tersandar di jok mobil, tangannya terlipat di depan dada, kaki kirinya memangku kaki kanan. Napasnya teratur. Tampaknya gadis itu sama sekali tidak terganggu dengan udara panas di sekelilingnya. Tanpa kusadari, bibirku membentuk seulas senyum.
            Puas dengan pemandangan barusan, aku segera pergi meninggalkan mobil. Teman- teman seperjalananku sudah berkumpul di pesisir pantai. Ada yang menikmati es kelapa muda langsung dari buahnya, sate ayam lengkap dengan lontong. Ada juga yang sedang berburu foto atau sekedar duduk di atas pasir.
            “Puas tidurnya?” sambut Gian saat ia menemukanku sudah duduk di sampingnya.
            “Tadi lo yang bangunin gue?” Gian mengangkat bahu. Tampangnya tampak seperti anak kecil yang merajuk karena ibunya tidak membelikan coklat untuknya. Aku terkekeh. Pasti jawabannya ‘iya’.
            Sekitar lima belas menit sudah aku duduk, ada yang mengusik pikiranku. Aku menoleh tepat ke tempat parkir mobil. Apa gadis itu masih di sana? Apakah ia nyaman dengan tidurnya? Apakah panas tidak mengganggunya? Rasanya aku ingin kembali ke mobil lalu membangunkan gadis itu. Akan kuajak ia menyusuri pesisir pantai dan tidak lupa aku tanyakan namanya. Aku terkekeh. Geli sendiri dengan pikiranku. Buru- buru aku mengalihkan pandanganku ke sisi lain pantai untuk menghilangkan pikiran konyolku tadi.
            “Main sana banyak cewek!” Gian mendorong punggungku. Aku meliriknya tajam.
            “Hasta kayaknya nggak tahu cara deketin cewek, Bro!” celetuk seorang lelaki di samping Gian diikuti gelak tawa dari beberapa orang di sekelilingku. Aku tidak menggubris candaan mereka. Bentangan laut di hadapanku lebih menarik.
            “Makanya jangan belajar mitologi terus.” Gian mencibir. Ia tahu betul betapa aku tergila- gila dengan mata kuliah Mitologi Yunani. Setiap jam mata kuliah tersebut aku tidak pernah terlambat masuk kelas apalagi bersusah payah meminta ijin dosen untuk absen di kelas. Bahkan aku hafal semua nama- nama Dewa Yunani dan silsilahnya. Zeus, Athena, Poseidon, Afrodit, Hefaistos, dan kawan- kawan. Kata Gian, kegilaanku dengan Mitologi Yunani melebihi kemampuan Bahasa Prancisku yang menjadi pokok perkuliahanku.
“Mau gue tunjukin cara deket sama cewek nggak?” Gian menyikut perutku. Aku diam saja. Mau aku jawab iya atau tidak ia akan tetap beraksi. Mata Gian menyapu sekitar pesisir pantai. Ia menyeringai saat menemukan mangsanya, seorang gadis berkulit putih langsat dan bertubuh mungil yang sedang menyantap sate dengan teman- temannya. Rambutnya menggantung sedikit di atas bahu dengan ikal di bagian ujungnya. Matanya mungil dengan bulu mata lentik menjadi tirainya. Namanya Fintan. Dengan penampilan secantik itu, ia suka dijadikan bahan pembicaraan di antara para lelaki di tempat lesku.
            “Liat nih.” Gian menepuk bahuku. “Fintan!” serunya sambil melambaikan tangan ke arah gadis itu. Yang dipanggil menoleh. Gian memberi isyarat kepada Fintan dan teman- temannya untuk menghampirinya. Fintan pun menurut. Ia dan para gadis yang duduk bersamanya menghampiri tempatku.
            “Bagi dong satenya.” Gian siap dengan mulutnya yang menganga. Fintan mencibir tapi ia tetap menyodorkan satu tusuk sate ke mulut Gian.
            “Kalau ini siapa namanya?” seorang lelaki lain—menurut yang kudengar namanya Bowo– menunjuk salah satu teman Fintan. Maklum, tidak semua teman satu perjalananku saling mengenal satu sama lain.
            “Mau tahu banget deh.” mereka tergelak. Aku memutar bola mata. Sepertinya tidak ada yang lucu dengan perbincangan mereka. Baru saja aku akan meninggalkan tempat itu, Gian menarik tanganku.
            “Keren kan.” Gian mengangkat sebelah alisnya.
            “Biasa aja.” aku berusaha untuk menjauhi Gian tapi lagi- lagi ia menarik tanganku.
            “Sekarang yang ini!” ia menunjuk seorang gadis yang baru saja memasuki pesisir pantai. Aku memicingkan mata. Itu gadis ber-earphone putih yang duduk di belakang kursi pengemudi. Kali ini earphone putih tidak lagi melingkar di kepalanya membuatku sulit untuk mengenalinya. Gadis itu melangkah mendekati bibir pantai. Ujung cardigan putihnya berkibar diterpa angin. Tidak dihiraukannya ujung celana panjang yang menutupi kakinya sampai mata kaki basah karena tercumbu air laut. Ia menikmati setiap hentakan air laut di kakinya.
            “Siapa namanya?” Gian menoleh ke arahku. Aku mengedikkan bahu.
            “Dek! Dek jangan ke sana!” seru Gian. Gadis itu tidak menoleh.
            “Baju putih!” seru Gian lagi. Kali ini gadis itu memutar tubuhnya sampai menghadap Gian. Matanya menatap Gian bingung.
            “Jangan ke sana.” wajah Gian berubah serius. “Jangan bunuh diri!” gadis itu mengerjap beberapa kali. Ia menoleh ke belakang beberapa jenak lalu menatap Gian lagi. Dahiku mengerut, bingung dengan tingkah gadis itu.
            “Ngomong sama aku?” tanyanya polos. Detik setelahnya aku langsung terbahak. Aku benar- benar mengeluarkan seluruh tawa sampai mataku berair. Gian mendengus kesal. Lelaki norak itu pun pergi meninggalkanku. Tidak ingin terlihat gila karena tertawa sendiri, aku pun menghentikan tawaku. Pandanganku kembali menumbuk tempat gadis itu tadi berdiri. Kukira ia masih di sana, ternyata tidak. Kepalaku menoleh ke sana- ke mari mencari sosoknya.
            Gadis itu sedang berjalan sendirian ke sisi lain pesisir pantai. Aku segera berlari mengekor di belakangnya.
“Tira!” seruan itu menghentikan langkah gadis itu. Tidak bisa menahan langkahku, aku tersentak dan menubruknya. Kami berdua jatuh terjerembab ke atas pasir. Beberapa saat  gadis itu menatapku tanpa ekspresi yang tidak dapat kutangkap sebelum akhirnya ia berdiri.
“Maaf.” ucapnya singkat lalu berlari meninggalkanku. Aku bergeming di tempatku, masih dalam posisi saat tadi terjatuh. Aku pun segera bangkit setelah kesadaranku sudah kembali seutuhnya. Lagi- lagi mataku kembali mencari sosok gadis itu seakan- akan tidak melihatnya satu detik saja ia akan buta.
“Ta, sini! Mau naik perahu nih woi!” seru Gian dari kejauhan. Kulihat teman- temanku sudah berkumpul di bibir pantai. Sementara tiga orang pria paruh baya sedang menyiapkan tiga buah perahu layar yang akan kami gunakan. Tidak ingin ketinggalan, buru- buru aku berlari menghampiri mereka.
Perahu layar melaju meninggalkan bibir pantai dengan bantuan angin utara yang dihembuskan Boreas. Seorang gadis yang duduk di ujung perahu yang kunaiki berhasil menyita pandanganku untuk yang ke sekian kalinya. Kaki gadis itu terjulur ke dalam air. Rambutnya yang digerai menari- nari bercengkrama dengan angin laut. Saat itulah aku berhasil melihat wajahnya yang sempurna. Dengan jarak paling dekat dari sebelumnya. Tanpa sesuatu pun yang menghalangi pandanganku. Kulit wajahnya putih langsat. Matanya seperti sepasang sayap burung yang terbentang, tajam di bagian ujungnya. Bola matanya hitam pekat seakan di sanalah semua hidupnya bermula. Bibirnya menyeringai penuh kebahagiaan tanpa beban. Dagunya yang mencuat kokoh menjadi titik temu antara dua garis pipinya. Aku tersenyum melihatnya.
Saat teman- teman satu perahuku menikmati bentangan Laut Jawa dan terumbu karang, aku menikmati pesona gadis itu. Thetis. Sosok yang langsung terbayang di benakku saat melihatnya. Nama dari seorang Dewi Laut dalam Mitologi Yunani. Dewi cantik dan tangguh yang menjadi pujaan Zeus dan Poseidon. Gadis itu, Dewi Thetis-ku.
Perahu menepi ke bibir pantai. Aku langsung melompat turun dan menyusul gadis itu yang sudah lebih dulu pergi. Gerakannya cepat sekali.
“Tira! Kamu jalan sendiri terus, ayo kita makan.” ujar seorang gadis yang baru datang ke hadapannya. Gadis itu menoleh. Aku yang berdiri tidak jauh dari tempatnya memperhatikan.
Tira… Namanya Tira.
“Duluan aja, aku nggak lapar. Mau jalan- jalan.” kata- katanya singkat. Cukup mengerti dengan ucapan gadis itu, gadis yang baru datang tadi segera pergi.
            Tira meneruskan langkahnya menyusuri pesisir pantai. Sementara aku mengikutinya dari jarak yang tidak terlalu dekat juga tidak terlalu jauh. Takut insiden seperti tadi terjadi lagi. Tira menginjakkan kakinya di atas jembatan kayu besar yang melintang dari bibir pantai sampai sekitar sepuluh meter ke laut. Ia berhenti di ujung jembatan. Lalu ia memejamkan matanya. Dalam- dalam ia menghirup aroma asin garam yang terbawa angin. Lima langkah dari tempatnya berdiri, aku terus memperhatikannya. Di luar kendaliku, kakiku melangkah mendekatinya. Mataku ingin melihatnya lebih dekat, lebih jelas, ia ingin menikmati setiap detail yang gadis itu miliki.
            Saat gadis itu membuka matanya, tidak  hanya ia yang terkejut, aku pun bingung mengapa aku sudah berdiri sedekat ini darinya. Tatapannya yang menyelidikku membuatku salah tingkah.
            “Kenapa?” bibirnya berucap. Aku menggigit bibir.
Kenapa? Aku juga tidak tahu kenapa.
            “Kamu nggak kenal saya?” Ya Tuhan, aku merasa orang paling bodoh saat ini.
Tira mengerjap. Kemudian ia menggeleng. Melihat kepolosannya membuatku tertawa. Ia semakin bingung. Buru- buru aku menghentikan tawaku, takut membuatnya tersinggung.
            “Saya Hasta.” aku mengulurkan tanganku kehadapannya. Rombongan Mister Haris juga. Kita satu mobil loh, saya duduk di bangku depan.” Tira menjabat tanganku ragu. Tidak salah memang ia kebingungan seperti itu. Siapapun juga akan merasakan hal yang sama saat tiba- tiba seseorang yang tidak dikenal menghampiri bahkan sampai memperkenalkan diri.
            “Kamu nggak main sama anak- anak lain?” aku berusaha membuka percakapan.
Gadis itu menggeleng.
            “Kamu suka laut ya?” tanyaku lagi, belum menyerah. Ia tidak menjawab. Baiklah, sekarang aku menyerah berbicara dengannya. Sepertinya gadis itu tidak suka orang asing.
            Sementara Tira menikmati pemandangan di hadapannya, aku hanya diam. Walau gadis itu sama sekali tidak tertarik untuk berbicara denganku, mataku tetap tidak mau lepas darinya. Ia benar- benar mencandu. Dasar gila!
            “Kamu sendiri kenapa nggak main sama yang lain?” Tira berucap. Aku cukup terkejut saat mendengar gadis itu berbicara. Butuh beberapa detik untukku yakin kalau itu adalah suaranya.
            “Enak di sini.”
Karena bersamamu… bisik suara dari dasar hatiku. Tidak hanya mataku, hatiku pun sudah gila.
            Setengah lingkaran raksasa di bagian barat langit perlahan turun ke peraduan. Sinar jingganya yang menyiram gelombang air laut semakin lama mengurai dan tergantikan dengan sinar rembulan. Berdiri bersisian dengan Thetis-ku walau tanpa sepatah kata pun, rasanya sudah sangat indah. Aura yang melingkupinya, aku menikmatinya. Tiba- tiba aku terinat sesuatu. Sekarang aku sedang berada di pantai dan petang sudah mulai melingkupi langit. Buru- buru aku memutar tubuhku sammpai menghadap bibir pantai. Benar dugaanku. Air laut sudah menutupi sebagian besarnya. Pasang laut.
            “Sepertinya kita harus kembali.” ucapku hati- hati, takut mengusik kedamaian gadis di sampingku. Ia menoleh. Dengan daguku, kutunjukkan padanya air laut yang pasang. Kukira ia akan menerima ajakanku tapi ia hanya bergeming di tempatnya.
            “Ayo balik. Mau tidak mau kita harus berenang.” aku memberanikan diri untuk menggenggam tangannya. Dengan lembut aku menariknya ke ujung jembatan. Tira menurut saja. Perlahan aku menceburkan diri ke bibir pantai yang tertutupi air laut. Kemudian aku meraih jemarinya untuk membantunya turun. Aku tersentak saat merasakan tangannya sudah sedingin es. Jemarinya bergetar. Kulirik wajahnya, pucat.
            “Kamu nggak papa?” Tira tidak menjawab. Aku segera kembali ke atas jembatan.
            “Kamu kenapa?” tanyaku lagi. Tiba- tiba tubuh Tira goyah. Kalau aku tidak cepat menangkap tubuhnya, mungkin gadis itu sudah tercebur ke dalam air. Aku mulai panik. Kugenggam kedua bahunya yang kaku dan menuntunnya untuk duduk. Kusentuh kedua pipi Tira untuk mengangkat kepalanya sampai menatapku. Pipinya dingin. Saat kulihat kedua bola matanya yang menatapku kosong, aku menyadari ada yang salah dengan Thetis-ku.
            Aku langsung menarik tubuhnya ke dalam rengkuhanku.
“Katakan sesuatu, supaya saya bisa membantu kamu.” bisikku di telinganya. Jemarinya meremas kaus yang kukenakan. Bahunya berguncang. Kudengar ia terisak. Aku semakin tidak berdaya, bingung apa yang harus kulakukan.
            Sementara hari sudah semakin gelap. Perlahan kurasakan tubuh Tira yang kaku mulai mengendur. Kuangkat kepalanya lembut sampai menghadapku.
            “Maaf.” ucapnya lirih. Tira menarik tubuhnya dari rengkuhanku. Kedua tangannya memeluk lututnya yang tertekuk di depan dada. Rambut sebahunya tergerai acak- acakan menutupi sebagian wajah. Ia benar- benar tampak kacau.
            “Kamu... kenapa?”
“Aku takut laut.” tak kutemukan lagi binar di bola matanya. “Kelemahan terbesarku adalah laut.”
Aku tidak mengerti ucapannya. Dewi Thetis-ku takut laut? Bagaimana bisa? Ia Dewi Laut yang menawan. Apa laut memberinya kesan buruk sampai ia trauma?
“Tapi selama ini saya melihat kamu sangat menikmati laut.”
Tira tertawa satire. “Lebih tepatnya berusaha menikmati.” Pandangannya menerawang.
“Nggak semua yang tampak itu rupa asli kan?” tanyanya retoris. Kutemukan sendu di kedua matanya.
“Saya akan mendengarkan kalau kamu ingin mengatakannya.” ia langsung menoleh ke arahku. Matanya menatapku penuh selidik.
 “Kamu ingat 2004 lalu tepat empat hari sebelum penghujung tahun? Waktu itu aku sedang berlibur bersama kedua orangtua dan seorang kakak perempuanku di pesisir pantai Ulee Lheue.” Tira menghembuskan napas berat. “Semuanya terjadi begitu cepat. Gempa bumi, tsunami. Aku melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri bagaimana gelombang laut menggulung keluargaku.
Aku terpisah. Jasad mereka tidak ditemukan. Katanya mereka meninggal.” kulihat matanya mulai berkaca- kaca.
“Kamu nggak harus melanjutkannya.”
“Aku selalu bertanya- tanya.” selanya. “Kenapa harus aku yang tersisa sendiri? Kenapa Tuhan tidak membawaku bersama mereka? Nyatanya lebih baik mati dari pada hidup sendiri tanpa mereka.” dadanya naik turun. Garis- garis air mata mengalir di pipinya. Kurasa rentetan kalimatnya itu sudah lama terkubur di dalam dada. Dan saat ia mengatakannya, semuanya meledak.
Aku terdiam. Mungkin ia berusaha untuk mengusir ketakutannya dengan mencoba mendekati laut. Tapi ternyata usahanya kurang berhasil. Satu hari sangat tidak cukup untuk mengetahui segala hal tentang Dewi Thetis-ku itu.
*
Aku mengayuh sepedaku menyusuri Jalan Brawijaya menuju tempat kursusku di Jalan Kemuning. Pare siang ini seperti neraka, panasnya benar- benar membakar kulit. Sebenarnya siang- siang begini saat yang tepat untuk berlindung di bawah atap kamar kos sambil bercumbu dengan kasur. Tapi apa daya, aku kebagian jadwal kelas sekarang.
 “Tira!” baru saja aku memarkirkan sepeda, telingaku menangkap seruan itu.
Tira? Nama itu...
Aku segera mencari sumber suara barusan, berharap menemukan sosok yang namanya disebut tadi. Satu persatu kutelusuri wajah setiap orang di sana seperti orang frustasi. Tapi nihil. Sudah satu minggu sejak pertemuanku dengan Tira dan au tidak bertemu sosoknya lagi. Padahal setelah kembali ke Pare, aku langsung mencarinya. Kutanyakan kesetiap orang. Aku menghela napas panjang. Ada yang menusuk di ulu hatiku.
“Yang namanya Tira itu banyak, Ta.” komentar Gian saat sorenya aku kembali ke kosan dan menceritakan kejadian tadi siang.
“Tapi kan cuman di Pare, pasti itu dia.” aku bersikeras.
“Yaudah berarti itu dia.”
Aku tertegun. Pikiranku campur aduk. Seharusnya aku senang Thetis-ku masih di sini. Tapi ribuan pertanyaan mengawang di pikiranku.
Lalu kenapa kalau Tira masih di sini?
Apakah aku harus bertemu dengan gadis itu? Tapi apa yang akan aku lakukan kalau aku bertemu dengannya? Apa aku harus mengatakan kalau aku menyukainya?
Aku tertawa sendiri mendengar suara- suara dalam pikiranku. Bahkan aku sendiri masih bimbang apakah yang aku rasakan selama ini adalah cinta.
“Gi, gue bingung. Gue harus apa?”
Gian yang sedang sibuk dengan ponselnya melirikku sekilas. Mungkin dia kesal juga dengan tingkah bodohku ini.
            “Lo kuliah nggak serius, Ta? Bahasa Prancis itu romantis. Tapi buat ngerti apa yang lo rasa aja susah banget.”
            “Yang romantis itu kan bahasanya, bukan orangnya.”
            “Setidaknya lo laki- laki dan harusnya lo ngerti gimana cara memutuskan apa yang lo rasa.”
Aku bergeming. Memutuskan perasaanku? Mari kita cari tahu apa yang sedang kurasa.
            Aku senang berada di dekat Tira. Aku ingin mengikis kemisteriusannya. Segala hal tentangnya adalah harta karun bagiku. Dan aku ingin… memilikinya.
            Gian menepuk pahaku. Aku menoleh. Ia menatapku tajam.
            “You got crush on her? Go get her.” tak pernah aku melihat wajah Gian seserius itu. Butuh beberapa saat untukku mengolah ucapan Gian. Sekararang aku mengerti.
Je suis tombé en amour.
*
            “Nanti gue nyusul!”
            Malam ini tepat malam pergantian tahun. Mister Haris mengajak semua anak didiknya berkumpul di Cafe Bambu Town untuk merayakan malam tahun baru. Aku yang baru selesai kelas –entah apa yang dipikirkan tutor kelasku untuk tetap masuk kelas di malam tahun baru – membiarkan Gian berangkat lebih dulu sementara aku bersiap- siap. Sepanjang perjalanan menuju Bambu Town, aku berharap satu hal untuk tahun baruku kali ini. Kuharap aku bertemu Tira. Ya, aku benar- benar berharap.
            Aku melangkah memasuki cafe dengan nuansa remang- remang itu. Bambu- bambu menjadi tiang setiap bangunannya. Alunan lagu barat –karena ini adalah Kampung Inggris –mengiringi perbincangan setiap orang di sana. Seorang gadis dengan earphone putih melingkar di kepalanya yang juga baru masuk ke dalam cafe berjalan melewatiku.
Earphone putih?
            “Tira.” bibirku melontarkan satu nama dengan lembut. Gadis itu menghentikan langkahnya lalu berbalik.
Mataku membelalak. Benar, itu Tira. Dewi Thetis-ku. Yang setiap gerakannya seanggun ritme gelombang ombak laut. Yang senyumnya sesegar aroma asin garam laut. Yang suaranya seindah bisikan angin laut.
Untuk beberapa saat kami saling bersitatap.
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life
Baiklah, siapa orang yang iseng memutar suara Savage Garden yang menyanyikan I knew i loved you. Masa bodoh, yang terpenting sekarang adalah gadis yang berdiri lima langkah di hadapanku.
There's just no rhyme or reason
only this sense of completion
and in your eyes
Kata orang, Kampung Inggris adalah kota mimpi. Saat satu sama lain dari berbagai belahan pulau di Indonesia saling bertemu, itu adalah satu- satunya kesempatan. Karena setelah mereka kembali ke asal masing- masing, takkan ada pertemuan kedua. Pasangan yang menemukan cintanya di sini, tidak banyak yang bertahan sampai keduanya pergi dari Pare. Karena rasa cinta itu semu, sekedar mimpi pelengkap tidur.
Tapi tidak denganku. Aku bertemu Dewi Thetis-ku di sini. Dan sampai nanti, sampai aku kembali ke rumah, bahkan sampai aku mati aku akan tetap mencintainya. Tidak butuh alasan untuk mencintainya. Maka tak ada alasan juga untukku melepasnya, membiarkan ia pergi lagi.
A thousand angels dance around you
I am complete now that I found you
Dengan langkah perlahan aku mendekatinya. Tak sedetik pun mataku rela melepas bayangnya. Sudah kubilang ia mencandu. Bukan, bukan hanya mataku. Tapi segenap jiwaku pun mencandu Dewi Laut di hadapanku itu.
Kubawa bahunya ke dalam rengkuhanku. Tira tidak menolak. Tanganku mengusap rambutnya lembut. Rambut yang selalu menghalangiku saat melihat wajahnya. Kuguyur Dewi Thetis-ku dengan jutaan kerinduan selama satu minggu ini.
"Je t'aime." Bisikku. Aku tak berharap Tira megerti apa yang kuucapkan. Cukup untuk saat ini hanya sekedar membisikkan kata itu rasanya napasku kembali seutuhnya.

Suara ledakan kembang api di langit seirama dengan detak jantungku. Warna- warninya memayungi kami. Aku dan Dewi Thetis-ku. Terima kasih Afrodit, sudah mempertemukan kami.


Footnote:
Erebos: Dewa Kegelapan dalam Mitologi Yunani
Boreas: Dewa Angin Utara dalam Mitologi Yunani
Je suis tombé en amour: Aku telah jatuh cinta
Afrodit: Dewi Cinta dalam Mitologi Yunani






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bell’s Palsy: When I lost and find my own smile

Pillow Talk: Lukamu Tak Hanya Punyamu

Mencintai dengan Normal